
Wanita Pilihan CEO Bagian 31
Oleh Sept
Rate 18 +
Baru membuka mata, tapi Alexa sudah harus berpikir keras. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Austin. Sejak kapan pria dingin itu menjadi lunak? Bahkan Austin tidak marah saat semalam ia mabuk. Pria itu malah melontarkan candaan yang membuat Alexa harus kembali bersikap waspada.
"Apa ini tempat tinggalmu?" Terdengar nadanya acuh. Itu karena Alexa masih marah. Kemarin Austin bermalam di tempat wanita lain.
"Hem ... bagaimana? Apa kau suka?"
Austin memperhatikan wajah Alexa dengan intense, dilihatnya mata gadis itu sembab karena menangis semalam. Ingin ia mengusap rambut gadis itu. Namun, urung ia lakukan. Pria itu belum melunak sepenuhnya. Apalagi setelah mendengar ucapan Alexa selanjutnya.
"Suka atau tidak, tidak ada hubungannya dengaku." Alexa langsung menurunkan sebelah kakinya. Ia berniat pergi dari tempat itu.
"Mau ke mana? Bersihkan tubuhmu dulu," cegah Austin.
"Tidak usah, terima kasih," tolak Alexa dingin.
"Lexa!!!"
__ADS_1
Alexa seolah menutup kedua telinganya, ia tidak mau mendengar suara pria itu. Alexa sakit hati karena kemarin Austin sepertinya bersama wanita lain. Sadar atau tidak, cemburu sudah berhasil membelengu hati gadis tersebut.
"Berani melangkah, kita mungkin tidak akan bertemu lagi," ancam Austin. Ya, jurus terakhir hanya mengancam gadis tersebut.
Sayang, ancaman itu sudah tidak mempan lagi. Alexa yang sudah sadar sepenuhnya, memilih pergi.
"Ish!" Kevin mendesis kesal. Ia kemudian mengikuti Alexa yang keluar dari mansion mewah miliknya.
Dua orang itu berjalan, menyusuri jalan menuju gerbang utama dengan perasaan sama gusarnya.
"Mau ke mana? Baiklah! Aku antar!" Austin kali ini mengalah. Kalau tidak mengingat bagaimana sikap Alexa semalam, ia enggan bermanis-manis dan bersikap lunak.
"Aku bisa pulang sendiri, masuklah!" titah Alexa yang tidak suka diikuti sejak tadi.
"Ada apa denganmu!" Austin langsung meraih lengan gadis itu. Meski Alexa mencoba melepaskan, tapi cengkraman Austin terlalu kuat.
"Cukup! Kita akhiri permainan gila ini. Pergi saja dengan wanita itu. Dan jangan sentuh aku!"
Setttttt
Alexa menghempaskan lengannya, membuat pegangan Austin langsung lepas. Setelah berhasil melepaskan diri, Alexa berjalan dengan cepat. Ia sudah muak dengan pria seperti Austin. Rasanya sudah cukup mengharap pada pria Casanova tersebut. Hanya makan hati dan nanti mati sendiri karena harus menahan sakit hati.
__ADS_1
Melihat Alexa yang sepertinya tidak patuh lagi, Austin lantas mulai berpikir. Dan tiba-tiba sebuah pernyataan keluar begitu saja dari mulutnya.
"Baiklah!!! .... berhenti!!! Aku turuti apa maumu! Tetap di situ!" teriak Austin bersama dengan angin yang berhembus kencang.
Alexa bergeming, ia tetap melangkah meski Austin mau mengancam lagi atau apapun itu. Ia benar-benar sudah teramat lelah dengan hubungan mereka yang rumit ini.
"Kau mau menikah, bukan? Oke! Kita menikah!!!" suara Austin terdengar sangat lantang. Hingga begitu jelas di telinga gadis tersebut.
"Apa dia sudah gila?" batin Alexa. Ia rasa Austin sudah tidak waras. Tidak mau termakan bujuk rayu yang semu. Gadis tersebut kembali melangkah dan menjauh meninggalkan Austin.
Tap tap tap
Semakin lama derap langkah itu semakin cepat di balik tubuhnya, dan tiba-tiba ....
Setttttt
Pria itu menarik tangan Alexa, merengkuh pinggang Alexa dengan cepat.
"Kau benar-benar bukan gadis penurut lagi, bukankah aku bilang, kita akan menikah?" Austin menatap dalam mata Alexa.
"Kau pikir aku percaya?" Bersambung.
__ADS_1