
Wanita Pilihan CEO Bagian 73
Oleh Sept
Rate 18 +
"Coba kalian pikirkan lagi masak-masak ... Vita, kamu masih terlalu muda. Mama tidak mau kamu menyesal di kemudian hari."
Pevita melirik kanan kiri. Melihat mama dan Willi secara bergantian. Kemudian ia mulai ikut meyakinkan sang mama.
"Tidak semua pria seperti papa, Ma. Saat Mas Willi berani datang ke mari, jujur ... Vita masih tidak percaya. Tapi, Vita hargai niat baik Mas Willi. Katanya juga tidak baik menolak lamaran, Ma?" Pevita tersenyum kecil pada mamanya. Sebuah diplomasi halus tapi terkesan memaksa.
Mama Pevita langsung berpikir lagi, kemudian menatap Willi. Wanita itu akhirnya mengangguk. Benar kata Pevita, menolak lamaran itu tidak baik. Apalagi pria itu terlihat tidak terlalu buruk, meski usianya terpaut jauh dengan Pevita. Mau bagaimana lagi, bila jodoh sudah tiba.
Beberapa hari kemudian
Willi sedang berada di sebuah Bandara, ia sedang menunggu orang tuanya. Mama serta adik perempuannya.
"Niaaaa!" Willi melambaikan tangan saat melihat sang adik berjalan menuju ke arahnya.
"Mas ....!"
Tania langsung memeluk abangnya. Setelah pelukannya lepas, Willi pun mengecup punggung tangan sang mama.
"Sehat, Ma?"
Mamanya hanya tersenyum sembari mengusap pundak putranya. Setelah temu kangen, mereka kini naik mobil menuju apartment Willi.
"Beneran nih, Mas mau nikah? Kirain gak suka wanita!" celetuk Tania yang duduk di kursi belakang.
"Husst ... jangan asal, Nia!" Sang mama langsung memarahi putrinya itu.
"Habisnya, Ma. Masa kerja terus, bahkan pulang ke tanah kelahiran saja satu tahun sekali. Sibuk amat, sampai Nia kira lupa cari pasangan!" cibir adik perempuannya yang cerewet tersebut.
"Kamu ini ... nggak berubah. Makin cerewet!" balas Willi.
"Ish!" Bibir Tania langsung mengerucut.
***
Apartment Willi
"Rapi juga Mas tempat tinggalnya."
Tania berjalan ke sana ke mari memeriksa tiap sudut hunian sang kakak. Ia baru ke sana, karena memang Willi baru membelinya tidak lama ini. Hasil kerja rodi ngurusin Pak CEO.
"Terus kapan kita ke sana?" tanya sang mama sambil merapikan beberapa kebaya yang sudah ia bawa.
"Besok ya, Ma. Hari ini kalian istirahat saja."
"Hem ... baiklah kalau begitu."
Setelah istirahat seharian, akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Willi tetep bekerja, hanya saja ia pulang lebih awal. Saat Austin bertanya ada apa, Willi hanya bilang kalau ibunya datang. Tanpa tanya aneh-aneh, Austin pun tidak curiga.
***
Malam itu sesuai janjinya, Willi benar-benar membawa keluarganya ke rumah Pevita. Ia membawa sang Mama dan adik yang usianya masih jauh di atas Pevita. Sedangkan sang ayah, sudah tidak ada di dunia ini beberapa tahun silam karena memang sudah tua.
__ADS_1
Kediaman Pevita
Saat mereka akan turun dari mobil, Willi sempat mengatakan sesuatu pada keduanya.
"Ma ... jangan kaget ya nanti kalau ketemu calon istri Willi."
"Kenapa memangnya, Mas?" sahut Tania yang penasaran.
"Nanti kalian tahu sendiri!" Willi jadi geli sendiri. Siap-siap nanti ia akan diledek adik perempuannya itu.
Ting tung
Begitu mendengar suara bel rumah berbunyi, jantung Pevita jadi berdegup kencang. Ia mengatur napas, agar tidak gugup.
KLEK
Ketika sang mama membuka pintu, ia tambah berdebar. Apalagi saat Willi mulai masuk. Astaga! Jantungnya kembang-kempis. Padahal belum ada kata cinta yang meluncur dari bibir pria itu, tapi tidak tahu mengapa. Hati Pevita kok jadi ser-seran, jedak-jeduk tak menentu.
Sedangkan Tania, adik dari Willi itu memindai ujung rambut Pevita sampai kaki.
"Sepertinya kok masih bocah!" batin Tania sambil terus mengamati.
"Apa memang babyface?" Tania terus saja membatin calon iparnya yang terlihat masih fresh dan unyu tersebut.
