Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Pengakuan


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 52


Oleh Sept


Rate 18 +


Austin tersentak, ia begitu kaget, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Dia masih istrimu!" cetus David dengan nada kesal.


"Tapi ... gadis kecil itu?"


David mengela napas dalam-dalam, kemudian meluruskan kesalahpahaman yang selama ini terlanjur dibiarkan olehnya.


"Dia putriku sendiri, putriku dengan istriku. Dan itu bukan Alexa!" ketus David.


Settt


Austin menarik jarum infusnya, ia langsung berjalan keluar. Pria yang semula lemah itu, mendadak seperti mendapat energinya kembali. Dan di belakangnya, ada Willi yang mengikuti.


"Di sana, Tuan! Ruangan Nona Alexa di sana," Willi menunjuk arah yang benar.


Austin yang masih shock, lantas berjalan sesuai arahan willi, sekretarisnya. Ketika tiba di depan sebuah ruangan, dan saat tangannya akan membuka pintu, wajahnya nampak penuh keraguan.


"Masuklah!"


Terdengar suara berat David dari belakang tubuh Austin.


KLEK


Austin menelan ludah sebelum melangkah, dilihatnya Alexa menatap kosong ke arah jendela. Tiba-tiba saja semua kenangan mereka selama bersama kembali muncul dalam benak Austin. Seperti saat pertama kali Alexa menumpahkan minuman padanya, saat mereka melewati hari-hari bersama. Dan banyak lagi kilasan bagaimana ia menyiksa Alexa selama ini.


Mulutnya terkunci rapat, padahal ia ingin memanggil nama Alexa. Namun, ia tetap melangkah dengan hati yang bergetar. Merasa ragu bila Alexa mau bertemu, tapi Austin tidak bisa mundur. Ini kesempatan untuknya, kesempatan mengapai hati Alexa untuk bisa kembali lagi bersamanya.


"Lexa ...!" Akhirnya kata itu lolos dari bibir Austin. Dengan suara bergetar ia memanggil nama istrinya.


Alexa tidak mau menatap wajah Austin, ia masih sangat membenci pria tersebut.


"Apa aku harus pergi? Tidak bisakah kamu menatapku sebentar saja?" ucap Austin dengan nada mengiba.


Alexa semakin menundukkan wajahnya, melihat Austin dengan nada bicara yang sangat berbeda, hatinya pun dilema.


"Aku salah ... aku bersalah terlalu banyak padamu," ucap Austin dengan sendu.


Melihat Alexa masih belum mau memandangnya, Austin kembali mendekat. Ia berjalan hingga sampai di depan Alexa.


"Hukum aku! Jangan diam seperti ini. Pukul saja aku, Lexa ... tapi jangan diam saja."

__ADS_1


Austin menarik tangan Alexa, "Pukul saja, Lexa ... pukul saja aku." Austin menghujamkan tangan Alexa ke tubuhnya sendiri.


Hal tersebut membuat tangis Alexa pecah. Sama seperti Alexa, Austin pun tidak bisa lagi membendung perasaannya. Pria itu lantas merengkuh tubuh Alexa lembut. Ada rasa sedih yang tidak bisa keduanya ungkapkan.


Sementara itu, di depan pintu, David langsung berbalik setelah sekilas mendengar ucapan Austin dari balik pintu. Setidaknya ia tahu, bahwa suami Alexa sudah menyesali semuanya.


Beberapa saat kemudian. Di dalam ruangan VIP, tempat di mana Alexa sedang menjalani perawatan.


Terlihat Austin mengusap kepala Alexa yang bersandar pada bahunya. Mereka berdua duduk di tepi ranjang rumah sakit. Mata Alexa sudah terlihat sembab, begitu juga dengan Austin. Mata pria itu kini berwarna merah, bukan karena marah atau iritasi. Keduanya habis melepas semua rasa bersama isak tangis yang sama.


"Lexa ..."


"Hemmm," jawab Alexa dengan serak.


"Maafkan aku." Suara Austin terdengar lirih. Sepertinya pria tersebut benar-benar sudah menyesali semuanya.


"Kamu sudah mengatakan itu berulang kali."


Alexa pun semakin menyadarkan kepalanya. Aneh, sebenarnya ia masih sangatlah benci pada Austin. Tapi, tubuhnya seolah mengatakan yang lain. Dekat-dekat pria itu nyatanya membuat hatinya damai. Ah, mungkin bawaan jabang bayi.


