Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Mengalah


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 57


Oleh Sept


Rate 18 +


Alexa dan Austin sedang menunggu pesanan mereka. Keduanya saling menatap, padahal sejak kemarin sudah bersama-sama. Tapi keduanya seolah masih merindui satu sama lain.


"Oh ya, ajak Willi ke sini. Gabung sama Kita, kasian sendirian di pojokan."


Alexa menyarankan untuk mengajak sekretaris suaminya bergabung dengan mereka.


"Udah! Nanti ganggu. Aku cuma mau berdua saja." Austin meraih tangan Alexa, mengengam dengan erat.


"Ish!" Alexa mendesis. Betapa Austin sangat kekanak-kanakan sekali.


"Berdua aja, sayang! Nanti dia ganggu. Atau malah ngenes sendiri. Kamu tahu, Kan? Dia nggak punya pasangan. Nanti malah ngiri lihat Kita."


"Ngiri? Apanya yang dibuat ngiri? Emangnya kita ngapain?" Alexa mengeryitkan dahi.


Cup


Austin setengah berdiri, dan mengecup pipi Alexa. Kemudian berbisik, "Seperti ini! Bagi jomblo seperti dia, sudah pasti akan iri!"


"Ya ampun!" Alexa hanya bisa menggeleng kepala. Makin hari, ia semakin tahu sisi lain dari Austin. Sungguh berbanding terbalik dengan pria yang dulu terlihat dingin dan pemarah.


Beberapa saat kemudian, pesanan makanan mereka datang.


"Makan ini, coba buka mulutnya!" titah Austin.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Alexa.


"Siapa bilang kamu nggak bisa makan, coba buka mulutnya! Harus makan banyak, biar baby-nya sehat."


Dengan ragu Alexa membuka mulutnya, ia mengunyah dengan malu-malu. Makan sambil menahan senyum. Astagaaa! Keduanya membuat Willi semakin iri.


Tidak mau dekat-dekat dengan pasangan bucin. Willi memilih pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Mau ke mana?" teriak Austin. Ternyata Austin sejak tadi memperhatikan sekretarisnya itu.


"Cari angin, Tuan!" jawab Willi setengah berteriak.


"Jangan banyak-banyak, nanti masuk angin!" cibir Austin.


Willi lantas berbalik dengan senyum kecut, tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa lega karena akhirnya sang atasan bisa menikmati kebahagian. Melihat Austin tidak lagi frustasi karena istrinya yang sempat pergi, setidaknya ia sudah tidak perlu lagi repot-repot mengurus bayi besar tersebut.


Kini Austin sudah ada pawangnya, giliran dia sendiri, ia harus mencari pasangan. Rasanya ia juga ingin ada yang dipeluk dan di tium-tium dengan mesra.


"Hahhh!" Willi membuang napas dan pergi keluar dari area kolam yang jernih tersebut. Meninggalkan cafe dan meninggalkan Austin yang sedang bucin. Willi mau berkelana di sekitar sana, siapa tahu ada yang bisa digoda dan nyangkut denganya.


***

__ADS_1


Tiga hari kemudian


Tengah malam, saat Austin dan Alexa sedang khusuk bertanding, tiba-tiba ponsel Alexa menyala. Suara nyaring membuat konsentarsi Austin buyar.


"Malam-malam siapa yang telpon?" gumam Austin sambil meraih ponsel Alexa di atas nakas.


"Lihat aja, kan ada namanya!" seru Alexa yang masih terlentang di tengah kasur nan empuk namun seprainya sudah berserak.


Baginya tidak masalah, Austin melihat ponselnya. Toh, ia sama sekali tidak punya rahasia.


"Kenapa David malam-malam telpon?"


Wajah Austin seketika masam.


"David? Ada apa?"


"Lah ... makanya aku tanya. Kenapa dia telpon istri orang malam-malam?" ketus Austin yang terlihat kembali cemburu.


"Anggat aja, mungkin penting!" Alexa malah menyuruh suaminya mengangkat telponnya.


Dengan muka sebal, Austin mengeser logo ponsel warna hijau pada layar.


