
Wanita Pilihan CEO Bagian 51
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ada apa dengannya?"
Sebenarnya David sangat tidak suka dengan rivalnya itu. Tapi, melihat sosok Austin yang tergeletak tak berdaya, ada rasa penasaran yang mengerogoti hati David. Mengapa pria kasar dan kejam itu bisa tumbang. Sangat perlu dipertanyakan apa sebabnya.
"Hanya kurang sehat, Tuan."
Sekretaris Willi menundukkan kepala, ia enggan mengobrol dengan David karena ia ada di pihak Austin. Meski Willi tahu bahwa David pria baik, tetap saja ia berada di pihak Austin.
***
Beberapa jam kemudian
Austin sudah dipindah ke ruang VIP, ia sudah sadar beberapa saat lalu. Kini ia sendirian di dalam sana, karena Willi sedang berbicara pada dokter di luar.
KLEK
"Tuan, sebaiknya Tuan makan."
Willi yang baru masuk langsung menyuruh Austin makan.
"Tinggalkan ruangan ini!" ujar Austin ketus.
__ADS_1
Ia menatap jendela dengan wajah hampa. Pria tersebut tidak mau mendengar Willi yang memintanya untuk makan dan makan terus-terusan. Ibunya saja tidak seperti itu, Austin merasa terganggu dengan sikap sekretarisnya tersebut.
"Tuan harus makan ... dan sepertinya Tuan butuh tenaga ekstra."
"Cukup, keluar dari sini!"
"Nona Alexa ... ada Nona Alexa di sini."
Sengaja Willi menyebut nama yang bisa mempengaruhi emosi bosnya tersebut.
"Apa katamu?"
"Nona juga dirawat."
"Dia sakit?" tanya Austin dan hendak turun dari ranjang rumah sakit.
"Di mana ruangannya?"
Austin sudah menginjak lantai, tapi tiba-tiba kepalanya pusing. Kalau tidak berpegang pada tiang infus, mungkin dia akan jatuh.
"Tuan!" pekik Willi khawatir.
Ini semua karena Austin sama sekali tidak makan, ia habiskan hari-harinya penuh penyesalan dan minum-minum sampai tidak sadar. Hingga kini sampai tumbang dan harus dirawat di rumah sakit.
KLEK
Baik Austin dan Willi sama-sama menoleh, mereka menatap pintu, melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Austin tidak heran kalau itu adalah David, sebab Willi tadi bilang Alexa juga sakit. Pasti pria itu yang menemani Alexa saat istrinya sakit. Astaga! Rasanya kepalanya mau pecah. Memikirkan apa yang sudah terjadi. Mengapa harus pria lain yang ada di sisi Alexa ketika wanita itu sakit. Di lubuk hatinya, Austin protes. Harusnya dia, bukan David.
"Mari bersikap layaknya pria! Aku berikan kesempatan terakhir kali ini, bila dia menerimamu. Aku akan mundur dan menyerah. Tapi, bila dia masih bersikeras untuk menolak. Maka, tanda tangani semua pengajuan berkas perceraian kalian. Biar aku yang mengurus anak itu!"
Austin yang dari tadi kepalanya sudah pusing, semakin pusing memikirkan perkataan David. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba David mengatakan hal tersebut. Rupanya, Austin butuh waktu untuk mencerna semuanya.
"Anak? Anak apa?" gumam Austin dengan wajah serius.
"Temui Alexa sekarang, jika dia tidak mau menerimamu. Aku harap kamu melepasnya!"
"Tunggu! Anak apa yang tadi kau maksud?"
"Nona hamil, Tuan!" sela Willi. Ia sudah greget dari tadi melihat bosnya.
Jadi, ketika Austin dan Alexa masih di dalam UGD. David dan Willi sempat berbicara. Mulanya David sama sekali tidak simpati, malah ia bersyukur. Seolah Austin pantas mendapatkan hukuman. Namun, lama-lama ia merasa tidak adil bila tidak mengatakan apa yang ia ketahui.
Sekarang, semua ia serahkan pada Alexa. Apapun keputusan wanita tersebut. Ia akan menerima.
Sedangkan Austin, ia menatap tak percaya.
"Anak siapa? Itu anak siapa?" Austin langsung mencengkram kerah kemeja David. Ia terlihat emosional.
BUGH
Kesal, David langsung memukul Austin tepat pada wajahnya. Sekalian melampiaskan kekesalannya selama ini.
"Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya, Brengsekkk!" maki David dengan sangat emosi. Bersambung.
__ADS_1