
Wanita Pilihan CEO Bagian 33
Oleh Sept
Rate 18 +
Tuan Anggara langsung membuang napas dengan kesal. Ingin rasanya ia menghajar pria yang duduk di depannya itu. Jawaban Austin seperti seolah menantang dirinya. Bagaimana pun juga, Alexa adalah putri kandungnya. Meski terlihat acuh, ia tetap ayahnya Alexa.
"Bila memang belum hamil, lakukan saja! Lebih cepat lebih baik," ucap tuan Anggara kemudian. Tentunya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Austin.
"Baik, Om. Semuanya akan segera kami urus."
"Tunggu!!!" sela Nyonya Tama yang masih kebakaran jengot.
Alexa langsung menatap mamanya dengan sebal. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan oleh ibu sambungnya itu?
"Kenapa buru-buru sekali, ini pernikahan dan sesuatu yang penting. Jangan sampai putus di jalan. Coba kalian pikirkan masak-masak. Dan lagi, bukankah kedua belah keluarga belum bertemu? Jangan buru-buru. Coba pikir lagi." Nyonya Tama memasang senyum semanis madu di depan Austin.
"Jangan kuatir, Tante. Nanti malam keluarga saya akan ke sini." Austin terlihat serius dengan apa yang ia ucapkan.
"Hah?" Nyonya Tama terngaga. Ia heran, apa bagusnya Alexa. Sampai si Austin bertekuk lutut pada anak yang selama ini bagai aib dalam keluarganya tersebut. Apa Austin tidak bisa melihat, gadis mana yang bagus untuk dijadikan pendamping hidup?
Ketika Nyonya Tama tidak terima, dan masih berusaha mengoyahkan niatan Austin. Beda lagi dengan suaminya, tuan Anggara.
"Baiklah, Om tunggu niat baik itu!" ujar tuan Anggara kemudian.
Sementara Alexa, gadis itu semakin tidak habis pikir. Apa kepala Austin semalam terbentur sesuatu? Kenapa pria itu berubah. Bukannya selama ini Austin tidak mau berkomitment, tidak pernah serius pada hubungan mereka selama ini.
Tapi sekarang apa yang terjadi, Austin datang ke rumah papanya. Meminta dengan gentle. Dan satu lagi, katanya nanti malam ia akan membawa keluarganya ke rumah ini. Ya ampun, semoga ini bukan mimpi.
Alexa kemudian melirik wajah di sebelahnya tersebut, ia sempat tersentak kaget saat tangan Austin menyentuh tangannya.
***
Setelah mengucapkan keinginannya, Austin pamit pada orang tua Alexa. Dan Alexa mengantar pria itu sampai halaman.
"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan tadi?" Alexa kembali memastikan. Karena ini terlihat seperti sesuatu yang sangat mustahil.
"Hemm ... kenapa? Bukannya kamu yang minta?"
"Jadi karena aku yang minta?" Sorot mata itu kembali menajam.
"Sebagian karena itu, sebagian karena hal lain."
"Terserah apa katamu!" ujar Alexa ketus.
"Kenapa kau jadi kesal? Harusnya senang, aku akan mengabulkan satu mimpimu!"
"Apa aku harus mengucapkan terima kasih?" sindir Alexa.
Austin lalu tersenyum tipis, kemudian mendekati Alexa sebelum masuk ke dalam mobil.
Cup
__ADS_1
Ia kecup pipi putih dan mulus tersebut, kemudian mengusap rambut Alexa.
"Sampai ketemu nanti malam!"
KLEK
Austin masuk mobil dan menutup pintunya. Alexa pun hanya bisa menatap kendaraan itu perlahan hilang di balik gerbang rumahnya.
***
"Kamu tahu siapa dia?"
Begitu masuk, Alexa langsung diintrogasi oleh sang papa.
"Memangnya kenapa?" tanya Alexa dengan acuh.
"Mungkin dia menerimamu, tapi Papa tidak yakin dengan keluarganya!" tutur tuan Anggara dengan terus terang.
"Yang menikah kami, bukan keluarganya!" jawab Alexa enteng.
Membuat tuan Anggara harus menahan napas dalam-dalam.
"Bagaimana kalau keluarga Austin menolak?"
"Apa karena status Alexa?" lama-lama Alexa geram. Karena ia merasa papanya belum apa-apa sudah mengerdilkan hatinya.