"Hemm ... hallo!" ucapnya dengan sedikit dingin.


"Alexa ada?"


"Kenapa mencarinya? Katakan padaku saja. Nanti aku sampaikan!" ujar Austin sembari menahan emosi. Malam-malam ada yang menghubungi istrinya, ia kan jadi keki.


"Tolong sampaikan pada Alexa, untuk menyempatkan waktu sebentar saja datang ke rumah. Emily demam, dan selalu menanyakan Alexa."


"Nanti aku sampaikan!"


Tut Tut Tut


"Ada apa?"


Austin merasa berat sekali mengatakannya.


"Huffft ... Emily ... dia sakit."


"Sakit?"


"Hemm!"


"Besok kita pulang, ya?" mohon Alexa. Bagaimana pun juga, selama ini ia yang merawat anak itu. Emily membuat ia melupakan luka hatinya pasca tragedi itu.


"Lalu bagaimana denganku?" protes Austin. Ia cemburu pada anak kecil. Apalagi ia tahu David ada rasa pada istrinya. Bisa sangat bahaya bila Alexa kembali ke rumah itu.


"Kita pergi bersama!" ucap Alexa kemudian.


"Ke rumah itu?"

__ADS_1


"Hemm ... pelan-pelan akan aku jelaskan pada semuanya." Alexa seolah mengerti kegundahan sang suami. Dari raut wajah Austin yang lesu, ia tahu suaminya pasti kurang suka dengan keadaan ini.


***


Kabar Emily yang sakit, membuat Alexa menyudahi bulan madu mereka. Mengingat kebaikan David selama ini karena merawat Alexa tanpa menyentuhnya, Austin pun mengantar Alexa ke rumah itu. Sekalian, meski berat, ia harus tetap mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas kejadian yang lalu. Ia kan sempat membuat keributan di kediaman David. Dan Austin masih punya hutang maaf.


Kediaman keluarga David


Emily langsung mau makan saat Alexa yang menyuapi anak itu, dengan manja ia mengelayut pada lengan Alexa. Hal itu hanya membuat David makin gegana.


Sedangkan Austin, ia harus merelakan Emily bermanja-manja pada istrinya. Mau bagaimana lagi, masa mau cemburu pada anak kecil?


Saat hari mulai gelap, waktunya Alexa pamit. Di situ, Emily mulai merajuk. Ia menangis tidak mau dipisah dengan Alexa.


"Tolong menginaplah di sini, malam ini saja!" mohoh mamanya David dengan wajah penuh harap. David dan Alexa sudah menjelaskan semuanya. Mau tidak mau mama harus menerima. Tapi lain dengan Emily. Ia masih kecil, mana paham ia hal yang rumit seperti ini?


"Maaf, Tante. Alexa harus pulang."


Mama David langsung memegang tangan Austin.


"Tolong ijinkan dia bermalam di sini, satu kali saja."


Austin dan Alexa saling menatap.


Pria itu malah mengangguk, mungkin ia merasa iba melihat Emily yang terisak tanpa henti.


"Nggak apa-apa, menginaplah!" Austin mencoba tersenyum, tapi Alexa tahu. Itu hanya senyum palsu. Mungkin itu cara terakhir Austin untuk membalas kebaikan keluarga tersebut.


"Ya sudah, aku akan pulang dengan Willi!" Austin berbalik.


"Mau ke mana?"


"Besok aku jemput pagi-pagi!" ucap Austin dengan nada sendu. Bagaimana pun mana bisa ia rela meninggalkan Alexa walau hanya semalam saja.


"Jangan pulang! Tetap di sini!" Alexa memegangi tangan suaminya. Bersambung.


Hati David makin sesak saja menyaksikan pasangan bucin tersebut.


Haii semuanya....


Jangan lupa baca novel-novel teman Sept ya..


Semoga sukaaaa





__ADS_1


Terima kasih supportnyaaaa ...


Sehat terus ya untuk para reader di manapun kalian berada .... salam lope lopeeee ... Hehhehe


__ADS_2