Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Pesan Terakhir


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 67


Oleh Sept


Rate 18 +


Alexa pikir hidupnya akan bahagia mulai sekarang. Tapi, kabar mengejutkan yang ia terima barusan, membuat hatinya hancur.


***


Alexa berdiri di dekat Austin yang sejak tadi memegangi pundaknya. Keduanya memakai baju hitam, sama seperti orang-orang yang berdiri di sekitar mereka. Sejak tadi terdengar suara isak tangis dari nyonya Tama. Ia memeluk nisan sang suami dengan jerit tangis yang histeris.


Sedangkan Dinda, gadis yang akan menikah sebentar lagi itu, harus menelan pil pahit. Ia harus kehilangan sang papa di saat mendekati hari bahagia.


"Ini salahmu! Pasti papa terkena serangan jantung karena ulahnya!"


Dinda menerobos orang di depannya, ia mendorong Alexa dengan keras.


Melihat betapa jahatnya adik iparnya, Austin mencengkram lengan Dinda. Sudah ia katakan, sekali lagi menyentuh istrinya. Ia akan mematahkan tangan orang itu.


"Aduh! Sakitt!" pekik Dinda yang merasa tangannya sangat sakit.


Austin melotot, menyalak marah padanya. Tidak mau Dinda terluka. Nyonya Tama yang semula sibuk dengan dramanya. Langsung berhenti menangis. Ia menarik putrinya.


"Hentikan! Jangan bikin keributan!" bisik nyonya Tama.


Ia tidak mau berurusan dengan keluarga baru Alexa. Lebih baik mengalah untuk menang. Wanita tua itu lalu tersenyum penuh kemenangan dalam hati.


Begitu Dinda dapat di kontrol. Ia kembali menangisi kematian suaminya.


"Paaa ... Jangan tingalin Mama, Pa. Paaa."


Dengan totalitas tanpa batas, seperti pemain teater professional. Nyonya Tama berhak mendapat piala Oscar atas aktingnya yang luar binasa.


***

__ADS_1


Pulang dari pemakaman, mata Alexa terlihat sembab. Bahkan ia sama sekali tidak berselera makan.


"Sedikit saja, ya? Kasian ... dia pasti lapar."


Austin membujuk istrinya untuk makan.


"Aku nggak lapar!" Alexa memalingkan wajah, tangannya sibuk mengusap pipi.


"Sayang, kamu harus makan. Aku nggak mau kalian nanti malah jatuh sakit."


"Nanti ... nanti aku makan."


Alexa beranjak, ia ingin mencari udara segar. Udara di ruangan itu seolah mencekik. Batinnya yang terasa sesak, hingga ia sulit untuk bernapas.


Ketika Alexa dirundung kesedihan yang dalam, ada kepala pelayan yang datang mencari dirinya. Pelayan itu tapi tidak masuk, ia hanya menitipkan sebuah surat untuk nyonya mudanya itu.


Setelah kepala pelayan pergi, penjaga mansion Austin mencari Austin. Memberikan surat yang tadi dititipkan pada dirinya.


"Dari siapa?"


Austin menatap sekilas benda itu, kemudian mencari Alexa.


"Sayang .... Alexa!"


Ia memanggil Alexa berkali-kali. Namun, yang dipanggil terlihat merenung duduk di tepi kolam renang.


"Sayang," sapa Austin lalu duduk di depan Alexa.


"Tinggalkan aku sendiri, aku hanya ingin sendiri," mohon Alexa yang masih shock atas kehilangan sang papa.


"Hemm ... baiklah. Aku masuk saja, tapi ini ada surat untukmu. Dari kepala pelayan di rumahmu."


Alexa langsung mendongak, ia lalu merebut benda di tangan suaminya. Dengan tidak sabar Alexa segera membuka surat tersebut.


Isi dalam surat tersebut ditulis dengan tulisan tangan yang rapi. Dan Alexa hafal, itu adalah tulisan sang papa. Belum mulai membaca, Alexa sudah merasakan sesuatu yang menyesakkan.

__ADS_1


***


[ Untuk Alexaku, ketika kamu membaca ini, artinya Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Papa ucapkan terima kasih, karena sudah tumbuh dengan cantik dan pribadi yang kuat. Maaf, maaf bila tidak bisa menyayangimu seperti ayah yang lain.


Alexa, papa sayang padamu. Kamu mungkin tidak percaya. Tapi papa hanya ingin bilang, kamu putri Papa. Dalam darahmu mengalir darah keluarga Hutama.


Kamu putri sah papa, maaf bila karena ketidaktegasan papa, membuat ibumu harus merengang nyawa. Maaf karena tidak bisa melindungi kalian. Maaf karena papa yang terlalu pengecut. Alexa ... hiduplah bahagia. Kami berdua sangat senang saat mengetahui kamu hadir di dunia ini.


Kamu adalah hadiah paling indah yang harus papa sembunyikan. Jangan menangis, bila papa sudah tidak ada lagi. Papa mungkin akan bahagia menemui wanita yang paling papa cintai. Papa sayang Alexa]


***


Alexa tidak kuasa menahan hatinya yang seperti teriris, seolah ada yang menghantam dan terasa sangat sakit sekali. Rasanya begitu perih, membaca perasaan sang papa yang sengaja ditulis untuknya. Hati Alexa tidak kuasa menahan semua rasa itu. Tangisnya kembali pecah, ia menangis sejadi-jadinya.


Austin yang mengetahui hal itu, langsung mendekat. Ia mendekapnya dengan erat.


"Hentikan, jangan seperti ini, Lexa! Ku mohon, jangan seperti ini!" Austin tidak tahan melihat kesedihan sang istri.


Menyaksikan Alexa yang menahan rasa perdihnya seorang diri, hati Austin ikut teriris. Kesedihan Alexa adalah kesedihannya. Matanya ikut perih, seolah merasakan apa yang Alexa rasa.


***


Di tempat janjian, Pevita sudah menunggu sampai malam. Tapi Willi tidak kunjung datang. Cukup lama ia menunggu, hingga harus pulang dengan perasaan kecewa.


Bagaimana mau datang, rupanya Willi sedang sibuk mengurus pekerjaan karena Austin berhari-hari tidak masuk kantor karena harus menemani Alexa yang masih shock.


Willi baru sadar ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Dari kantor, setelah lembur beberapa hari terakhir, ia langsung bergegas ke tempat janjian dengan teman kencannya itu.


Sayang, tidak ada orang di sana. Pevita sudah pergi. Merasa tidak enak, Willi menghubungi Pevita.


Tut Tut Tut


Pevita yang sudah ada di kamarnya, merasa enggan mengangkat telpon Willi. Ia pikir pria itu hanya main-main.


Sedangkan Willi, ia mulai gelisah karena telponnya tidak diangkat. Dengan cepat, ia mengirim pesan singkat.

__ADS_1


[Mana alamat rumahmu, aku akan datang!] tulis Willi. Bersambung.


__ADS_2