
Wanita Pilihan CEO Bagian 66
Oleh Sept
Rate 18 +
Tidak mau terbawa arus dan menembus batas, Willi yang semula memejamkan mata, menikmati sensasi lembut dan menuntut. Kini ia kembali ke posisi awal, duduk di balik kemudi sembari mengantur napas. Gila! Wajahnya terasa panas dan sesuatu yang tiba-tiba menganjal di dalam sana.
"Turunlah!" ucapnya dengan serak.
Sementara itu, Pevita juga berusaha untuk bersikap tenang dan sangat biasa. Seolah barusan tidak terjadi apa-apa pada mereka.
KLEK
"Akhir pekan, aku jemput!" ucap Willi saat Pevita menutup pintunya.
Kriek Kriek Kriek
Suasana kembali terasa hening di antara mereka berdua.
"Iya! Daa ...!" jawab Pevita yang merasa canggung, tapi juga sangat senang. Padahal ia pikir pria itu tidak mau berurusan lagi dengan dirinya. Ternyata oh ternyata, cowok itu malah mau datang lagi akhir pekan ini. Seperti menang lotre, hati Pevita senang tak terkira.
Karena sudah tidak ada yang ingin dikatakan lagi, Willi pun menjalankan mobil kembali. Meninggalkan Pevita dengan hati yang seperti musim cherry.
***
Mansion Austin
"Apa perutnya tidak penuh? Aku rasa dari tadi makan terus?" Austin menatap heran pada Alexa yang makan terus.
__ADS_1
"Kan bagi dua!" jawab Alexa ngeles.
Austin hanya tersenyum, kemudian menyentuh perut Alexa.
"Cepat besar, ya!"
Cup
Dengan sayang pria itu membelai perut sang istri yang sedang berbadan dua. Terlihat sekali kasih sayang yang tulus dari sikap Austin sekarang. Pria yang dulu terlihat acuh dan tidak tertarik pada pernikahan, nyatanya kini bucin sendiri dengan keluarga kecilnya itu.
***
Di tempat lain. Kediaman keluarga besar Hutama.
"Ini, Pa. Obatnya minum sampai habis."
"Papa sudah sehat, sudah nggak usah pakai obat-obatan lagi, Ma."
Penolakan tuan Hutama membuat nyonya Tama murka. Wanita itu mulai memperlihatkan sungutnya.
"Minum!" nada suaranya yang kalem berubah kasar.
Tuan Hutama merasa sesuatu yang aneh, mengapa istrinya begitu ingin dia minum obat, padahal tubuhnya sudah sehat.
"Ayo, minum!"
Nyonya Tama dengan kasar memaksa tuan Hutama meminun obat dari tangannya.
PYARRR
__ADS_1
Gelas di atas nakas jatuh karena tuan Hutama menepis tangan istrinya dan mengenai gelas tersebut.
"Apa yang Mama lakukan?" sentak tuan Hutama.
Karena fisik tuan Hutama yang tidak sekuat dulu, merasa bahwa dirinya lebih kuat. Nyonya Tama menyeringai.
"Papa kira bisa menipuku? Mama nggak akan biarin Papa berikan semuanya pada Alexa!"
"Apa maksud Mama!" sentak tuan Hutama.
"Cih!!! Dari pada semua harta ini jatuh ke tangan kami, Papa memilih mendonasikan semuanya pada yayasan. Dan ketika tahu Alexa masih hidup, Papa mau memberikan padanya?" tuduh nyonya Tama.
"Apa yang Mama katakan?"
"Jangan pikir Mama bisa ditipu. Lalu kenapa kemarin ... beberapa bulan lalu Papa menghubungi pengacara? Kenapa? Kenapa wasiat Papa sangat Keterlaluan! Aku istrimu! Dan Dinda adalah putrimu juga!" salak nyonya Tama dengan mata melotot.
Jadi, diam-diam nyonya Tama menghubungi pengacara tuan Hutama. Ia mau melihat, surat wasiat dari suaminya. Melihat bahwa ia hanya mendapat sedikit sekali, maka ia tidak puas. Sebelum mati, maka nyonya Tama akan membuat perhitungan.
"Itu semua memang milik Alexa!"
"Jangan sebut lagi nama anak haram itu di rumah ini!" teriak nyonya Tama dengan emosi.
"Dia bukan anak haram!" sentak tuan Hutama.
"Pa!" bentak nyonya Tama tidak terima.
"Dia putriku satu-satunya! Dan dia bukan anak haram! Bahkan aku sudah menikahi ibunya sebelum menikah denganmu!"
Nyonya Tama beringsut, lututnya bergetar. Hatinya sakit, ia sangat murka kemudian mendorong tuan Hutama. Bersambung.
__ADS_1