Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
TAMAT


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 78


Oleh Sept


Rate 18 +


"Aku kurang cocok dengan sekretaris pengantimu!" celetuk Austin ketika Willi memutuskan re-sign beberapa bulan lalu.


"Nanti juga terbiasa," balas Willi.


"Dia lamban, dan sudahlah ... aku rasa sangat beruntung bekerja denganmu selama ini."


Willi menganggap itu sebagai pujian, ia memang harus re-sign. Karena ingin memiliki waktu lebih buat anaknya. Apalagi Pevita sedang hamil, bila terlalu fokus dengan pekerjaan Austin, bisa-bisa akan akan tetap lembur sampai tua.


"Aku doakan bisnismu berhasil."


"Terima kasih!"


Austin memeluk lengan Willi, keduanya makin akrab. Sudah seperti teman dekat.


"Ngobrolin apa kalian? Serius sekali?" Alexa datang dengan menggandeng tangan munggil putri keduanya.


"Biasa, obrolan pria!" jawab Austin dengan nada bercanda.


"Ish!"


Di belakang Alexa, datang Pevita dengan Bian yang habis mandi bola di dekat sana. Ketika sudah tiba di dekat sang papa, sebelum didahului oleh Kelly, Bian langsung duduk di pangkuan sang papa. Sambil menatap dan meledek pada Kelly.


Mereka berbincang santai dan saat hari mulai gelap, keduanya berpisah. Pulang ke kediaman masing-masing.


Di dalam mobil warna kuning limited edition, Austin menyetir sendiri. Sengaja ia tidak mau bawa sopir. Sambil mengemudi ia mengajak bicara Kelly yang duduk di belakang bersama istrinya. Lama-lama ia sudah mirip supir pribadi Alexa.


"Kell, apa bagusnya Om Willi. Kenapa kamu lengket banget sama Om?"


"Om ganteng!"

__ADS_1


"Astaga! Genitnya anak ini!" gumam Austin.


"Ganteng Papa ke mana-mana, Kell!" timpal Alexa yang membela suaminya. Mendengar pujian dari Alexa, selain hidung yang kembang-kempis, kepala Austin juga seperti mau terbang karena pujian.


"Tapi ... Om suka kasih coklat!"


"Nanti gigi Kelly sakit, makanya Papa jarang beliin!" kelit Austin.


"Tuh, kan. Baikan Om Willi," celetuk anak kecil dengan pipi cubby tersebut.


"Astaga!" Austin hanya bisa menepuk jidatnya.


"Sudah, Papa fokus nyetir saja."


Alexa memutus perdebatan anak dan ayah tersebut. Rasanya damai sekali, melihat Austin yang sayang pada putri-putrinya. Seolah membalas kasih sayang yang tidak pernah ia dapat sebelumnya.


Hidupnya kini sudah bahagia, suami yang mencintainya dengan tulus. Anak-anak yang sehat, cantik dan mengemaskan. Pokoknya keluarga yang sangat hangat. Sebuah keluarga yang tidak pernah ia rasakan kehangatannya saat ia kecil dulu.


Mengingat betapa indahnya hidupnya kini, Alexa malah melamun.


Flashbacks


"Tahan, sayang!"


Wajah Austin panik, Alexa mau melahirkan. Dan wanita itu memang merencanakan persalinan secara normal.


"Kita caesar saja, ya?" bujuk Austin yang tidak tega melihat Alexa merintihh menahan sakit, sudah beberapa jam. Tapi, masih saja pembukaan tiga.


"Nggak ... nggak apa-apa. Aku masih bisa tahan." Meski sudah mandi keringat, Alexa yakin bisa melahirkan anak pertamanya dengan normal. Karena memang tidak ada masalah pada kesehatannya.


Yang mau melahirkan adalah Alexa, tapi yang merasa ngilu dan sakit semua adalah Austin. Wajahnya panik, gelisah campur jadi satu. Tapi, ia tetap ngeyel mau tetap di dalam menemani istrinya lahiran.


Melihat ekpresi Austin, dokter sudah menyarankan di luar saja. Tapi pria itu memaksa. Pokoknya ia mau menemani Alexa, titik. Meskipun harus dengan resiko tidak tahan melihat darah dan menderitanya si Alexa.


"Tuan, lebih baik Tuan menunggu di luar."

__ADS_1


Dengan dingin Austin menatap tim medis.


"Saya tidak apa-apa! Silahkan lakukan pekerjaan kalian!"


Padahal perutnya sudah mulas, tapi Austin tahan dengan memasang muka dingin.


Setelah bergelut dengan rasa sakit serta ditemani sang suami yang mengengam tangannya erat sejak proses persalinan, akhirnya bayi seberat 3 kilo lebih sedikit itu keluar juga dari rahim Alexa.


Haru, Austin langsung mundur. Ia duduk di atas lantai. Merasakan sensasi tubuhnya yang lemas dan masih gemetar saat melihat tubuh si kecil yang sedang dibersihkan suster.


Sungguh moment yang sangat menakutkan, Austin sempat takut, bagaimana bila terjadi hal buruk di tengah persalinan Alexa. Namun, rupanya Tuhan Maha baik. Melancarkan semuanya untuk mereka.


Flashbacks End


Mansion Austin


"Sudah sampai!" seru Austin ketika mobil itu sudah tiba.


Dengan perhatian ia membuka pintu untuk anak dan istrinya. Sambil merangkul pundak Alexa yang mengendong putri keduanya, dan mengengam tangan Kelly, mereka masuk sama-sama. Memenuhi rumah mereka dengan kasih setulus hati. Karena, selama ini Alexa adalah pilihan hatinya.


Wanita Pilihan Austin, Wanita Pilihan CEO.


Happy Ending


Jangan panjang-panjag ya. Nanti ceritanya njelimet bin mumet. Hehehe ....


Terima kasih sudah membaca Wanita Pilihan CEO ....


Komentar kalian yang super unik dan mengemaskan, like, hadiah dan vote ... sangat berkesan bagi Sept. Matur suwun ...


Terima kasih banyak, sehat terus untuk pembaca di manapun kalian berada.


Sampai jumpa di novel berikutnya ...


"Mencari Daddy"

__ADS_1


Bye bye 👋


.......


__ADS_2