
Wanita Pilihan CEO Bagian 75
Oleh Sept
Rate 18 +
Skip!
"Ya ampun, aku malu banget!" batin Pevita saat Willi menatap tanpa berkedip.
Sementara Willi, ia berusaha untuk menahan diri agar tidak tergesa-gesa. Karena lawan tempurnya adalah bocah. Step by step, ia bertekat akan melakukan itu semua secara perlahan.
Bukkk
Pelan tapi pasti, Willi merebahkan tubuh Pevita di atas seprai yang penuh dengan kelopak mawar tersebut. Ia mengecup kening gadis itu, gadis yang akan ia buka segelnya. Gadis yang akan menghangatkan malamnya mulai dari sekarang.
"Jangan!" pekik Pevita ketika bibir Willi mulai ke bawah dan terus berkelana mengabsen seluruh tubuhnya.
"Kenapa?"
Pevita menggeleng dan merapatkan kakinya yang jenjang. Sedikit sentuhan Willi, mampu membuatnya mengeliat seperti cacing kepanasan.
Melihat pipi Pevita yang semakin merona, Willi tahu, bahwa istrinya sedang malu-malu kucing.
Klik
__ADS_1
Tangan Willi meraih stop kontak, mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur. Cahaya remang-remang sepertinya lebih syahdu, pikir Willi.
Seperti patung, tubuh Pevita kaku di bawah kungkungan pria tersebut. Padahal sudah minim cahaya, tapi seperti Pevita masih malu-malu saja.
"Mau minum?" tawar Willi yang melihat istrinya begitu tegang.
"Hemm!"
Willi pun meraih botol mineral di atas nakas, membukannya untuk Pevita dan memberikannya pada gadis tersebut.
Glek glek glek
Ini Pevita kehausan atau bagaimana? Mungkin demam panggung membuatnya menghabiskan hampir satu botol penuh. Setelah minum, Pevita mengulurkan botol itu. Tapi, Willi malah menarik lengannya. Merengkuh pinggang gadis tersebut.
Sejak tadi, Willi memperhatikan Pevita yang sedang minum, melihat gadis itu minum saja pikirannya sudah terbang ke mana-mana. Tidak bisa menahan lagi, pria itu langsung menyerang Pevita lagi.
"Jangan di situ! Geli!" Pevita mendorong kepala suamiku yang menyerangnya tanpa ampun.
Pria itu langsung meninggalkan bentol-bentol di lehernya.
"Vita gak kuat geli, Mas!" Tangannya kembali mendorong wajah Willi yang tersenyum saat mengerjai dirinya.
"Eh!" Gadis itu memekik, Pevita seketika hilang konsentarsinya. Willi membuat dirinya meremang sampai kehilangan fokus dan kendali. Apalagi saat pria itu mengarahkan kerisnya, makin gelisah lah hati Pevita.
"Tahan, ya!" bisik Willi sembari mengigit telinga istrinya. Tambah mengeliat saja si Pevita karena dikerjai suaminya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Kenapa sangat susah sekali?" pikir Willi yang sudah berusaha masuk tapi tidak bisa. Sedangkan Pevita, ia sudah memejamkan mata, siap menahan perih seperti cerita orang-orang.
Cukup lama, tapi malah rasa sakit yang katanya seperti daging dirobek itu tidak terasa juga. Penasaran, Pevita membuka matanya. Mau mengintip, sebenarnya apa yang terjadi. Dilihatnya wajah Willi yang nampak gelisah. Dahi pria itu dipenuhi bulir keringat. Ada apa dengan suaminya?
"Kenapa, Mas?"
"Tidak! Bukan apa-apa."
Pevita yang penasaran, ia mencoba melirik lagi. Kemudian ia terkekeh, gadis itu tidak bisa menahan tawanya malam itu. Masa keris Mpuh Gandring seperti terong yang habis digoreng ... lemes! Perutnya sampai sakit karena terus tertawa. Pevita terus saja tertawa, hingga air matanya keluar.
Melihat ditertawakan saat genting seperti ini, Willi langsung menghela napas panjang. Setelah itu kembali berusaha mengasah keris lagi.
Detik berikutnya, seketika tawa Pevita lenyap dari bibirnya yang basah, berganti dengan rasa perih yang menghujam pada pusat inti miliknya.
Ganti Willi yang kini tersenyum penuh kemenangan, "Rasakan!" batinnya.
Willi tadi sempat masam karena Pevita menertawakan dirinya. Hanya karena lembek, dan sekarang ... lihat! Apa istrinya bisa tertawa?
"Sakit!" lirih Pevita.
"Tahan!" bisik Willi sembari menikmati gerakannya.
"Nanti nggak sakit," sambungnya.
Dan benar saja, setelah mengeluh sakit, kini Pevita malah memejamkan matanya. Menikmati sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Inikah rasanya malam pertama?" batin Pevita yang mulai menikmati gerakan Willi.
"Aku mau keluar!" bisiknya lirih. Wajah Willi berubah serius dan tegang. Sembari mencengkram kain seprai, karena sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya keris Mpuh Gandring mengeluarkan bisanya. Bersambung. Skip! Wkwkwk