
Wanita Pilihan CEO Bagian 36
Oleh Sept
Rate 18 +
Flashbacks On
Malam ketika Alexa memutuskan menceburkan diri ke dalam laut.
Pertengkaran Austin dan Alexa sejak tadi diperhatikan oleh Dinda. Gadis itu membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia terkejut ketika ada wanita lain yang mengelayut manja pada kakak iparnya.
"Baru menikah, apakah Alexa sudah dicampakan?" batin Dinda sambil terus mengamati dalam persembunyiannya itu.
Saat Alexa mulai mundur ke tepi, Dinda hampir berteriak. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat tubuh Alexa benar-benar terjun ke bawah. Panik, Dinda langsung berlari menjauh. Ia menuju kerumunan orang-orang.
"Ada apa denganmu? Seperti melihat hantu!" celetuk Eric.
Ya, pria itu juga ikut hadir dalam acara pernikahan Alexa. Rupanya Eric dan Dinda sudah baikan. Meski Eric masih menyimpan rasa pada Alexa, karena Alexa sudah menikah, terpaksa ia berbaikan lagi dengan Dinda.
Toh Dinda tidak buruk-buruk amat, keluarganya terpandang dan orang tua Eric juga sudah terlanjur suka dengan gadis itu. Tapi, malam ini ia melihat sesuatu yang berbeda. Wajah Dinda begitu pucat, dan tubuhnya bergetar.
"Hey ... aku bertanya padamu. Katakan! Apa berlayar seperti ini membuatmu mabuk laut? Ish ... jangan katakan kau mabuk!" cibir Eric.
Dinda masih shock. Melihat bagaimana tubuh Alexa jatuh ke laut, kepalanya masih belum bisa berpikir jernih. Hingga Eric membawanya ke dalam sebuah ruangan.
"Kalau sakit, istirahat saja."
Eric pikir Dinda sakit, apalagi dilihatnya kening gadis itu dipenuhi banyak bulir bening. Rupanya Dinda sampai mengeluarkan keringat dingin.
Tanpa curiga, Eric langsung menyuruh Dinda rebahan dan menyelimuti gadis itu. Beberapa saat kemudian, Dinda yang sudah menguasai diri. Perlahan ia menceritakan kejadian yang barusan ia lihat. Dengan terbata, gadis itu mengatakan bagaimana kronologi sang kakak bunuh diri.
Flashbacks End
"Brengsekkk!!!"
__ADS_1
Bruakkk
Eric menendang Austin hingga pria itu membentur kaki meja. Dan suara berisik itu terdengar oleh sekretaris Willi.
Merasa ada yang mengancam keselamatan sang atasan, Willi langsung menghajar balik Eric secara membabii buta. Tidak hanya itu, ia bahkan membuat Eric sampai babak belur. Tidak sebanding dengan Eric yang menghajar Austin.
"Apa yang kalian lakukan?"
Tuan Anggara datang bersama Dinda dan keluarga lainnya.
Ia menatap marah pada Austin dan juga Eric. Menantu dan calon mantunya itu hanya diam saja, keduanya terkapar dengan luka yang memenuhi tubuh mereka.
"Astaga Eric! Apa yang kamu lakuin?" Dinda mencoba membangunkan kekasihnya. Tapi Eric menepis tangan gadis itu. Dengan terseok ia berjalan, setelah melirik tajam ke arah Austin. Seolah mengatakan, semua belum berakhir.
***
Satu bulan kemudian
Di dalam sebuah mansion mewah, terlihat seorang pria duduk di lantai kamarnya. Tatapan hampa dan penampilan yang sangat berantakan.
PYARRR
Begitu Willi masuk dalam mansion mewah miliknya, Austin langsung melempar botol minuman yang sudah kosong ke arah pintu.
"Jangan masuk ke sini, sebelum kau temukan wanita itu!"
Austin tersenyum kecut, kemudian kembali minun lagi.
"Tapi, Tuan. Perusahaan sedang kacau. Bila Tuan tidak kembali, mungkin posisi Tuan akan digantikan oleh saudara Tuan."
"Keluar! Aku tidak mau mendengarnya lag!"
"Tapi ...!"
"KELUAR!"
__ADS_1
KLEK
Sekretaris Willi langsung pergi. Ia memijit pelipisnya, rasanya kepalanya mau pecah. Pusing memikirkan Austin yang sudah tidak memiliki semangat untuk apapun. Minum dan minum.
Begitulah nasib Austin setelah Alexa benar-benar hilang dalam hidupnya. Bahkan ketika Aurora menghubungi dirinya, Austin tidak peduli. Namun, ia selalu mentransfer sejumlah uang tiap bulan. Untuk Aurora dan bayi yang ada dalam perutnya.
***
Lima tahun kemudian
Butuh lima tahun bagi Austin untuk bisa berdiri kembali dan memimpin perusahaan. Dari luar mungkin ia terlihat sudah sembuh dan melupakan kejadian tragis lima tahun silam. Tapi, pria itu sebenarnya masih menyimpan luka yang mengangga. Hingga sampai menjaga jarak dengan yang namanya wanita. Austin sang Casanova, berakhir menjadi pria yang tak tersentuh.
Ia menengelamkan luka hatinya dengan menyibukan diri dalam pekerjaan. Memutus semua hubungan dengan Aurora, karena setelah dilakukan tes DNA, ternyata wanita itu hamil anak orang lain.
Tidak marah, Austin hanya melempar hasil tes DNA itu ke muka Aurora dan pergi dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Melepas semuanya. Merasa Aurora sudah berhianat, ia merasa kedudukan keduanya sama. Rasa bersalah pada Aurora di masa lalu ia anggap impas ketika wanita itu berani berhianat.
***
"Tuan, jadwal penerbangan kita masih dua jam lagi. Apa Tuan mau makan sebentar?"
Austin melambaikan tangan, matanya masih fokus pada layar tab yang ia pegang. Ia tidak lapar, lebih tepatnya napsuhhhh makannnya sudah lama hilang.
Keduanya pun kembali berjalan, mereka sedang berada di sebuah Bandara. Rencananya akan ada pertemuan penting dengan calon klien dari Canada.
Tidak jauh dari posisi Austin berada, seorang anak perempuan sedang merajuk pada ibunya.
"Nggak!!! Nggak mau Mama! Aku mau sama Papa. Pokoknya mau sama Papa!" Seorang anak perempuan merajuk dan menarik-narik dress mamanya.
Karena suara anak itu begitu lantang, Austin menoleh. Ia mengamati anak kecil itu. Dari belakang sepertinya manis, karena gaun cantik yang dikenakan. Dilihatnya anak itu merajuk dan menarik ujung dress mamanya.
"Papa harus kerja, Emily sama Mama, oke?"
"NO!" bibir anak itu mengerucut tanda tak setuju.
"Oke ... Oke! Mama telpon Papa."
__ADS_1
Wanita itu kemudian merogoh ponselnya, sambil menunggu telpon terjawab, ia menoleh ke sekitar. Tanpa sengaja matanya mengarah pada Austin yang saat itu sedang menatapnya. Bersambung.