
Wanita Pilihan CEO Bagian 44
Oleh Sept
Rate 18 +
Sakit hati Austin langsung hilang, setelah berhasil melukai Alexa secara fisik, kini Austin merebahkan tubuhnya di sisi Alexa. Puas rasanya bisa menyemburkan benihnya di dalam sana. Selama ini mereka sering pakai pengaman bila melakukan hubungan. Jika tahu kejadian bakalan seperti ini, rasanya Austin menyesali tindakannya dulu. Harusnya ia membuat wanita itu hamil saja sedari dulu. Agar Alexa tidak mampu lari darinya.
Kini, ia hanya bisa menerima takdir. Sepertinya Alexa sangat membencinya. Ia dapat rasakan hal itu, dari response tubuh Alexa barusan yang seolah menolak sentuhan darinya. Permainkan barusan terasa hambar, mungkin ia bisa keluar karena sudah lama tidak melakukan dengan wanita. Tapi, jauh di relung hati pria tersebut, ada perasaan kosong.
Austin merasa hampa karena Alexa terlihat tidak menikmati permainan mereka. Bibirnya kemudian terangkat, ada senyum getir yang tersirat. Segetir nasib cintanya yang sudah tanpa rasa.
Tanpa menatap Alexa, Austin langsung turun dari ranjang. Sambil mengenakan kemejanya, ia mengatakan sesuatu pada Alexa. Atau lebih tepatnya sebuah ancaman.
"Jangan berani temui pria lain! Jika itu terjadi, kamu tidak akan bisa memikirkan hukuman apa lagi yang akan kau terima!"
Austin kemudian berjalan ke kamar mandi, menyalakan shower dan membiarkan derasnya air mengikis luka hatinya. Meskipun ia seperti pelaku, sebenarnya ia merasa sebagai koban. Austin marah karena merasa Alexa sudah mengobral tubuhnya.
Dalam derasnya air yang menguyur tubuhnya, kepalanya yang semula panas perlahan menjadi dingin. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan berat, entah menyesal atau apa. Yang jelas, sorot matanya melemah. Ada gurat sendu yang sekilas terpancar dari wajahnya yang tegas.
***
"Kau tidak mandi?" tanya Austin basa-basi.
Dilihatnya Alexa diam saja, sama pesis seperti posisi awal. Tanpa curiga, Austin duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh pundak Alexa.
__ADS_1
"Bersihkan tubuhmu!" seru Austin lagi.
Disentuh dan ditegur berkali-kali, Alexa masih saja diam. Membuat Austin kembali naik darah.
"Jangan kekanak-kanakan! Bukankah selama ini kita sudah biasa melakukannya?"
"Lexaaa!"
"Lexaaa!"
Austin panik ketiak tangan sang istri terkulai lemas.
"Jangan bercanda! Bangun Lexa!"
Austin mengerakkan tubuh Alexa berulang kali. Namun, wanita itu masih menutup matanya. Semakin panik, Austin langsung menelpon dokter malam itu.
***
"Istri saya kenapa, Dok?" tanya Austin. Sejak tadi ia terlihat cemas.
Dokter masih memeriksa kondisi Alexa, tapi Austin terus saja menganggu.
"Saya belum bisa memastikan, ini aneh sekali. Kondisi tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada yang salah."
"Lalu mengapa istri saya pingsan?" tuntut Austin dengan wajah memaksa.
__ADS_1
"Tenang, Pak. Karena fisik istri Pak Austin tidak ada masalah, sepertinya ada yang salah dengan lainnya."
"Maksud Dokter?" Austin mengeryitkan dahi. Ia menatap penuh tanda tanya.
"Saya resepkan obat, besok bawa istri Pak Austin ke rumah sakit."
"Untuk apa saya panggil dokter kalau tidak bisa menyembuhkan?"
Gaya Austin yang seperti itu, membuat dokter memilih pulang. Sudah larut malam, menangani keluarga pasien yang saiko. Rasanya dokter tersebut sudah lelah.
***
Beberapa saat kemudian
Austin lega, akhirnya Alexa bangun juga.
"Jangan bercanda denganku! Aku tidak suka jika caranya begini!"
Baru juga istrinya bangun, Austin langsung marah-marah. Sedangkan Alexa, sorot matanya kosong. Ia memalingkan wajah tidak mau melihat ke arah suaminya.
"Terserah kalau kau mau marah! Puaskan, kamu pikir aku akan melepasmu? Jangan harap!" omel Austin.
Setelah memarahi Alexa yang baru siuman, akhirnya Austin bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi hari
__ADS_1
Austin terbangun, ia langsung menatap ke samping. Dilihatnya Alexa juga masih tidur. Perlahan ia berniat menyentuh pipi itu. Tapi setelah kulitnya bersentuhan, Austin langsung bergegas duduk.
"Lexaa!! Lexaaa!!!!" Bersambung.