
Wanita Pilihan CEO Bagian 30
Oleh Sept
Rate 18 +
Di sebuah tempat, mansion mewah milik Austin yang dikelilingi pagar yang menjulang tinggi. Malam ini ia membawa Alexa ke tempat tinggalnya. Bukan villa, bukan apartment atau hotel. Ia membawa Alexa ke hunian mewahnya.
"Lepaskan!" Alexa menepis lengan Austin saat pria itu memapah tubuhnya.
Malam ini adalah malam di mana Alexa hanya ingin mengeluarkan semua rasa sakit hatinya. Sejak tadi gadis itu sudah memukuli Austin berkali-kali.
"Pria brengsekkk! Apa maumu? Hem!!!"
Alexa yang lelah dengan semua yang ada, melampiaskan semua kekesalannya pada pria di depannya. Austin, pria paling ia benci namun juga ia harapkan hatinya. Sementara itu, Austin hanya diam saja ketika Alexa terus memukul tubuhnya. Ia membiarkan wanita tersebut melakukan apa saja kepada dirinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Austin saat Alexa sudah tenang. Pria tersebut menyentuh pundak Alexa, tapi Alexa lalu mundur beberapa langkah.
"Jangan sentuh aku!"
"Jangan mulai lagi!" desis Austin.
"Aku bodoh ... sangat-sangat bodoh karena menyukai pria sepertimu!" Alexa kembali merancau. Dan Austin memperhatikan hal itu dengan begitu tenang.
"Kenapa kau menyukaiku?" pancing Austin.
"Karena bodoh!!!" Alexa menundukkan wajahnya, ia tersenyum getir di tengah rasa mabuk beratnya.
"Bohong ... kau hanya ingin uangku, bukan?" tatap Austin penuh selidik. Ia merasa Alexa sama saja dengan wanita di luar sana. Menargetkan dirinya kemudian menempel bagai benalu.
"Kamu benar, aku memang suka uangmu ... statusmu ...!" Alexa kemudian terkekeh. Ia tertawa dan membuat Austin sakit hati setelah mendengar jawaban Alexa.
"Lalu kenapa pergi? Bukankah kamu baru sedikit mendapat fasilitas dariku ... apa ada yang lain?"
__ADS_1
"Kamu brengsekkk ... alasanku pergi adalah kamu laki-laki brengsekkk. Pria brengsekkk ... setelah tidur denganku, kau pergi ke pelukan wanita lain ... heiii brengsekkk!!"
BUGH
"Ish!!!"
Austin meringis kesakitan. Alexa menendangnya tepat pada sasaran.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Austin sambil setengah membungkuk. Ia memegangi bagian tubuhnya yang terasa ngilu akibat tendangan Alexa.
"Astaga ... kamu kenapa? Ya ampun!" Alexa memasang muka panik. "Tapi ... pria sepertimu memang pantas mendapatkan itu!" sambung Alexa. Kini matanya menatap kosong ke arah Austin yang masih menikmati rasa nyerinya.
Dengan kesal, Austin membuang napas kasar. Kemudian menarik lengan Alexa untuk ikut bersamanya.
"Lepasin!" Alexa mencoba meronta. Tapi Pria itu mencengkram lengannya dengan kuat.
Bukkkkk
"Siapa yang mengijinkanmu mabuk, hah?" Kali ini Austin terlihat sangat marah.
"Apa hakmu ... pergi dariku!" Alexa mencoba kembali menendang, tapi Austin mencengkram kedua kakinya. Kemudian duduk di atas gadis tersebut. Austin menguncinya agar Alexa tidak banyak tingkah.
"Dengarkan aku baik-baik, sekali lagi kamu mabuk. Hukuman dariku tidak main-main!"
Austin menyentuh rahang Alexa dengan kuat, membuat gadis itu tetap menatapnya meski Alexa ingin berpaling. Suasana pun menjadi hening dan keduanya saling menatap penuh dendam.
Bukkk
Ganti Austin yang melempar tubuhnya sendiri tepat di sebelah Alexa. Dilihatnya Alexa sudah sedikit tenang, sudah tidak merancau tak karuan. Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran lembut. Alexa yang kelelahan sehabis marah-marah kini sudah tertidur lelap.
Austin membelai pipi Alexa, kemudian menarik gadis itu dalam pelukannya. Mereka kembali tidur di atas ranjang yang sama.
***
__ADS_1
Alexa terkejut saat membuka mata dan menyadari ada di tempat asing. Ia memindai seluruh ruangan.
"Di mana ini?" batin Alexa sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Sudah bangun rupanya?" tanya Austin dengan wajah datar.
"Di mana ini?"
"Rumah ..."
"Rumah siapa?"
"Rumah kita!"
Alexa mendongak menatap Austin dengan ekspresi tak percaya.
Flashbacks
Tengah malam Alexa mengigau. Kemudian menangis dalam tidurnya.
"Kenapa menangis?" tanya Austin yang kala itu terjaga karena mendengar isak tangis dari gadis yang tidur di sebelahnya.
Alexa tidak menjawab, hanya bulir bening yang terus menetes dari sudut matanya yang terpejam.
"Alexa, apa yang kamu tangisi sebenarnya?" Austin mengusap pipi gadis itu dengan iba. Lama-lama ia tidak tega melihat wanita itu malah menangis dalam tidurnya.
Entah hatinya tersentuh atau apa, yang jelas wajah Austin malam itu terlihat sendu. Kemudi dipeluknya Alexa erat-erat. Kemudian terdengar Alexa mengucapkan sesuatu.
Alexa yang merasakan tubuhnya semakin hangat mulai bersuara.
"Ayo menikah!" Terdengar suara itu sangat lirih, dan membuat Austin tertegun untuk waktu yang cukup lama.
Flashbacks End. Bersambung.
__ADS_1