
Wanita Pilihan CEO Bagian 24
Oleh Sept
Rate 18 +
Jika Austin sedang gelisah karena tidak ada Alexa di dekatnya, lain halnya dengan gadis tersebut. Alexa sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan pilar-pilar emas di setiap sudutnya.
Gadis itu menatap langit-langit kamarnya, kamar yang beberapa tahun ia tinggalkan. Di situasi yang seperti ini, Alexa kembali teringat mendiang sang mama.
Kangen dengan ibu yang melahirkan dirinya ke dunia ini, Alexa mencari dompet yang tadi ada di dalam tas. Ia membuka dompet warna hijau tersebut, menarik selembar foto lama yang sekilas sangat mirip dengan sosok Alexa yang sekarang.
"Ma ...!" ucapnya lirih, kemudian memeluk foto itu dengan tatapan sendu.
Tap tap tap
Alexa menoleh ketika mendengar derap langkah di balik tubuhnya.
"Pa ..." Suara Alexa tertahan. Dilihatnya wajah dingin sang papa.
"Sudah puas bermain-main?" sindir tuan Hutama ketika memasuki kamar putri pertamanya.
Alexa hanya tertunduk, kalau ia punya banyak tabungan. Mending ia pergi ke tempat lain. Masalahnya, hari ini suasana hatinya sedang tidak bagus karena satu pria. Dan Alexa tidak memiliki arah serta tujuan. Satu-satunya tempat kembali hanya rumah ini. Keluarga Alexa yang tersisa.
"Rencananya berapa hari kamu berada di sini?" Tuan Hutama terus menyerang hati Alexa dengan pertanyaan dinginnya.
__ADS_1
"Alexa hanya berkunjung, jangan kuatir. Alexa tidak lama!" Gadis itu menaikkan dagunya tinggi-tinggi. Pantang baginya mengemis pada sang papa. Meski hanya pria itu yang ia miliki di dunia ini.
"Bagus! Sebelum mamamu kembali, tinggalkan rumah ini. Satu lagi, jangan menyeret keluarga ini dalam madalahmu."
Setelah mengatakan hal itu, tuan Hutama langsung pergi meninggalkan Alexa yang tertegun. Begitu sang papa pergi, Alexa membungkam mulutnya dengan tangan. Gadis itu menangis, terisak seorang diri.
Tak lama berselang, kepala pelayan datang membawa sebuah nampan yang besar.
"Saya lihat dari tadi, wajah Nona nampak pucat. Makanlah ini sedikit saja, dan ini juga."
Tidak mau kepala pelayan paling lama di rumah itu melihat air matanya, Alexa memalingkan wajah. Ia mengusap pipinya dengan cepat.
"Tidak apa-apa, menangislah! Saya akan keluar, Non."
Mendengar ucapan kepala pelayan yang seperti bibinya sendiri. Alexa langsung meraih tubuh wanita paruh baya itu.
"Menangislah ... Bibi bersyukur Nona kembali. Ini rumah Nona juga, jangan terlalu lama pergi. Rumah ini sepi saat Nona tidak ada di sini."
"Bibi tidak melihat? Betapa bencinya mereka semua padaku."
Kepala pelayan hanya terdiam. Ia pun menepuk punggung Alexa untuk menenangkan gadis tersebut.
***
Ruang meeting.
__ADS_1
Austin menatap wanita berpakain rapi di depannya. Sejak tadi wanita cantik dan wangi itu sudah presentasi panjang lebar, tapi tidak ada yang masuk ke kepala Austin. Hingga ia harus membuyarkan acara meeting tersebut tanpa alasan yang jelas.
"Apa kita ke dokter, Tuan? Saya rasa Tuan kurang sehat."
"Berhenti omong kosong, katakan padaku. Sekarang dia ada di mana?"
Gerry nampak ragu, kemudian menatap sekeliling, barulah ia mulai bicara.
"Kediaman Hutama, Tuan."
Austin langsung mendesis.
"Untuk apa ia pergi ke rumah itu?"
"Saya kurang tahu, Tuan."
"Aku tidak bertanya padamu!" ujar Austin ketus. Membuat sang sekretaris menelan ludah dengan kecut.
"Apa perlu kita menjemput ke sana, Tuan?"
Austin langsung menatap tajam, sepertinya Gerry salah ucap lagi.
***
Malam hari, ponsel Austin terus saja berdering. Namun, malah diabaikan. Pria itu menunggu Alexa yang menghubungi dirinya bukan Aurora. Tapi gengsi menghubungi Alexa duluan. Ia pikir gadis itu siapa? Mana mau Austin mengemis pada Alexa.
__ADS_1
Tidak bisa tidur, Austin memutuskan ke kamar Alexa yang ada di villa Rainbow Gardens. Ia merebahkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang yang selalu menjadi saksi bisu malam hangat mereka.
Cukup lama ia hanya merebahkan tubuhnya saja, hingga tidak tahan lagi, akhirnya Austin bangkit dan meraih kunci mobil miliknya. Bersambung.