
Wanita Pilihan CEO Bagian 50
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ma ...!"
Suara lembut nan manja itu muncul dari balik tubuh tegap David. Gadis kecil dengan tatapan manja itu mengelayut manja pada lengan Alexa.
Melihat sang putri begitu sayang pada Alexa, hati David semakin teriris. Jujur, ia sangat kecewa. Lima tahun bersama Alexa, menjaga wanita itu dengan tulus selama ini, tapi tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka.
Dan saat Alexa hanya dibawa Austin untuk waktu yang sebentar, mengapa Lexa langsung hamil? Kehamilan Alexa sungguh membuat David terpukul. Rasanya yang tak terbalas harus berakhir begitu saja. Sempat ia kecewa, betapa mudahnya Alexa memberikan tubuhnya pada Austin. Sakit hati, David memilih meninggalkan kamar Alexa. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
***
Mansion mewah milik Austin
Seperti merawat anak kecil, Willi harus mengurus bayi besar tersebut. Austin sudah tergeletak di sofa, rambut acak-acakn, pakaian berantakan, dan bau minuman yang menyengat.
Sebagai satu-satunya orang kepercayaan Austin selama ini, Willi pun membereskan segalanya. Merapikan kekacauan yang Austin lakukan. Setelah membuang semua botol-botol bekas di atas meja, kini ia menyadarkan bosnya tersebut.
"Tuan ...!"
"Tuan Austin!"
"Tuan ....!"
Willi menghela napas dengan, kemudian membantu Austin duduk dengan benar.
"Apa bagusnya pria itu?"
Terdengar suara lirih dari pria yang keadaannya sangat kacau tersebut. Austin sedang merancau di tengah mabuknya.
"Heiiii ... aku tanya padamu! Apa bagusnya pria itu? Mengapa Lexa lebih memilihnya? Mengapa dia lebih memilihnya?" Austin terlihat tidak bisa menerima kenyataan bahwa Alexa lebih memilih David. Istrinya lebih nyaman menangis dalam pelukan pria lain. Bayang-bayang mereka berdua, terus saja muncul dalam matanya. Austin merasa kalah, ia benar-benar sudah kalah.
Melihat betapa tersiksanya sang atasan, Willi menelpon seseorang.
"Apa sudah kalian temukan?" ucap Willi pada seseorang di telpon.
"Baiklah," sambung Willi sembari memasukkan ponsel dalam saku jasnya.
__ADS_1
Tut Tut Tut
Telpon pun terputus.
***
Esok harinya
Pagi yang cerah, Austin mengerjap tak kala merasakan sentuhan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Korden kamar sudah terbuka lebar, ini pasti ulah Willi.
"Sudah bangun, Tuan?"
Tiba-tiba babysitter Austin itu mendadak muncul. Membuat Austin terkejut.
"Jam berapa ini? Kau tidur di sini?" tanya Austin sambil memegangi kepalanya yang terasa amat pusing.
Willi hanya garuk-garuk kepala, mau bagaimana lagi. Ia kan tipe asisten yang sangat setia.
"Jangan sering-sering menginap di sini!" cetus Austin ketika menuruni ranjang.
Beberapa saat kemudian
"Apa-apaan ini?"
Austin hanya melirik, ia sama sekali tidak berselera.
"Tuan harus makan, karena butuh tenaga ekstra untuk menjemput nona Alexa."
Begitu nama Alexa disebut, Austin langsung berhenti. Ia menatap Willi dengan pandangan penuh tanya.
"Apa kau sudah menemukannya?"
Willi mengangguk pelan.
Wajah Austin langsung berubah. Namun kemudian berubah lagi menjadi masam. Ia tersenyum getir, percuma. Toh Alexa tidak akan mau kembali padanya.
Dengan langkah gontai, Austin meninggalkan meja makan dan Willi yang sudah menunggu dirinya sejak tadi.
"Tuan ...!" panggil Willi yang merasa heran. Bukannya ini adalah kabar baik? Mengapa Austin sama sekali tidak tertarik. Bahkan terlihat acuh dan tidak bersemangat.
"Lupakan!" sahut Austin kemudian meneruskan langkahnya.
__ADS_1
***
Grand Villages Villa
Alexa terlihat semakin hari semakin pucat. Sudah beberapa hari ini ia mengalami mual muntah yang sangat parah. Setiap apa yang masuk dalam mulutnya, pasti akan ia muntahkan beberapa saat kemudian.
Mau tidak mau, David membawa Alexa ke sebuah rumah sakit. Alexa harus rawat inap dan istirahat total karena tubuhnya yang lemah.
Semakin hari bukannya membaik, Alexa malah tambah ngedrop. Khawatir, setelah seminggu dirawat tanpa ada perubahan, akhirnya Alexa dirujuk ke sebuah rumah sakit yang lebih besar di tengah kota.
***
Mansion milik Austin
Austin memegangi perutnya yang terasa nyeri, seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Willi yang menyaksikan sang atasan menahan sakit. Ia langsung bergegas menghancurkan Austin.
"Tuan ... Tuan baik-baik saja?" tanya Willi dengan cemas.
"Singkirkan tanganmu!"
Austin tidak mau dipapah, ia berniat berdiri sendiri. Tapi, baru dua langkah ia malah ambruk.
"Tuan!!!"
Dengan bantuan penjaga di mansion tersebut, Willi membawa Austin ke dalam mobil. Saat itu juga ia membawa Austin yang pingsan menuju rumah sakit.
***
Sekeras apapun mencoba menghindar dari takdir, bila Tuhan sudah memutuskan bertemu, maka yang terpisah jauh pun pasti akan bertemu.
Lobby rumah sakit
Mobil Alexa datang bersamaan dengan mobil yang ditumpangi oleh Austin. Keduanya langsung didorong menuju UGD. Di sisi Alexa, ada David yang terlihat gelisah. Sedangkan di samping Austin, ada sekretarisnya yang dengan setia menemani pria tersebut.
David dan Willi saling melempar pandangan, setelah itu keduanya menatap masing-masing orang yang mereka bawa.
KLEK
Pintu UGD tertutup
Bersambung.
__ADS_1