
Wanita Pilihan CEO Bab 12
Oleh Sept
Rate 18+
"Aurora adalah ..."
Austin berhenti bicara. Ia malah sengaja memutus ucapannya, membiarkan mengantung begitu saja. Dengan sengaja pula pria itu menyudahi kata-katanya, biar Alexa tambah penasaran. Dan sepertinya itu sedikit menarik bagi pria itu. Main tebak-tebakan dengan Alexa. Dan sepertinya ia berhasil mempengaruhi mood wanita tersebut. Karena mimik wajah Alexa langsung berubah seketika. Masam dan kesal.
Menunggu, namun yang ditunggu malah seperti itu, Alexa jelas makin dibuat penasaran karena Austin tak langsung mengatakan yang sejujurnya. Dan itu membuat ia bingung dengan sikap Austin yang sekarang. Mengapa Austin memeluk wanita itu, dan mengapa barusan, ia merasa Austin memihak padanya. Sebenarnya Aurora itu siapanya Austin, sih? Sampai sekarang pria itu malah enggan menjawab. Bermain teka-teki yang membuat Alexa merasa sebal sendiri.
"Ayo dong, katakan! Aurora pacar kamu atau bukan?" Alexa mengatakan dengan nada memohon. Atau tepatnya menuntut dengan paksa agar Austin menjawab segera.
Austin kembali tidak mau menjawab dan malah balik bertanya dengan cuek. Dingin, datar seperti biasanya.
"Kenapa kamu sangat mempedulikan hal ini?" tanya Austin dingin.
Mendapat jawaban seperti itu, jelas Alexa dibuat semakin kesal. Alexa yang sensitif bisa merasakan kegembiraan Austin, kesedihan yang dipendam Alexa selama ini mulai meledak, awalnya dia tidak tahan dengan kesombongan Aurora, kini dia lebih kesal lagi karena sikap Austin bangga seperti begini. Seolah ia telah memenangkan hati dua wanita. Merasa bangga karena jadi bahan rebutan.
"Siall!" maki Alexa dalam hati.
Alexa merasa Austin senang karena digilai banyak wanita. Dasar, pria sialan. Alexa merutuk dan mengutuk pria di depannya. Namun, hanya dalam hati. Karena pada kenyataannya, bibirnya mengulas senyum yang sumringah. Sengaja ia tujukan pada Austin.
Tidak mau larut dalam sakit hatinya, Alexa mencoba mengalihkan perhatian. Ditatapnya Austin yang sedang mengupas apel.
"Sebenarnya aku nggak peduli, sih. Hanya sekedar bertanya saja," ujar Alexa tak kalah datarnya dengan Austin.
__ADS_1
Austin malah tertawa melihat reaksi Alexa.
"Bukan ..." jawabnya singkat.
Dengan raut wajah sumringah, Austin terlihat senang dan memberikan potongan apel yang ia kupas pada Alexa, Alexa jadi tambah galau dengan jawaban itu sampai apelnya tidak terpegang dan terjatuh di lantai.
"Maaf," Alexa nyengir bak kuda. Ia sungguh tidak sengaja. Ia hanya sedikit terkejut, ternyata Aurora bukan pacar Austin. Ia jadi heran, lalu mengapa Aurora nampak begitu sangat percaya diri? Dan mereka nampak dekat layaknya sepasang kekasih?
Sementara itu, Austin tidak marah saat Alexa menjatuhkan apelnya. Ia malah berkata dengan penuh kasih sayang.
"Sudah besar begini masih tidak pandai memegang apel."
Melihat sikap Austin yang seperti sekarang, Alexa tak berkutik. Alexa paling takluk dengan nada bicara Austin yang begini, dia pun langsung jadi gadis yang penurut.
"Kupaskan lagi untukku, ya!" pinta Alexa manja.
Austin jelas terbuai oleh kemanjaan Alexa, dia terus mengupas apel sambil bertanya pada wanita tersebut.
"Apa sudah menyiapkan desain untuk persiapan kompetisi yang akan datang?"
Tiba-tiba pria itu membahas masalah desain, Alexa jadi tertegun. Sejak kapan pria itu jadi sedikit lebih peduli?
"Ah ... itu, belum. Aku nggak punya peralatannya." Alexa nampak ragu mengatakannya. Karena ia memang belum menyiapkan semuanya.
Austin pun tersenyum tipis, kemudian mengusap rambut Alexa.
"Sudah ada di rumah, menggambarlah setelah pulang nanti," seru Austin penuh perhatian. Membuat Alexa tersentuh.
__ADS_1
Hati Alexa pun sepertinya mulai tergerak, dulunya tidak ada peralatan menggambar di Rainbow Garden, lalu sekarang malah sudah ada. Apa Austin yang membelinya? Apa Austin benar-benar peduli pada dirinya? Peduli dengan apa yang ia sukai? Hingga membantu dirinya mendapatkan apa yang ia inginkan.
Buru-buru Alexa mengeleng keras, ia tidak mau kelewat senang. Tidak mau terlalu banyak berharap. Karena Alexa tahu, Austin itu orangnya seperti apa. Alexa tidak mau kecewa sendirian. Cukup selama ini ia menahan perasaannya, merana di dekat pria tersebut.
Sekarang, karena sudah memiliki peralatan mengambar, jari Alexa jadi tidak sabar ingin menari-nari di atas kertas dan kanvas. Ia pun bertanya perihal kepulangannya.
"Boleh aku pulang sekarang?" tanya Alexa antusias.
Jelas Austin menolak dengan keras. Pria itu menggeleng sembari manatap Alexa. Artinya tidak, Alexa bisa pulang kapan saja. Tapi, tidak sekarang.
"Ayolah, aku sudah baik-baik saja," Alexa memelas, ia kembali memasang wajah memohon. Bergelayutan di lengan Austin yang kuat. Ia benar-benar tidak sabar ingin mengambar di vila Rainbow Garden.
"Tidak, tidak sekarang."
Austin tetap tidak mengijinkan dirinya pulang. Tidak kehabisan akal, Alexa lantas mencoba jalan pintas, ia merayu kekasihnya itu. Jari-jarinya mulai berselancar di dada bidang Austin. Membisikkan kata rayuan yang manis dan menggoda.
"Kita pulang ya?" bisik Alexa sekali lagi sambil terus merayu sampai ia dapat apa yang ia mau.
"Tidak sekarang, Xa." Pria itu menepis tangan Alexa dengan lembut.
Alexa langsung memasang wajah masam, seperti kanebo kering. Membuat Austin gemas menatapnya.
Cup
Austin mengecup bibir Alexa, kemudian menatap sepasang mata itu dengan lembut.
"Sepertinya kita memang harus pulang." Bersambung.
__ADS_1
Apa mereka akan mengerjakan PR? Doakan mereka cepet tobat ya... Baim. Heheheh