
Wanita Pilihan CEO Bagian 71
Oleh Sept
Rate 18 +
Tunggu, apa dia sedang dilamar? Pevita memutar otaknya yang terbilang cerdas tersebut.
"Maksudnya?" Sembari menatap Willi, gadis itu memutar kedua bola matanya.
"Mungkin terlalu cepat, aku tarik kata-kataku waktu itu. Aku tidak bisa menunggu lama."
"Tunggu sebentar, maksudnya bagaimana ini?"
"Aku yakin, kamu pasti sangat paham alur pembicaraan kita berdua."
Di skak seperti itu, Pevita langsung diam.
"Aku masih 17 tahun!" gumam Pevita lirih.
"Tidak masalah." Willi terlihat tenang dan tidak panik pada keputusan pemerintah yang mengatakan batas minimal usia mempelai adalah 19 tahun untuk wanita ataupun si pria.
"Tidak masalah bagaimana? Batas minimal kan 19 tahun!" seru Pevita.
"Jika kamu mau, akan segera aku bereskan." Seolah-olah semua mudah bagi pria seperti Willi. Terbiasa mengerjakan hal yang lebih sulit dari pada ini. Baginya, menikahi gadis 17 tahun sangat mudah dilakukan. Dengan catatan, gadis itu mau.
"Astaga! Mengapa gampang sekali bagi Mas Willi ngajak kawin anak orang?" Pevita menatapnya dengan tatapan aneh.
"Itu karena aku nggak bisa jamin, pertemuan kita berikutnya, kamu akan aman."
Jleb
Pevita memeluk tubuhnya sendiri. Mengapa lama-lama Willi jadi begitu mengerikan?
Melihat Pevita yang mulai panik, Willi kembali berbicara.
"Tenang saja! Aku nggak mungkin melampaui batas." Pria itu lalu membuang napas dengan kasar.
"Bagaimana? Mau tidak?" sambung Willi kemudian.
"Waktu .... berikan waktu."
"Hemm ... aku tidak punya banyak waktu, seminggu, aku tunggu seminggu. Setelah itu katakan jawabannya."
"Seminggu?" Alis Pevita langsung mengkerut.
"Ya, tidak lebih. Dan sudah malam. Masuklah!"
Akhirnya keduanya pun berpisah, sebelum masuk rumah, Pevita melihat mobil Willi yang mulai menjauh dan ditelan oleh kegelapan malam.
__ADS_1
***
Beberapa hari kemudian
Rumah sakit Harapan
Austin sedang menanti Alexa yang sedang diperiksa dokter. Keadaan bumil itu sempat ngedrop. Hingga dibawa ke rumah sakit dan harus diinfus.
Kematian sang papa membuatnya menjadi down. Sebagai suami, Austin selalu setia menemani. Menyiapkan pundaknya sebagai tempat bersandar Alexa.
Masih di tempat yang sama, siang itu pengacara almarhum sang papa datang mencarinya. Tahu bahwa Alexa di rumah sakit, sebagai bentuk tanggung jawabnya pada tuan Hutama, tuan pengacara itu pun menemui Alexa.
Austin juga memperhatikan sejak tadi apa yang tuan pengacara itu katakan.
"Mengapa nama Alexa mendapat bagian paling banyak? Bukankah masih ada istri dan anak lain?" tanya Austin penuh selidik.
"Saya hanya membacakan wasiat tuan Hutama yang sudah ditulis sebelum beliau meninggal dunia."
Seketika mata Alexa kembali perih, tangannya kemudian meremass berkas-berkas yang diberikan oleh tuan pengacara. Sungguh bukan ini yang ia mau, Alexa yang malang, ia hanya butuh pengakuan dan cinta tulus dari orang tuanya. Mengapa papanya sangat kejam, mengapa papanya membuatnya sangat sesak?
Mengetahui jiwa Alexa masih terguncang, Austin pun meminta tuan pengacara membahas itu lain kali saja. Karena kondisi kesehatan Alexa pasca papanya meninggal masih shock.
