Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Awal Yang Manis


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 53


Oleh Sept


Rate 18 +


Ingin tidak percaya tapi Austin sepertinya berkata jujur, meskipun tidak pernah menyangka sebelumnya. Akhirnya Alexa menerima kenyataan yang cukup mengejutkan itu. Mana pernah ia mengira, bahwa Austinlah yang merengut kesuciannya.


Keduanya bercerita sampai larut malam, Austin mengatakan apa yang terjadi di masa lalu. Mulai dari ia yang shock dan terkejut saat bangun ada Aurora di sebelahnya. Ditambah bercak darah pada seprai. Hingga ia merasa bersalah. Namun, tidak bisa menikahi wanita itu.


Hati Austin belum tergerak untuk menikah. Hingga muncul Alexa beberapa tahun kemudian. Membuat hatinya mulai terpikat, tapi belum punya keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.


"Lalu kenapa Aurora mengaku? Ini aneh," tanya Alexa dengan heran.


"Willi sudah menyelidiki semuanya, motifnya cuma satu. Uang! Mereka berniat memerasku dan menjadikan Aurora alat. Tapi ... ah sudahlah."


"Katakan! Jangan buat aku penasaran."


"Lupakan, itu sudah berlalu."


"Mana bisa begitu?"


"Hanya akan merusak suasana hatimu, Lexa. Aku tidak mau kamu ikut membenci mereka yang sudah berbuat jahat. Semua sudah berlalu. Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal denganmu dan dengan anak kita," ucap Austin lembut.


Alexa sampai heran, mengapa pria itu berubah banyak sekali. Mana Austin yang dingin, kasar dan seperti balok es tersebut? Mengapa sosok itu berubah jadi hangat dan lembut?


"Pulang dari sini, tinggal bersamaku," bisik Austin. "Bagaimana? Mau, kan?" tanya Austin dengan nada penuh harap.

__ADS_1


"Dia pasti senang, bila memiliki ayah," gumam Alexa kemudian. Ia teringat dirinya sendiri. Betapa kurangnya kasih sayang orang tua.


"Ada apa denganmu? Dia juga pasti senang, karena memiliki ibu sepertimu."


"Benarkah? Padahal aku tidak memiliki apapun untuk dibangakan padanya."


"Kamu punya segalanya, semuanya. Duniaku ... semua milikmu." Austin menundukkan wajahnya, mengusap perut Alexa dengan sayang.


"Aku bohong ketika dulu mengatakan hanya suka uangmu!" sela Alexa kemudian.


Austin lantas menatapnya dengan tersenyum.


"Aku tahu!"


Melihat senyum Alexa yang perlahan mulai mucul pada parasnya yang sendu, Austin lantas merapatkan tubuhnya. Memeluk Alexa dengan erat, seolah tidak rela mereka harus kembali berpisah.


"Sesalah apapun aku, jangan pernah pergi ... kau tahu Alexa, jika kamu pergi ... duniaku seperti neraka."


"Tidak percaya?" tanya Austin yang merasa Alexa menertawakan dirinya.


Alexa langsung menggeleng pelan. Sedangkan pria itu, ia mentari tangan Alexa. Menempelkan telapak tangan Alexa yang lembut tepat pada jantungnya yang berdegup kencang.


"Cepat lakukan general check up!" ujar Alexa dengan nada bercanda. Ia menyindir detak jantung Austin yang tidak biasa.


"Nanti ... aku sudah punya dokter pribadi untuk mengeceknya!" tatap Austin penuh arti. Membuat Alexa langsung bersemu. Seolah mengerti arti kata yang Austi katakan.


***

__ADS_1


Satu minggu kemudian


Pagi tadi Alexa sudah keluar dari rumah sakit, sedangkan Austin, pria itu hanya dirawat tiga hari. Meskipun sudah boleh pulang, ia tetap memilih tidur di rumah sakit. Menemani Alexa siang dan malam.


"Kita mau ke mana?" Alexa mengamati jalanan lewat jendela.


Keluar dari rumah sakit, mobil bukannya langsung pulang, mereka malah langsung menuju ke sebuah lapangan yang luas. Dan bunyi mesin jet pribadi terdengar cukup berisik.


"Kita mau ke mana? Aku tidak bisa terbang lama-lama. Kepalaku kadang masih pusing."


"Jangan kuatir, sebentar juga sampai."


"Memangnya ke mana? Jangan buat aku penasaran."


"Bulan madu ... Kita belum bulan madu, bukan?"


"Astaga! Aku sedang hamil, Austin!"


"Babymoon ... Kita honeymoon dan juga itu ... seperti orang-orang."


Alexa langsung terkekeh. Sikap Austin yang mau romantis malah terkesan sangat kaku.


"Apanya yang lucu? Mengapa tertawa?" Austin melirik.


"Jangan bersikap manis, itu bukan gayamu sama sekali."


"Benarkah? Lalu gayaku bagaimana? Apa langsung seperti ini?"

__ADS_1


Di kursi depan, Willi harus berusaha menutup telinga dengan keras. Suara kecupan terlalu kuat untuk tidak terdengar.


"Siallllll!" Bersambung


__ADS_2