Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Omong Kosong


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 68


Oleh Sept


Rate 18 +


"Astaga!" Pevita menutup mulutnya sendiri saat membaca barisan huruf yang dikirim oleh teman kencan butanya itu.


Gadis itu tidak menyangka, Willi langsung menanyakan alamatnya. Setelah mengambil napas untuk menenangkan diri, Pevita buru-buru menulis alamat rumahnya.


Sadar bahwa sebentar lagi Willi akan datang, Vita langsung ke ruang tengah. Gadis itu dengan cepat membereskan meja. Banyak benda berserak di mana-mana.


"Ya ampun!"


Ia menghela napas panjang kemudian mulai beraksi. Mengambil kantong merah besar dan memasuk barang-barang yang tidak penting ke dalam kantong kresek besar tersebut.


"Sudah malam, beres-beres nanti saja!" seru wanita empat puluhan yang mendengar suara berisik di ruang tamu.


"Nggak apa-apa, Ma!"


"Sudahlah, sana tidur. Jangan terlalu kecapekan. Besok ada kuliah pagi, kan?"


"Iya, Ma. Mama aja yang tidur ... ini sudah selesai kok."


Mamanya Pevita pun balik lagi ke kamar, apalagi putri keduanya sedang merengek di dalam kamar.


Mendengar rengekan sang adik, wajah Pevita berubah sendu. Adiknya yang masih berusia lima tahun itu harus bolak-balik ke rumah sakit karena menderita kelainan jantung.


Itulah salah satu alasan Pevita ikut kencan buta, barangkali ketemu sugar Daddy. Tapi, ah sudahlah. Pevita pusing sendiri, sibuk memikirkan kuliah, biaya pendidikan, serta pengobatan sang adik, tiba-tiba saja jika dipikirkan semua jadi terasa semakin berat.


Beberapa saat kemudian


Ting tung


Bel rumahnya berbunyi, kebetulan sang mama sudah tidur. Jangan tanya papanya ke mana. Setelah kelahiran sang adik yang sering sakit-sakitan, papa Pevita jarang pulang. Entah ke mana rimbanya. Paling juga sebulan sekali mereka bertemu, itupun hanya sebentar. Selebihnya ia tidak tahu, di mana selama ini papanya tinggal.


Suara bel yang kembali berbunyi, membuat gadis itu terbangun dari lamunan. Dengan gugup ia melangkah menuju pintu.


KLEK

__ADS_1


Bukannya mempersilahkan masuk, Pevita malah langsung keluar dan menutup pintu rumahnya dari luar.


"Di sini saja, ya. Nggak enak, sudah malam."


"Ah ... iya."


Willi langsung duduk di teras rumah yang biasa saja itu. Matanya terlihat memindai sekeliling rumah Pevita. Ia sedang mengamati suasana di sana.


"Apa orang tuamu di rumah?" tanya Willi tanpa basa-basi.


"Sudah tidur!" jawab Pevita dengan cepat.


"Oh ...! Untuk yang tadi, maaf. Aku banyak pekerjaan."


"Hemm ... nggap apa-apa. Santai aja."


"Ehm ...!" Willi bingung cari bahan pembicaraan.


"Mau keluar sebentar?" tawar Willi kemudian.


Pevita mengatupkan bibir kemudian mengangguk. Keduanya pun berjalan menuju halaman. Mereka akan keluar sebentar sambil ngobrol.


***


Willi mengemudi dengan pelan, menyusuri jalanan kota yang sudah sepi.


"Em ... sudah makan?"


"Sudah!" jawab Pevita singkat.


"Aku belum, kita makan dulu!"


Tanpa menunggu respons dari gadis itu, Willi langsung mencari cafe yang masih buka.


"Aku nggak laper!" ucap Pevita.


"Aku laper, sudah! Duduk saja, temani aku makan," ucap Willi dengan sangat enteng. Membuat Pevita tidak bisa menolak. Lagian ia bete seharian ini, menemani pria ganteng itu makan sebentar saja pasti tidak masalah.


"Pesan apa, Mbak ... Mas."

__ADS_1


Pelayan datang dan sudah siap menulis pesanan keduanya.


Willi dengan cepat menyebutkan apa yang ingin ia makan. Dan itu banyak sekali. Ketika pesanan datang, Pevita dibuat heran.


"Mau dimakan semua?" tanya Pevita sembari melihat banyak menu di meja tersebut.


"Makanlah!"


"Aku nggak lapar."


"Ya sudah. Biarkan saja."


Willi makan dengan santai, tidak peduli dengan ekpresi Pevita. Tapi, lama-lama gadis itu tidak tahan juga. Apalagi makanan itu sangat mengugah selera. Tidak pakai acara malu-malu, ia langsung melahap apa saja yang ada di depannya.


"Good!!! Makan yang banyak, dan cepat besar!"


"Uhukkkk .... uhukkkk!" Pevita tersedak mendengar kalimat pria di depannya.


"Pelan-pelan! Aku tidak buru-buru." Willi menyodorkan segelas air putih pada Pevita.


"Aku suka type wanita yang berisi!"


Deg


Klunting


Pevita menjatuhkan garpu di atas piringnya sendiri. Sejak tadi kata-kata yang keluar dari bibir Willi terus saja membuat ia terkesiap. Terkejut hingga tak terkira.


"Aku suka pria matang!" cetus Pevita dengan sebal. Ia ingin membalas ucapan Willi yang dari tadi membuatnya jantungan.


"Good! Kita cocok!" celetuk Willi sembari menatap Pevita dengan intense.


"Aku masih mau kuliah!" ujar Pevita.


"Aku tunggu!"


"Aku juga mau kerja dulu!" ucap Pevita sekali lagi.


Suasana hening untuk sesaat.

__ADS_1


"Tidak! Yang itu tidak!"


Keduanya saling melempar pandangan, sebenarnya mereka membahas apa? Baik Willi dan Pevita, mereka hanya asal bicara. Bersambung.


__ADS_2