
Wanita Pilihan CEO Bagian 76
Oleh Sept
Rate 18 +
Pagi itu Pevita terlihat tersiksa, saat berjalan ke kamar mandi, terasa jaraknya bertambah jauh saja. Itu karena jalannya yang lamban seperti keong, pelan dan hati-hati sekali dalam melangkah. Itu semua berkat Willi, ia mengerjai Pevita semalaman. Apalagi menjelang pagi, Willi kembali berulah. Ya, malam pertama mereka dihabiskan sebanyak dua ronde. Dua saja sudah cukup membuat badan Pevita nyeri di mana-mana.
***
Ketika matahari sudah mulai meninggi, Willi yang sudah mandi dan rapi mengajak Pevita keluar kamar. Maksudnya biar Pevita tidak bosan.
"Aku di sini saja, Ma."
"Loh, kenapa? Nggak bosan? Apa mau itu lagi?" tanya Willi dengan senyum menggoda.
"Perih yang semalam saja belum hilang!" celetuk Pevita dan itu membuat Willi terkekeh.
"Namanya juga pertama, nanti kalau lama-lama sudah terbiasa, bakalan nggak sakit lagi."
"Hemm ...!"
"Mau Mas cariin obat?"
"Nggak ... nggak usah," tolak Pevita dengan spontan.
"Ya sudah, kita nonton acara TV saja kalau begitu."
Bukkk
Willi merebahkan tubuhnya di kasur yang super empuk. Kemudian menarik tubuh Pevita, nonton TV sambil pelukan. Begitulah pengantin baru. Nempel terus sampai tiga hari tiga malam. Ketika menginjak hari ketiga, Willi membawa pulang Pevita ke apartment miliknya.
__ADS_1
***
Ketika Willi dan Pevita sedang menikmati manis madu honeymoon mereka, ada hati yang sangat gelisah.
Kediaman keluarga Hutama
Waktu itu langit sudah gelap, Dinda yang mengundur hari pernikahan karena kematian sang papa, termenung sendiri di kamarnya. Ia penasaran, kalau tuan Hutama bukan papanya, lalu siapa papanya yang asli? Bertanya pada mamanya, wanita itu malah mengunci rapat mulutnya.
Di ruangan lain, nyonya Tama sedang menelpon seseorang.
"Tua bangka itu tidak meninggalkan apapun untukku. Karena anak sialann itu, aku tidak mendapat apa-apa. Rumah ini bahkan sudah diganti atas nama putrinya," ucap nyonya Tama di telpon.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Cukup diam saja, akan aku bereskan dengan tanganku. Yang jelas, setelah aku melenyapkan anak itu, urus semuanya. Bawa Dinda pergi bersamamu. Aku ingin membalas sakit hatiku pada ibu dan anak itu. Jika sampai aku tertangkap, tolong bawa Dinda keluar negri bersamamu."
"Tamaa! Jangan nekat!"
"Jangan gegabah, kamu nanti masuk penjara."
"Persetan semuanya, aku tidak dapat apa-apa setelah bertahun-tahun. Yang penting, akan aku hilangkan dulu anak itu, tolong jaga Dinda untukku, karena dia putri kita satu-satunya!"
Tut Tut Tut
"Tama!!! Tama! Tamalaaaa!" teriak pria yang sedang duduk santai di cafe pinggir jalan di negri singa tersebut.
Percuma, telpon sudah terputus. Rupanya ia tidak mengira, itu adalah kali terakhir mendengar suara selingkuhannya. Tama meninggalkan pesan terakhir untuknya, untuk menjaga Dinda. Ya, Dinda putri gelap keduanya. Sebuah rahasia yang terkubur rapi selama bertahun-tahun.
Mansion Austin
Alexa sudah berada satu mobil dengan Austin. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kehamilan rutin. Rupanya, nyonya Tama sudah mengintai Alexa beberapa hari terakhir.
__ADS_1
Kesal karena sang suami tidak meninggalkan apapun untuk dirinya. Wanita itu pun memakai Alexa sebagai sasaran kebencian.
Hari ini sejarah akan terulang, demi memenuhi dendam di hati. Ia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan pada ibunda Alexa.
Sedangkan Alexa dan Austin, keduanya tidak tahu bahwa bahaya sedang mengintai mereka.
Austin saat itu mengemudi sendiri, karena Willi masih cuti. Sambil mengemudi, pria itu sesekali mengajak Alexa berbicara.
"Mualnya sudah benar-benar hilang?"
"Iya."
"Baguslah!"
"Hem!"
"Habis dari rumah sakit mau ke mana?"
"Bisa antar ke makam papa saja?"
"Iya, nanti habis periksa kita ke sana!"
Sambil menyetir, sebelah tangan Austin mengusap perut Alexa. Dan tiba-tiba saja sesuatu menghantam mobil mereka dari samping dengan keras. Membuat mobil yang Austin hampir lepas kendali. Untung saja ia begitu sigap.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Austin panik, ia menepi dan berniat akan melabrak orang yang menyerempet mereka.
KLEK
Austin keluar, ia menghampiri mobil yang juga berhenti tepat di depan mobil mereka.
Bruakkkkk
__ADS_1
Austin terbelalak, ketika mobil itu tiba-tiba mundur begitu cepat dan menabrak mobil di belakangnya. Shock, pria itu langsung lemas. Bersambung.