Lobby rumah sakit
Nyonya Tama dan Dinda berjalan sangat cepat, niat hati mau melabrak Alexa. Tapi, ia malah melihat tuan pengacara. Kebetulan sekali, nyonya Tama yang sangat kecewa langsung menghadang pria botak tersebut.
"Maaf, Nyonya. Itu bukan kuasa saya. Saya hanya menjalankan tugas saya."
"Alahhh ... omong kosong! Apa wanita itu memberikan lebih?" tuduh nyonya Tama.
"Nyonya!"
"Sia-sia aku bungkam pria tua bangka itu!"
Mata pengacara dan Dinda langsung melotot. Sadar sudah keceplosan, nyonya Tama langsung menarik lengan Dinda. Ia langsung menjauh dari pengacara yang tidak mau disogok tersebut.
"Ma ... tua bangka siapa yang Mama maksud?"
"Sudah jangan bahas! Dia sudah mati!"
"Astaga ... Maaaa! Itu papa Dinda!"
"Bukan!"
Dinda mengerem kakinya sehingga keduanya berhenti.
"Maaaa!"
"Dia bukan papamu! Jangan buang-buang air mata untuk tua bangka itu. Dia sudah dimakan cacing di dalam tanah sana."
__ADS_1
Dinda shock
"Lalu papa Dinda siapa?" tanya gadis itu dengan suara serak.
"Nanti, nanti dia akan menemui kita."
Keduanya tidak sadar, bahwa pembicaraan mereka disaksikan oleh Austin.
Saat mereka mau berjalan, keduanya berhenti lagi. Karena ada Austin di depannya.
"Alexa tidak bisa diganggu, kalau mau memaksa masuk, maka terpaksa akan saya panggil pihak keamanan."
"Austin!" pekik Nyonya Tama tidak percaya. Betapa tidak sopannya menantunya itu.
"Silahkan tinggalkan rumah sakit ini."
Dengan kesal, akhirnya kedua wanita beda generasi itu pun pergi. Percuma saja melawan Austin. Mereka bukan lawan yang sebanding.
***
Setelah tidak ada penganggu lagi, Austin mencoba menghubungi sekretarisnya.
"Tolong cari tahu, rahasia apa yang tersembunyi di keluarga Hutama. Terutama penyebab kematian papanya Alexa," ucap Austin di telpon.
Willi membuang napas dengan berat, tapi keinginan bos adalah perintah.
"Baik, Tuan."
Dengan cekatan, Willi menghubungi banyak nomor. Memberikan tugas pada masing-masing orang yang ia hubungan barusan.
Begitulah keseharian sekretaris Willi, ia harus kerja ektra untuk Austin yang masih fokus pada kesehatan Alexa.
***
Malam ini Willi tidak mau lembur. Ia sudah berada di apartment. Sudah terlihat rapi dan wangi. Rasanya sudah tidak sabar bertemu, sejak tadi sore ia melirik jam tangan terus. Menanti malam hari, karena akan bertemu dengan Pevita lagi.
Kediaman Pevita
Begitu sampai, ia tidak langsung masuk. Willi hanya mengirim pesan singkat.
[Jika jawabannya diterima, keluarlah. Aku ada di depan rumah. Jika ditolak, jangan keluar. Aku akan langsung pulang. Balas sekarang]
Di dalam kamarnya, Pevita membaca pesan itu dengan tidak percaya. Apa-apaan ini si Willi. Pesan itu mengandung nada ancaman dan paksaan. Namun, sudut bibirnya malah terangkat. Dengan langkah riang, ia keluar rumah. Menemui sugar daddy-nya.
Kriiiietttt
Suara pagar besi yang terbuka saat itu bagai kabar gembira. Apalagi Pevita muncul dari balik pagar yang sudah berkarat tersebut. Di dalam mobilnya, Willi tersenyum penuh kemenangan. Bersambung.
Yeahh... babang kawin!!!!
__ADS_1