Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
The Jones


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 63


Oleh Sept


Rate 18 +


"Sayang ... airnya sudah siap!" teriak Austin dari kamar mandi.


Jelas saja Alexa mengeryitkan dahi, kenapa harus teriak?


KLEK


"Apa sudah siap? ... Astagaaa!" Alexa langsung berbalik.


"Ayo masuk ke sini!" seru Austin dengan begitu tenang.


"Aku keluar dulu!"


"Berhenti!"


"Ya ampun, katanya udah siap. Mana aku tahu kalau kamunya mau mandi duluan."


"Ish ... ayo masuk sini. Masih ada ruang!" Austin menyeringai.


Pria yang sedang berendam di bathtub itu sedang menunggu Alexa berbalik.


"Enggak. Gantian aja."


Alexa melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Jalan sendiri atau aku gendong ke mari?" Austin memberikan pilihan dan terdengar sedikit mengancam.


Alexa menghela napas panjang. Dengan ragu-ragu ia mendekat ke bathtub yang sudah terisi orang tersebut.


"Lalu aku ngapain?"


"Sini ... masuk sini."


"Enggak, Austin! Itu sangat sempit!" tolak Alexa.


"Aku pangku!"


Alexa dapat melihat sorot mata sang suami yang sudah berbinar-binar.


"Ya ampun!" batin Alexa tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya, salah makan apa si Austin ini. Mengapa menjadi sangat aggressive sekali?


BYURRR


***


Alexa dan Austin sudah selesai mandi. Keduanya masih memakai handuk kimono. Alexa sendiri sedang duduk di meja rias, ia kini mengeringkan rambut memakai handuk kecil.


"Sebentar, aku carikan hair dryer."


Austin membuka laci dan lemari, tidak ada benda itu sama sekali.


"Mungkin nggak ada," sela Alexa yang melihat suaminya mencari tapi tak ketemu juga.


"Ada, aku ingat memilikinya."

__ADS_1


"Udah, nggak apa-apa. Udah lebih kering kok." Alexa padahal gak masalah gak ngeringin rambut pakai alat itu. Toh pakai kain handuk bersih juga udah lumayan.


"Bentar, aku tanyakan Willi. Dia pasti tahu di mana benda itu."


Austin pun langsung meraih ponsel yang ia letaknya di atas nakas. Selang beberapa saat, telpon Austin sudah tersambung. Dari pada panggilan suara, Austin ternyata melakukan video call.


"Will, hair dryer ada di mana?" tanya Austin sembari menatap Willi yang juga menatapnya di depan layar.


"Hair dryer?" Willi mengulang perkataan Austin. Dahinya berkerut. Kenapa bukan tanya harga saham anjlok apa tidak, atau tanya hal lain. Ini malah tanya alat pengering rambut. Seketika, otak Willi langsung menjadi cerdas. Dengan masam ia mengutuk atasannya tersebut di dalam hati. Kenapa bertanya pengering rambut pada dirinya? Sungguh ia tidak mau ikut campur mengenai perkara dua mahluk itu kalau ke ranah pribadi.


Tidak jauh dari sana, Alexa malah mendekat. "Bagaimana? Di mana katanya?" bisiknya sambil menatap ponsel Austin. Ia Kira suaminya melakukan panggilan suara. Tak tahunya malah video call. Mana Alexa tahu? Ia tadi santai saja, tidak sadar wajahnya tertangkap di dalam layar.


Keduanya yang masih memakai handuk kimono, membuat Willi makin kram otak.


"Ada di atas lemari paling ujung. Sudah, Tuan. Saya ada urusan sebentar!"


Klek


Tut Tut Tut


Willi pun mematikan ponselnya dengan kesal, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya ia memang harus mencari pasangan.


Setelah berpikir sejenak, dengan cepat ia menyalakan ponselnya lagi, mengunduh aplikasi kencan buta.


Klunting


Klunting


Klunting

__ADS_1


Baru diunduh beberapa saat, dan baru saja mengentry fotonya dan data diri, ternyata ada beberapa DM yang langsung masuk. Tanpa sadar, sudut bibir Jones itu terangkat.


Ada empat akun yang kini chatting dengannya, padahal kerjaan masih numpuk. Tapi Willi malah asik membalas chat dari teman on-linenya itu. Seolah kejar setoran, Willi PDKT secara on-line pada ke empat wanita yang berbeda sekaligus. Bersambung.


__ADS_2