Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Meski Sudah Pergi Tapi Tetap Di Hati


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 60


Oleh Sept


Rate 18 +


Harusnya Willi tidak bergabung dengan meja makan pasangan bucin tersebut. Memang kenyang, tapi bukan karena makan. Tetapi kenyang karena harus makan hati.


***


"Oh ya, aku nanti mau ke makam mama, ya."


"Besok! Besok aku antar," potong Austin begitu saja. Ia tidak akan membiarkan Alexa pergi sendirian.


"Nggak usah, nanti aku bisa pergi sama sopir."


"Jangan, besok saja." Austin tetap memaksa.


Pria itu kemudian melirik Willi yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


"Besok kosongkan semua jadwal sampai siang," titahnya pada sang sekretaris.


"Baik, Tuan."


Alexa pun menurut saja, malah ia senang. Sekalian mengenalkan Austin pada mamanya. Akhirnya ia deal, besok akan ke makam sang mama bersama Austin, suaminya.


Seperti janjinya pada Alexa, esok harinya Austin pagi-pagi sudah siap untuk mengantar Alexa. Tidak mau terlalu panas, ia bersiap dari pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Nyetir sendiri?" tanya Alexa.


"Iya, aku suruh Willi ke kantor. Ada berkas yang harus ia siapkan."


"Jadi aslinya sibuk banget dong kalian?" Alexa nampak tidak enak.


"Nggak lah! Aku kerja buat siapa?" tatap Austin dengan lembut. Pria itu kemudian memasang sabuknya sendiri. Lalu membantu memasang untuk Alexa.


"Kita lihat Oma ya, Sayang!" ucap Austin sembari menyentuh perut Alexa.


Mbremmmm


WUSHHHH


Mobil warna kuning itu meluncur dengan mulus keluar dari area mansion yang luas tersebut. Kali ini, Austin mengemudi dengan hati-hati. Ia sedang membawa ibu hamil, tidak mau melaju dengan kecepatan tinggi. Yang sedang-sedang saja. Biar pelan asal selamat. Bahkan prinsip dan jiwa pembalap Austin pun perlahan terkikis sejak Alexa kembali di sisinya.


Letaknya paling ujung dan tepi sendiri. Namun, saat Alexa tiba, ia sedikit terkejut. Ada bunga yang lumayan belum layu, mungkin baru ditabur kemarin.


"Ada yang ke sini?" tanya Austin penasaran.


Dalam hati, Alexa pun bertanya-tanya. Siapa gerangan yang mengunjungi makam sang mama. Setahu Alexa, semua orang menatap benci pada sang mama dan pada dirinya.


"Mungkin kenalan mama!" jawab Alexa ragu.


"Mungkin saja," timpal Austin yang juga nampak ragu.


Saat menatap makam mamanya, Alexa menjadi sedih beberapa saat.

__ADS_1


"Ma ... Lexa datang. Lexa datang sama suami Lexa. Ma ... Lexa hamil. Mama pasti ikut seneng, kan? Ma ... Lexa baik-baik saja. Mama yang tenang ya di dalam sana. Lexa sayang mama ... Ma ...!"


Alexa tidak bisa meneruskan kata-katanya, tiba-tiba ia merasa sesak dan sulit untuk bicara. Untung ada Austin, dengan lembut ia meraih pundak istrinya tersebut. Memeluk dan menepuknya, Austin tahu pasti bahwa Alexa sedang merindukan ibunya.


Selesai meluapkan kerinduan serta air matanya. Alexa sudah terlihat lebih tenang.


"Ma ... Alexa pulang ya, Ma. Lexa janji, akan lebih sering datang ke sini nemuin Mama. Maafin Lexa, Ma karena jarang sekali menemui mama... Lexa sayang Mama." Alexa mengusap nisan sang mama dengan mata yang sudah perih dan sembab.


Ketika keduanya berbalik, ada penjaga makam yang kebetulan membersihkan makan di belakang mereka. Kebetulan, Alexa sangat penasaran, siapa orang yang mengunjungi sang mama. Karena Alexa yakin, keluarga dari sang mama sudah tidak ada. Bahkan kerabat jauh pun memilih tidak mau mengakui sebagai keluarga karena scandal dengan pewaris Hutama, hingga lahirlah Alexa.


"Permisi, Pak."


Pria memakai kopyah hitam itu mendongak, menatap Alexa.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, Pak. Saya mau tanya. Kira-kira Bapak ingat tidak, kemarin yang mengunjungi makam mama saya? Yang ini, Pak!" Alexa menunjuk makan di sebelahnya.


"Oh ini ...!" Bapak penjaga itu menatap batu nisan dan bunga yang bertaburan di atas makam.


Pria itu sangat ingat betul, karena baru kemarin. Dan yang membuat ia sangat ingat, itu karena sang pengunjung duduk lama sekali di makam itu. Ada hampir satu jam lebih. Sempat ia bertanya, katanya itu makam istrinya. Merasa kasihan, bapak itu pergi. Meninggalkan pria tua menangisi kematian sang istri. Meskipun tanggal kematian sudah sangat lama sekali.


"Bapak ingat? Kira-kira siapa ya, Pak?"


"Itu ... katanya istrinya, Mbak."


Austin memperhatikan ekpresi sang istri. Terlihat sekali Alexa terkejut. Sedangkan Alexa, ia nampak bingung sendiri, kapan mamanya punya suami? Ada juga sang Papa, tapi mereka tidak pernah menikah. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2