
Wanita Pilihan CEO Bagian 43
Oleh Sept
Rate 18 +
Maaf ya, tidak cocok untuk remaja. Bukan bacaan anak-anak. Yang merasa di bawah umur. Mohon di skip, demi kebaikan bersama. Terima kasih.
***
Bagi Alexa, dulu sudah biasa ia melayani Austin di atas ranjang panas mereka. Karena ia memang menyukai laki-laki itu, Alexa tidak pernah melakukan hal tersebut dengan pria lain. Kecuali malam itu, malam yang selalu ingin Alexa lupakan.
Malam kelam di mana kesuciannya hilang, tanpa tahu siapa yang merengutnya. Alexa tidak tahu dan memang berusaha melupakan kenangan buruk itu. Ia ingin menghilangkan memory paling kelam itu dari kepalanya.
Tapi, malam ini Austin seolah mengingatkan akan hal itu. Tiba-tiba kenangan itu perlahan muncul. Membuat wajah Alexa pucat dan nampak gelisah.
Seperti orang ketakutan, Alexa histeris dan memeluk tubuhnya sendiri ketika Austin mulai menyentuh tubuhnya dengan paksa.
"Apa yang dia lakukan padamu? Hem?" Austin berusaha melepaskan tautan lengan Alexa. Ia ingin melihat tubuh polos itu. Adakah jejas yang di tinggalkan oleh David, yang ia kira memiliki hubungan istimewa dengan istrinya.
"Hentikan! Aku mohon hentikan!"
Austin tambah kesal, ia muak dengan sikap Alexa yang sekarang. Padahal dulu, dulu sekali, mereka adalah pasangan solid. Pasangan ideal di atas ranjang. Hanya Alexa yang bisa mengetarkan jiwanya di setiap malam yang panas mereka. Austin kecewa, Alexa benar-benar berubah.
Marah, ia mencengkram rahang Alexa. Menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Namun, semakin lama ia menatap ke dalam mata itu. Perlahan tangannya melemah. Cengkraman itu kemudian lepas secara perlahan. Ekpresi ketakutan Alexa, membuat Austin berhenti saat itu juga. Setidaknya, masih ada sedikit sisi kemanusian di hati pria dingin tersebut.
"Mengapa kau banyak berubah?" gumam Austin lirih.
__ADS_1
Tangannya kembali terangkat. Namun, kali ini bukan untuk menyiksa atau membuat sakit hati dan fisik wanita tersebut. Jari-jarinya mengusap pipi Alexa. Pipi yang kini sudah basah karena ulahnya.
"Aku mencarimu selama ini, dan inikah caramu menyambutnya?" Austin bertanya dengan wajah miris. Ia merasa benar-benar sudah tidak ada namanya di hati wanita tersebut. Terlihat dari bagaimana Alexa sama sekali tidak mau menatapnya.
Mana gadis dengan wajah penurut, sikap manisnya selama ini? Di mana gadis itu? Gadis yang selalu ingin hubungan mereka jelas. Tapi apa yang terjadi, setelah ia memberi kejelasan, ini malah balasannya. Pria itu kembali tersulut, apalagi mengingat Alexa sudah melahirkan seorang anak dengan pria lain.
Ketika Austin terus sibuk dengan pikiran buruknya, lain halnya dengan Alexa. Istri Austin tersebut masih terlihat gelisah. Masih memeluk tubuhnya sendiri. Membuat Austin muak, karena merasa Alexa sok suci di matanya.
"Katakan! Bagaimana mungkin kau bisa hamil dengan pria lain, sedangkan kau masih jadi istriku? Katakan Alexa!!! Ini sangat gila!" bentak Austin. Ia marah karena menyaksikan Alexa seolah tidak mau ia menyentuhnya.
Teriakan Austin di akhiri dengan bunyi guntur yang mengelegar. Malam itu tiba-tiba saja hujan turun lebat, dan entah mengenai apa. Yang jelas, listrik di mansion itu langsung padam saat petir hilang.
Tidak peduli mati lampu, Austin masih melanjutkan amarahnya. Masalah listrik, biar dibereskan oleh orang-orangnya di luar sana. Sekarang ia mau membereskan Alexa terlebih dahulu.
"Katakan padaku! Mengapa kau segila ini Alexa?" tuntut Austin sambil mencengkram kedua pundak wanita tersebut.
"Lepaskan Austin, ku mohon lepaskan!" mohon Alexa di tengah ruangan yang gelap gulita.
Alexa mencoba mendorong tubuh bidang tersebut saat Austin mencoba merangsek padanya. Bibirnya terkunci rapat ketika Austin mencoba merebutnya dengan paksa.
Entah mengapa, ingatan saat ia masih remaja terulang kembali. Memory yang ingin ia lupakan, mendadak muncul dengan jelas. Malam di mana ia pertama kali melakukan hubungan dengan seorang pria.
Alexa ketakutan, ia mencoba kabur. Menghempaskan kedua tangan Austin. Tapi, baru beberapa langkah Austin sudah bisa menangkap tubuhnya.
"Tidak Austin! Jangan!"
Brukkkkk
__ADS_1
Austin mendorong tubuh Alexa hingga wanita itu terlentang di atas ranjang. Seperti malam kelam beberapa tahun silam. Keduanya berada pada kondisi yang sama. Di atas ranjang tanpa lampu dan gelap gulita.
Austin tahu, Alexa benci akan hal itu. Alexa tidak mau disentuh ketika tidak ada cahaya sama sekali dalam ruangan. Dan Austin sampai sekarang tidak paham, apa alasannya.
Byakkkkk
Lampu kembali menyala. Austin dapat melihat ketakutan di wajah istrinya. Dengan sengaja ia kembali mematikan lampu kamarnya.
"Nyalakan lampunya! Nyalakan!" teriak Alexa panik.
"Kau paling benci seperti ini, kan? Akan kutunjukkan! Hukuman yang pantas untukmu!" Austin menyeringai dengan kejam.
Settt
Pria itu langsung melepas semua kancing bajunya. Melempar pakaiannya dengan asal. Kemudian melepas celana.
Alexa yang tidak bisa melihat apa-apa, begitu terkejut saat Austin sudah berada di atasnya.
Ia panik, berusaha untuk bangkit. Tapi pria itu malah mengkungkung tubuhnya. Alexa tidak bisa lari lagi.
"Jangan!" Alexa terus saja menggeleng.
Sementara itu, Austin sama sekali tidak peduli. Selain marah, nalurinya sebagai pria sedang menguasai pria tersebut.
Lima tahun tak tersentuh, ia ingin menghukum sekaligus melampiaskan kekesalannya malam ini pada Alexa.
Sengaja ingin melihat Alexa tersiksa, tanpa pemanasan sebelumnya, Austin yang sudah on fire sejak tadi ketika melihat Alexa tak berdaya di bawah kuasanya. Ia langsung menusuk Alexa. Membuat wanita itu memekik di bawahannya.
__ADS_1
Seolah tidak peduli, Autsin terus saja menyentak Alexa hingga ia keluar. Bersambung.
Hemmm...