
Wanita Pilihan CEO Bagian 27
Oleh Sept
Rate 18 +
Apartment Aurora
Sebuah apartment yang harganya cukup lumayan menguras tabungan. Dan Wanita itu bisa puas menempati serta memilikinya selama mereka masih bersama. Ya, bersama tanpa ada ikatan antara keduanya. Dalam diri Austin, ia hanya merasa bertanggung jawab atas wanita tersebut.
Sedangkan Aurora, baginya pernikahan juga bukan target utama. Ia hanya ingin Austin dan uangnya. Bernanja pada pria itu dan menikmati uangnya seperti ATM berjalan.
Sikap Aurora yang penurut dan lembut di depan Austin, membuat pria itu bertahan. Setidaknya Aurora tidak menuntut untuk menikah. Berbeda sekali dengan sikap Alexa, Austin rasa wanita tersebut ingin hubungan yang lebih jelas. Dan pria itu masih belum tergerak hatinya untuk menikah.
***
Semalam Austin menginap di apartment Aurora, ia mabuk untuk melupakan Alexa. Begitu bangun dan membuka mata, ia berharap ada Alexa. Tapi kenyataan bicara lain. Yang ia lihat malah wanita lain.
"Sudah bangun?"
Aurora mengusap wajah Austin, tapi pria itu langsung menghindar.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, tidak mau cerita padaku?" tanya Aurora sambil menahan kesal. Bibirnya tersenyum tapi hatinya merutuki sikap Austin yang dingin.
Pria itu enggan menjawab, Austin langsung turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Cukup lama ia di dalam sana, membuat Aurora menanti dengan muka masam.
Drettt drettt drettt
Tiba-tiba ponsel Austin bergetar. Buru-buru Aurora meraih ponsel Austin sambil melirik ke arah kamar mandi.
"Mati kau!" Aurora menyeringai bagai penyihir jahat.
Sekalian membuat hubungan Austin dengan wanita lain hancur. Dengan sengaja ia mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Dia sedang mandi, katakan padaku ada apa? Nanti aku sampaikan."
__ADS_1
Tut Tut Tut
Telpon tersebut langsung terputus.
***
Kediaman keluarga Hutama. Dari luar, rumah itu terlihat sepi pagi ini. Semua sedang di luar.
Dinda pagi-pagi sudah pergi ke Bandara. Hari ini mamanya tiba, sedangkan Tuan Hutama juga sudah sibuk. Jam tujuh tadi sudah diantar sopir ke kantor. Katanya ada pertemuan penting dengan beberapa dewan direksi.
Di rumah yang besar dan luas itu kini hanya ada Alexa. Gadis itu sekarang sedang terisak di balik selimut. Gara-gara kangen Austin, ia menepis egonya. Alexa mencoba menghubungi pria itu duluan. Tapi apa yang terjadi, malah wanita lain yang mengangkat ponsel kekasihnya tersebut.
Sakit hati, Alexa melempar ponselnya ke dinding hingga pecah dan berserakan di atas lantai.
***
Apartment Aurora
Austin sudah rapi, ia keluar begitu saja dari apartment Aurora tanpa banyak bicara.
"Aku ada pertemuan pagi ini."
"Mau kopi?"
Austin menggeleng dan langsung meraih ponselnya kemudian pergi begitu saja.
"Sepertinya aku harus hamil, karena aku rasa kamu sudah goyah, Austin!" gumam Aurora ketika melihat Austin hilang di balik pintu.
***
Di dalam sebuah mobil, seorang wanita paruh baya dengan baju glamorous dan elegant mencengkram tas mahal yang ia pangku.
"Apa papamu tidak mengusir gadis itu?"
"Dinda nggak tahu, Ma. Sekarang aja Alexa masih di rumah. Artinya papa tidak masalah bila dia ada di rumah kita. Ma ... Mama harus usir dia. Dia sudah menggoda Eric lagi. Beberapa hari lalu mereka kembali bertemu."
__ADS_1
Mata nyonya besar itu langsung menajam, Dinda yang melihatnya sempat bergidik ngeri sendiri. Ternyata kalau marah, mamanya cukup mengerikan.
"Kita lihat nanti, sampai kapan anak tidak tahu diri itu tetap bertahan!" sorot matanya tajam menatap kosong ke depan.
***
Chitttt
Setelah menempuh perjalanan cukup lama karena macet, akhirnya Dinda dan sang mama tiba. Mereka langsung disambut hormat oleh penjaga di rumah itu.
Tap tap tap
"Mama ... pelan-pelan!" teriak Dinda saat melihat mamanya begitu cepat melangkah.
Tok tok tok
Tidak peduli, nyonya besar itu kelewat emosi. Melihat anak suaminya dengan pria lain kembali lagi ke rumahnya yang damai. Ia merasa sangat terusik.
KLEK
Alexa membuka pintu. Ia sama sekali tidak terkejut, ia sudah menduga ini semua akan terjadi.
"Pergi dari sini!" usir nyonya Tama. Istri tuan Anggara Hutama itu merasa geram, karena anak suaminya dengan wanita lain sudah kembali.
"Ini rumah Alexa juga," jawab Alexa dingin.
"KAU!!!" Nyonya Tama menunjuk wajah Alexa dengan emosional.
"Kalau Mama muak melihat Alexa, Mama bisa pergi lagi."
Alexa yang baru patah hati, menjadi berani. Hatinya sudah remuk, tidak bisa merasakan apapun lagi.
"Begitu caramu membalas kebaikan keluarga kami?" sentak Nyonya Tama dengan kasar dan suara lantang.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Bagaimana cara kalian membalas kebaikan IBUKU?" teriak Alexa kencang. Bersambung.
__ADS_1