Padahal, rencananya Alexa tidak akan memaafkan pria itu sampai kapanpun, ia berniat menutup hatinya untuk Austin. Tapi bagaimana lagi, nama Austin terlanjur terukir di palung hatinya. Mulutnya bisa berucap tidak, tapi hatinya ternyata ingkar.


"Maafkan aku ..."


"Jangan katakan itu lagi, dari tadi kamu mengatakan kata yang sama berulang kali."


"Dengarkan aku dulu, karena ini sangat penting."


"Iya, ini ada hubungannya dengan dia."


"Aku tidak mau mendengarnya."


"Kamu harus mendengarnya, karena aku merasa sangat bersalah padamu."


"Sudahlah Austin, aku tidak mau membahas masa lalu."


"Meskipun kamu tidak mau mendengarnya, kamu harus tetap tahu. Karena ini sangat penting ... aku ingin membuka lembaran baru. Tapi, sebelumnya kamu harus tahu ... betapa brengsekkknya aku dulu."


Alexa langsung mendongak.


"Apa tentang Aurora dan anak kalian?" tebak Alexa yang mulai gelisah.


"Aurora tidak mengandung anakku!" ucap Austin spontan. Ia tidak mau Alexa kembali salah paham.


Alexa melirik.


"Lalu?"

__ADS_1


"Ini bukan masalah Aurora yang mengaku hamil anakku. Tapi, tentang malam itu, malam saat kamu kehilangan kesucianmu."


"Tolong jangan membahas itu!" Alexa langsung menarik diri. Ia tidak suka masa kelamnya dibahas. Karena sampai sekarang, ia masih belum tahu siapa yang merengut mahkotanya.


"Aku ... itu aku."


"Apa maksudmu?" Alexa semakin tidak mengerti arah pembicaraan suaminya itu.


"Maaf Alexa, tapi kamu harus tahu."


"Austin, jangan membuatku tambah pusing."


"Setelah mendengar ini, mungkin kamu benar-benar akan lebih pusing."


Alexa langsung menggeleng pelan.


"Lebih baik jangan katakan!"


"Tidak, aku tidak mau memendam rasa bersalah itu seumur hidup. Lebih baik kamu tahu, dan aku akan menerima semua hukumannya."


Alexa menelan ludah dengan berat, wajahnya nampak pucat.


"Tidak ... itu tidak mungkin!" Alexa mulai mendunga, jangan-jangan itu adalah Austin.


"Ya, itu aku. Pria brengsekkk itu adalah aku."


Alexa langsung berdiri, ia menjauh dari Austin.


"Akhirnya aku bisa mengatakan ini ... Maaf Alexa, maaf karena aku tidak pernah menyesali malam itu saat aku tahu, bahwa itu adalah kamu."


Austin mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Aku bersalah padamu, tapi aku tidak menyesali malam itu."


Alexa shock, mengapa banyak benang kusut yang mulai terurai tapi sangat mengejutkan. Bahkan, saat Austin mencoba meraih tangannya, Alexa mundur spontan.


Mana pernah ia mengira bahwa Austin yang sudah mengambil kesuciannya. Tapi tunggu, sekelibat bayangan malam itu perlahan muncul. Bagaimana sosok asing itu membuainya. Mereka bersama-sama mengarungi malam panas itu bersama. Saling terbakar dan bergejolak. Apa itu malam pemaksaan? Tubuh Alexa langsung lemas, untung Austin langsung meraihnya.


"Bagaimana ini Alexa? Meskipun aku sejahat itu padamu. Aku tidak bisa melepasmu lagi!" Austin memeluk erat tubuh Alexa.


Alexa yang masih butuh waktu untuk berpikir, hanya diam saja ketika Austin mendekapnya.


"Mengapa semua jadi rumit begini?" suara Alexa lirih.


"Tidak ada yang rumit, semuanya sangat jelas. Aku penjahatnya ... pria brengsekkk ini sudah membuatmu hancur berkali-kali. Dan aku egois ... aku masih ingin berdiri di sisihmu."


"Apa karena aku mengandung anakmu?" Alexa mendongak, menatap dengan mata berkaca-kaca. Ia gelisah menanti jawaban Austin. Alexa menanti, apa alasan utama Austin mau bersamanya. Apa hanya karena rasa tanggung jawab?

__ADS_1


"Karena kamu Alexa ... aku mau kamu."


Bukannya tersenyum senang, Alexa malah kembali menangis dengan dalam. Bersambung.


__ADS_2