Saat Tania sibuk mengamati sang ipar, yang diamati malah mendekat. Dengan sopan, Pevita menyapa tamu yang hanya segelintir itu. Menjabat tangan mereka, dan untuk calon ibu mertua, ia mengecup pungung tangan ibunda Willi dengan hangat.
Hampir satu jam kedua belah pihak berbincang, merencanakan masa depan putra putri mereka. Setelah dibicarakan bersama, akhirnya hari pernikahan sudah diputuskan.
Tidak lebih dari satu minggu, karena untuk mempersingkat waktu. Sebelum orang tua dan adiknya kembali. Maka pernikahan akan diadakan tujuh hari dari sekarang.
***
Beberapa hari kemudian
"Siapa yang nikah?" tanya Alexa yang kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Aku kira dia akan membujang selamanya."
"Siapa?" Alexa penasaran.
"Siapa lagi ... Willi!"
"Benarkah? Coba lihat!"
Alexa mengambil undangan dari tangan suaminya. Ia penasaran ingin melihatnya sendiri.
"Kalau masih gak enak badannya, kita nggak usah datang nggak apa-apa."
"Aku sudah sehat, nggak enak kalau nggak ngucapin selamat. Kita hutang banyak padanya, terutama aku. Aku dengar darinya. Setelah aku menghilang, orang yang paling direpotkan karena harus mengatasimu adalah Willi."
"Astaga! Ember juga itu si Willi."
"Kamu kacau sekali waktu itu, katanya."
"Apa lagi yang dia ceritakan?"
"BANYAK!"
__ADS_1
"Dasar mulut besar!" Austin tersenyum masam.
Alexa kemudian mendekati, dan memeluk pria itu dengan erat.
"Terima kasih ... terima kasih karena tidak mudah melupakanku!" Alexa menyadarkan kepalanya.
"Aku yang harus berterima kasih, terima kasih atas hadiah yang indah ini."
Austin melepas lengan Alexa, kemudian berjongkok di depan wanita tersebut. Mengecup perut Alexa dengan sayang. Kehamilan Alexa adalah hal paling indah dalam hidup keduanya.
***
D-Day
Di sebuah masjid di dekat rumah Pevita, acara ijab kabul akan segera dilakukan. Karena sang papa sebagai wali tidak bisa dihubungi, dan Pevita sudah mencari ke teman-teman sang papa, tapi tidak ada hasil. Akhirnya Pevita mencari pamannya yang tinggal jauh di kampung di hari sebelumnya.
Hanya sedikit tamu yang datang, karena untuk acara ijab kabul, mereka membatasi undangan. Baru nanti malam saat resepsi, mereka mengundang banyak tamu.
Saat Willi akan mengucap janji, terlihat sekali pria yang selalu tenang dan percaya diri itu sedikit gugup. Terlihat dari keringat dingin yang membasahi dahi calon pengantin pria tersebut.
Detik berikutnya
"Saya terima, nikah dan kawinnya Pevita Maharani binti Tri Atmaja dengan mas kawin sebesar 13 juta 11 ribu rupiah dibayar TUNAI."
"Bagaimana saksi?"
SAH
SAH
SAH
Suara sah menggema, memenuhi isi masjid yang bergaya timur tengah tersebut. Begitu sudah disahkan secara hukum dan agama, dengan malu-malu Pevita mengecup tangan suaminya. Begitu pula dengan Willi, pria yang masih merasa haru itu, menempelkan bibirnya pada kening Pevita yang dihiasi oleh pernak-pernik khas pengantin.
***
Hotel S Marriott
Semua terlihat sudah datang memenuhi gedung pernikahan Willi dan Pevita. Terlihat Willi sedang berbicara dengan beberapa tamu yang mengucapkan selamat padanya.
"Selamat, Will!" ucap Austin yang baru tiba sambil menggandeng lengan istrinya.
"Terima kasih sudah hadir, Tuan."
"Selamat ya!" Alexa memeluk sang pengantin wanita.
Ketika istrinya sedang memeluk sang pengantin, Austin memperhatikan istri baru sang sekretaris. Sepertinya ada yang aneh. Dengan iseng, ia berbisik di telinga sang mempelai pria.
"Astaga! Berapa usianya?" bisiknya pelan.
"17!" jawab Willi sambil berbisik pula dengan bangga.
"Ish!!!" Austin langsung tersenyum mengejek.
***
Setelah serangkain acara sudah dilewati satu persatu, akhirnya sampai juga untuk keduanya bisa istirahat dan tidur dengan tenang. Apakah akan langsung tidur? Bersambung.
__ADS_1