Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Gadis Ingusan


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 64


Oleh Sept


Rate 18 +


Mumpung ada yang lagi kosong, salah satu temen chat Willi ngajakin kopi darat nanti malam. Kebetulan sekali, Willi juga tidak ada acara nanti malam.


Pulang dari kantor, Willi langsung menuju apartment miliknya. Seperti baru pertama kencan, ia sibuk memilah mana baju yang ia kenakan. Beberapa kali ia ganti pakaian, pusing karena tidak tahu style pacaran jaman now. Ia malah berakhir dengan kemeja biru muda dan jas rapi.


Entah, Willi mau kerja apa mau kencan buta. Merasa sudah pas, ketika sudah waktunya, ia pun menyambar kunci di atas lemari kecil di dekat pintu. Dengan bersiul dia menuju basement, untuk mengambil mobilnya dan meluncur ke tempat kencan buta.


Hugo's Cafe


Suasana kafe malam ini begitu ramai, mungkin karena malam minggu. Banyak muda-mudi keluar rumah mencari hiburan. Saat sampai, Willi memindai sekitarnya.


Sesuai ciri-ciri yang dikirimkan pada pesan singkat, gadis yang akan ia temui memakai baju warna merah dan rambut sebahu.


Aneh, di sana tidak ada yang memakai baju merah. Malah ia merasa sudah tertipu, jangan-jangan ini hanya ulah orang iseng. Sembari menghela napas panjang, Willi akhirnya memutuskan duduk di tempat paling ujung.


"Pesan apa, Mas?"


Seorang pelayan datang dengan membawa buku menu.Dengan asal, Willi menunjuk gambar yang tertera pada menu tersebut.


Beberapa saat kemudian


Tap tap tap


Seorang gadis berjalan mendekat ke meja Willi. Dengan percaya diri serta dagu terangkat dan senyum manis ia langsung duduk di depan sekretaris Austin tersebut.


"Mas Willi?"


Willi pun mendongak, ia pikir pelayan yang datang sembari mengantar makanan. Dahinya berkerut, siapa gadis yang menyapa dirinya ini. Dari sekolah mana? Mengapa mengenal dirinya?

__ADS_1


"Maaf, siapa?" tanya Willi spontan.


Gadis itu lantas membuka topi serta jaket jeans yang ia kenakan, hingga baju warna merah terlihat jelas.


"Jangan katakan ini pasangan kencan buta itu?" batin Willi yang mentaksir kisaran usia gadis itu. Sekilas ia yakin, bahwa anak itu masih SMA.


"Aku Pevita, Mas. Panggil saja Vita!" gadis dengan lesung pipi itu mengulurkan tangannya. Dan Willi nampak ragu membalas sapaan yang akrab dan humble itu.


Ia sudah berusia 30 tahun lebih, masa mau pacaran sama anak SMA yang masih ABG? Batinnya pun bergejolak.


"Berapa usiamu?" tanya Willi basa-basi.


Vita langsung meringis, ia tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya.


Andai gadis itu sudah dewasa, mungkin Willi akan mempertimbangkannya.


"Lihat KTP-mu!" ujar Willi dengan dingin saat melihat gadis itu hanya tersenyum. Willi tidak mau main-main, ia kan niatnya memang untuk cari pasangan, bukan sekedar mencari hiburan.


"Ish ...!" Pevita pun mengambil dompet di dalam tas slempang yang ia bawa.


Setttttt


"Masih SMA?"


"Sudah kuliah, Mas."


"Jangan bohong! Usiamu saja masih 17 tahun!" ketus Willi yang merasa sudah tertipu.


"Ish ...!" Pevita mendesis kesal, kemudian mencoba menjelaskan.


Setttttt


Pevita lantas mengeluarkan kartu lain. Kali ini bukan KTP lain, atau kartu ATM bahkan kartu kredit. Vita mengulurkan kartu mahasiswa miliknya.

__ADS_1


"Semester lima!" ucapnya bangga.


"Pinter sekali kamu berbohong. Ngedit di mana?" sindir Willi tanpa segan.


"SMP sama SMA ikut kelas akselerasi. Ini asli kok, meski baru 17 tahun, Vita sudah kuliah dan sekarang semester lima."


"Mending lanjutin belajar! Jangan main-main!"


Willi beranjak, sembari mengeluarkan dompet untuk membayar makanan yang belum datang, ia memutuskan pergi meninggalkan kencan buta ini. Rasanya ia tidak sanggup harus main-main dengan anak kecil.


Sedangkan Vita, ia merasa aneh saat Willi mengeluarkan lembaran kertas warna merah dan menaruhnya di atas meja.


"Uang apa ini?"


"Untuk pesanan makanan yang belum datang. Pulangnya! Jangan melakukan hal aneh-aneh."


Willi pun berbalik, ia sedikit kecewa. Ternyata data yang tertera tidak sesuai. Katanya usia 27, yang datang malah 17 tahun. Willi merasa usia mereka terpaut jauh. Padahal belum tentu menikah, tapi Willi sudah mikir yang terlalu jauh.


"Tunggu!"


Vita setengah berlari menyusul pria tersebut.


"Jangan mengikutiku! Sana belajar saja!"


"Ini Vita juga mau belajar, Mas!"


"Cih!" Sembari terus melangkah, Willi memandang remeh pada gadis ingusan tersebut.


"Ayo kencan! Sebulan saja! Kalau nggak cocok Kita putus!"


Seketika Willi langsung berhenti, ia berbalik dan menoleh pada Pevita.


"Jangan main-main. Kamu tidak mendengar perkataan dariku?"

__ADS_1


"Vita serius!" Bersambung.


__ADS_2