
Wanita Pilihan CEO Bagian 62
Oleh Sept
Rate 18 +
"Paaa!"
Alexa bergegas menghampiri sang papa. Ia menahan tubuh papanya agar tidak tumbang, disusul Austin yang membantunya dari belakang.
"Kalau sampai papa kenapa-kenapa! Awas kamu Alexa!" Dinda mendekat lalu mendorong tubuh Alexa dengan kasar.
Brukkkkk
Melihat istrinya didorong begitu saja, Austin mendorong balik Dinda, hingga gadis itu membentur Eric yang ada di belakangnya.
"Pasangan menjijikan!!" batin Austin sembari menatap benci ke arah Eric dan Dinda.
Saat menyelidiki latar belakang keluarga Hutama beberapa waktu silam, Austin mengetahui bahwa Dinda merebut kekasih sang kakak. Tapi syukurlah, setidaknya Alexa tidak menghabiskan waktu lama-lama dengan kadal buntung tersebut. Austin malah lega karena Eric berhianat.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa mendorongku?" protes Dinda tidak terima pada Austin.
"Sedikit saja kau sentuh Alexa, kupotong tanganmu!" ancam Austin dengan mata yang sudah memerah. Berani sekali gadis itu menyakiti istrinya. Bahkan itu dilakukan di depan matanya, kalau bukan keluar Alexa, sudah pasti Dinda akan dituntut ke pengadilan.
"Sudah ... kalian jangan ribut. Eric! Cepat telpon dokter!"
"Baik, Tante!"
Beberapa saat kemudian
Tuan Hutama sedang terbaring di kamarnya sambil ditemani Alexa. Tuan Hutama hanya shock, ia pikir putrinya sudah tiada. Setelah dokter menyuntikkan obat, Tuan Hutama sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Apa Papa yang ke makam mama?" tanya Alexa yang dari kemarin penasaran.
Bukannya menjawab, Tuan Hutama malah balik bertanya.
__ADS_1
"Ceritakan apa yang terjadi! Ke mana saja kamu selama ini?"
"Panjang ceritanya sangat panjang. Sekarang Papa jawab dulu pertanyaan Alexa. Apa Papa yang mengunjungi makam mama?"
Tuan Hutama diam saja.
"Pa! Jawab Alexa!"
"Maafkan Papa."
"Maaf untuk apa? Jadi itu Papa?"
"Maafkan Papa yang lebih memilih karir dari pada ibumu. Maafkan karena harus membuatmu terlihat buruk di mata orang-orang."
"Jadi ... maksud papa apa? Jelaskan pada Alexa semuanya!" tuntut Alexa. Ia butuh kejelasan atas semua ini.
"Maafkan Papa, Alexa. Papa mungkin pria paling buruk di dunia ini. Papa tidak bermaksud membuat kalian terluka, tapi ... "
"Tapi apa, Pa?" suara nyonya Tama membuat kedua orang itu langsung diam seketika.
"Biarkan papamu istirahat, kalian bisa bicara lagi lain waktu. Pa ... minum obat yang ini."
"Obat lagi? Tadi papa sudah minum obat!" Alexa mendongak, menatap ibu sambungnya.
Nyonya Tama berusaha untuk tetap tenang. Kemudian mengambil air.
"Minum dulu, Pa."
Tuan Hutama menurut saja apa kata istrinya. Sedangkan Alexa masih bertanya-tanya. Mengapa papanya mengkonsumsi banyak obat? Sebenarnya papanya sakit apa?
Rasa penasaran tetap tak terjawab, karena ibu sambungnya sudah mengusirnya secara halus.
"Pa, Alexa pulang. Nanti Lexa ke sini lagi."
Tuan Hutama mengangguk dan mengedipkan mata.
__ADS_1
Saat akan meninggalkan rumah itu, Dinda masih sempat berceloteh.
"Sudah dapat suami Kaya. Jangan sering-sering ke sini! Mau cari apa kamu? Jangan bilang mau warisan!" celetuknya.
Hampir saja Austin berbalik dan memberi pelajaran untuk gadis nakal itu. Tapi, Alexa mengengam tangannya. Seolah tidak mengijinkan Austin meladeni ulat gagak tersebut.
***
Saat perjalanan menuju mansion, keduanya nampak diam tanpa kata. Austin fokus pada kemudi, sedangkan Alexa, ia terlihat melamun menatap jendela.
Ia memikirkan sesuatu, sepertinya ada yaang papanya rahasiakan darinya. Karena tadi keburu ada nyonya Tama, maka sang papa berhenti bercerita. Dan lagi, obat apa yang diberikan ibu sambungnya itu. Kok Alexa jadi semakin curiga pada nyonya Tama yang terhormat tersebut.
"Sayang ... sayang!"
Alexa langsung glagapan.
"Eh ... iya."
"Ngelamunin apa? Udah sampai."
Alexa hanya tersenyum tipis kemudian turun dari mobil.
"Sudah, jangan mikir aneh-aneh. Ingat baby Kita."
Alexa mengangguk.
Dua orang itu pun masuk ke dalam mansion, mereka mau membersihkan diri terlebih dahulu. Hari ini sedikit berat, mereka butuh rileksasi.
"Aku siapain air hangat, ya."
"Nggak ... nggak usah." Alexa menggeleng cepat.
"Biar tubuhnya seger, aku lihat kamunya lemes gitu."
"Mungkin capek, tapi nggak apa-apa kok."
__ADS_1
"Makanya biar nggak capek."
Austin langsung bergegas menuju ke kamar mandi, menyiapkan air hangat, memenuhi bathtub dengan air serta aroma therapy. Katanya sih buat Alexa, tapi kalau dilihat dari matanya yang berkilau, sepertinya malah untuk mereka berdua sekaligus. Bersambung.