Seolah mengatakan pada Alexa, kalau ia harus sadar posisinya.
"Papa hanya tidak mau kamu sakit hati!"
Tap tap tap
Alexa langsung naik ke lantai atas, ia sangat kesal bila harus adu mulut dengan papanya itu.
***
Malam hari
Suasana kediaman keluarga Anggara terlihat tegang. Jamuan makan malam ini terasa seperti jamuan makan malam terakhir.
Tidak ada rona-rona kebahagian pada wajah masing-masing hadirin, yang ada hanya suasana yang syarat dengan ketegangan dan sangat kaku.
Flashbacks On
Kediaman Abraham's
"Apa kamu bilang? Alexa Hutama? Jangan buat Mama mati jantungan!"
Mama Austin menolak keras kemauan Austin yang akan menikahi Alexa. Mendengar namanya saja ia langsung ingat dengan keluarga Hutama yang terkenal dengan banyak scandal.
Keluarga itu memiliki jejak digital yang sangat buruk. Dan keluarga Austin tidak mau keluarga mereka terseret dengan keluarga tersebut.
"Kalau Mama tidak mau datang malam ini, Austin tidak masalah."
__ADS_1
"Austin!!!" sentak mama dengan emosi.
"Kalau mama ingin melihat Austin sering pulang ke rumah ini, caranya cukup muda!"
Mama Austin tidak bisa berkata-kata, putranya itu memang tidak pernah mendengar apa yang ia ucapkan.
Setelah memberi tahu pada mamanya, dan berhasil memaksakan kehendak pada wanita paruh baya tersebut. Kini ia menemui papanya.
"Baguslah! Berhenti main-main!"
Hanya itu yang papanya katakan. Tuan Abraham sama sekali tidak keberatan dengan siapa putranya menikah. Ia juga sudah lelah melihat Austin berpetualang tanpa tujuan. Persis dengan dia dulu saat masih muda. Mereka itu sebelas duabelas, sama saja.
Flashbacks End
***
"Kapan tanggal pernikahannya?" tanya tuan Abraham tiba-tiba di tengah acara jamuan makan malam.
Uhuk uhukkkk
Nyonya Tama hampir tersedak. Apa ia tidak salah dengar? Mengapa, keluarga Austin mau saja melihat putra mereka menikah dengan gadis seperti Alexa?
"Secepatnya ... iya kan, Alexa?" ucap Austin sembari menatap Alexa. Membuat Nyonya Tama, Dinda dan calon mertua Alexa memasang muka masam.
Alexa menelan ludah, kemudian mengangguk.
Ketika acara jamuan makan malam selesai, keluarga Abraham pamit. Mereka basa-basi, saling melempar senyum dengan hati yang merutuk.
***
Seminggu kemudian, di sebuah kapal pesiar yang sedang berlayar di tengah laut lepas. Sesekali ombak datang dan pergi, menyisahkan buih hingga ke tepi.
Hari ini bagai mimpi bagi gadis cantik seperti Alexa, dengan gaun pengantin yang elegant, ia berjalan menuju sebuah ruangan dengan karpet merah yang terbentang di depannya. Alexa berjalan sambil memegang erat lengan papanya. Hari ini, Austin akan mengucap janji di depan banyak tamu undangan.
Dari jauh, Austin dapat melihat. Gadis itu mulai mendekat, kemudian duduk di sebelahnya. Setelah semua sudah siap, dengan lantang Austin mengucap janji sucinya. Singkat, tapi membekas di hati Alexa.
Setelah mengucap janji sumpah sehidup semati, kini keduanya berdansa dengan sorot lampu yang mengarah pada mereka.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" bisik Austin dan terdengar dingin.
Alexa hanya diam, karena semua ini masih seperti mimpi.
"Jangan senang dulu," Austin kembali berbisik.
Alexa semakin curiga, harusnya ia sudah waspada dari awal. Perlahan ia mendongak, menatap ke dalam mata Austin.
"Pernikahan ini ... ini mamumu, hanya mamumu."
Alexa mundur, tapi Austin langsung menarik dan merengkuh pinggang Alexa dengan erat.
"Jangan macan-macam!" bisik Austin kembali.
"Mau ke mana? Hem ... kau tidak bisa lari lagi dariku!" tambah Austin dengan sorot mata tajam dan mengancam.
__ADS_1
Alexa langsung pucat, ia terlihat begitu gelisah. Bersambung.