
Wanita Pilihan CEO Bagian 48
Oleh Sept
Rate 18 +
"Lexa ... Jangan memeluk pria lain di depanku!" batin Austin. Matanya menatap nanar dan tidak percaya. Sakit sekali hatinya, tapi pria itu tidak berdaya.
Bila sebelumnya ia akan begitu possessive jika hal itu mengenai Alexa. Kini, Austin mematung. Hanya jari-jarinya yang perlahan mengepal. Setelah itu ia memilih berbalik. Membiarkan Alexa dalam pelukan pria lain. Rasa bersalahnya lebih mendominasi dari pada amarahnya saat ini.
"Tuan ...!"
Sekretaris Willi tiba, pria itu menatap aneh pada sang atasan. Mengapa bosnya itu diam saja melihat istrinya memeluk pria lain?
Melihat raut kekecewaan pada pada sang atasan, Willi tidak lagi menyapa bosnya tersebut. Padahal, ia pikir begitu fakta terkuak maka keduanya akan bisa berdamai. Ternyata ia salah. Willi lantas mengekor ke mana saja Austin melangkah.
"Kau tidak punya pekerjaan? Jangan mengikutiku!" sentak Austin yang kala itu sudah susah payah menahan emosi.
Melihat Alexa barusan, cukup menguras hatinya. Dan sekarang Willi malah mengikuti terus di belakang, lama-lama Austin jadi sebal. Ia malah melampiaskan kekesalannya pada sekretarisnya itu.
***
Satu minggu kemudian
Selama tujuh hari, Austin menahan diri untuk tidak ke rumah sakit. Sudah satu minggu pula ia lalui hari-harinya dengan rasa penyesalan.
Mengenai kabar Alexa, ia hanya bisa mendengarnya dari Willi. Karena Alexa sampai sekarang tidak mau menemui dirinya. Sekarang rasa sesal itu memenuhi hati dan pikiran pria tersebut. Ia merasa ini semua kesalahan dirinya. Alexa mengalami masa sulit di masa remajanya itu adalah karena ulahnya.
Siang itu Austin sedang termenung di ruang kerjanya, dan seseorang datang tanpa permisi.
Bukkkk
David melempar sebuah berkas. Dengan tatapan dingin, Austin meraih benda yang semula dilempar David di atas meja.
__ADS_1
"Lancang sekali kamu ke sini dan ... membawa ini? Jangan harapa aku menyetujuinya!"
Austin melempar berkas tersebut ke arah tempat sampah.
"Baikan, sepertinya kau tidak bisa melepas Alexa secara baik-baik. Baik ... bila itu maumu. Banyak cara untuk tetap bisa berpisah."
Setelah mengatakan hal itu, David kemudian berbalik. Ia hanya menyampaikan permainan Alexa. Wanita itu ingin mengugat cerai suaminya.
Begitu David pergi dari ruang kerjanya, Austin langsung membuang apapun di atas mejanya. Papan namanya sampai pecah dan berserak di atas lantai.
"Tuan ...!"
Willi datang, ia terkejut karena ruang kerja sang atasan sangat berantakan.
Austin yang tidak terima kenyataan bahwa Alexa mau bercerai darinya, memutuskan meninggalkan perusahaan.
"Berikan kuncinya!"
Austin langsung merebut kunci mobil dari tangan willi.
"Tuan, biar saya antar."
Austin tidak peduli, ia langsung bergegas saat kunci sudah ia dapatkan. Sang sekretaris menatap khawatir. Pergi dengan keadaan marah, ia takut akan terjadi sesuatu pada atasannya itu.
Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya bawahan. Tidak berkutik bila Austin sudah bertindak sesuai kemauannya.
Rumah sakit
Setelah mengemudi bagai pembalap, mobil warna hitam itu akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit.
Austin setengah berlari menuju bangsal Alexa. Namun, sayang sekali karena kamar itu sudah kosong tidak berpenghuni.
Yakin bila Alexa ada di rumah David, ia bergegas ke rumah itu. Nasib sedang tidak memihak pada Austin. Rumah itu terlihat kosong. Bahkan saat memaksa masuk, penjaga malah mempersilahkan pria itu. Di setiap sudut tidak ada apapun.
__ADS_1
Alexa dan keluar David tidak ada di sana. Makin kacaulah pikiran pria itu. Austin takut, mereka semua sudah meninggalkan negara ini. Seketika itu juga, Austin menghubungi sekretarisnya.
"Temukan informasi tentang keberadaan Alexa. Jangan biarkan dia meninggalkan negara ini. Blokir semua, jangan biarkan dia pergi!"
Hari demi hari pun berganti, Alexa hilang bagai ditelan bumi. Austin bagai mayat hidup, seperti zombi.
Hidup tanpa arah, Austin merasa kehilangan tujuan hidupnya. Meratapi nasib tragis yang tak berkesudahan.
***
Satu bulan kemudian
Di sebuah tempat yang jauh dari pusat kota. Terlihat Alexa berjalan sambil menggandeng tangan Emily. Mereka melewati kebun teh, menikmati udara pagi bersama embun yang mulai mengikis.
Sedangkan di belakang mereka, ada David yang menatap keduanya dari belakang dengan wajah yang cerah dan senyum bahagia.
Lelah berjalan menyusuri kebun teh, mereka berhenti dan memutuskan balik ke mobil. Rasanya tak rela melepas pemandangan yang menyejukan hati tersebut. Karena angin semakin dingin, David tak mau keduanya masuk angin.
Di dalam mobil
"Lexa, kamu baik-baik saja?"
David khawatir ketika melihat Alexa memegangi kepalanya.
"Mungkin capek tadi jalan kaki, jadi pusing," jawab Alexa kemudian memasang sabuk pengaman.
Baru saja David menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Alexa merasa tidak enak. Ada yang salah, ia merasa kurang enak badan.
"Sebentar, aku turun dulu!"
Alexa buru-buru melepas seatbelt, dia bergegas turun dan langsung ke tepi jalan.
Huek huek huek .... Bersambung.
__ADS_1