Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Malam Panjang


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 74


Oleh Sept


Rate 18 +


Jika aku bilang skip, kalian pasti akan tetap baca. Jadi, mohon bijak dalam memilih bahan bacaan.


Malam pertama, apa itu malam pertama? Malam pertama adalah salah satu malam yang akan sulit untuk dilupakan. Jangan tanya rasanya seperti apa. Karena rasanya setiap orang yang mengalami pasti akan mengatakan hal yang sama.


Hotel S Marriott


Di salah satu presidential suit. Kamar paling mahal dan mewah, dengan furniture high class, nampak Pevita sedang duduk di depan meja rias.


Ia sedang sibuk melepas pritilan gaun resepsi yang ribet dan crown di atas kepalanya. Sepertinya ada rambut yang nyangkut, membuatnya kesusahan untuk melepas tiara cantik tersebut.


"Tunggu, jangan ditarik paksa!"


Willi yang baru melepaskan jas maroon miliknya, perlahan berjalan ke arah Pevita. Dengan hati-hati ia melepaskan benda seperti mahkota kerajaan itu dari kepala Pevita.


Sedangkan Pevita, gadis yang baru saja melangsungkan pernikahan tadi pagi itu, terlihat gugup saat suaminya berdiri tepat di belakangnya. Seperti ada mahluk halus di sekitarnya, belum apa-apa gadis itu sudah merinding disko.


"Sudah!" Pria itu meletakkan crown di atas meja. Kemudian Willi memutar kursi yang diduduki oleh Pevita, hingga kini keduanya saling berhadapan.


"Mau mandi dulu?"


Glek


Gadis itu menelan ludah dengan kasar. Ia jadi grogi sendiri.


"Atau langsung?"


"Mandi! Vita mau mandi, Mas."


Tanpa menatap suaminya, Vita pergi dengan rasa canggung yang membuncah. Sedangkan Willi, pria itu tersenyum senang. Kemudian mengikuti ke mana Pevita pergi.


Tok tok tok


"Waduh!" Pevita panik saat pintu kamar mandi mulai diketuk. Mana ia sudah melepaskan semua baju-bajunya.


Tok tok tok


"Sebentar!"


KLEK


Pevita membuka sedikit pintu kamar mandi, diintipnya Willi yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Vita dengan kaku.


"Buka sedikit lagi, aku mau ke kamar kecil."

__ADS_1


"Oh!"


Tanpa curiga, gadis itu membuka pintunya lebar-lebar. Kemudian dia bersiap untuk keluar. Tapi, dengan gesit Willi merangsek. Dan langsung menutup pintunya.


"Astaga!" batin Pevita menjerit.


"Ayo mandi!"


"Duh!" Pevita makin merinding.


"Mas Willi duluan, Vita nanti saja."


"Jangan malu, kita sudah menikah, kan?"


Lagi-lagi Pevita dibuat harus menelan ludah.


"Itu ... anuuu ... Vita nanti saja!" Gadis itu mencoba berbalik. Tapi, Willi yang sudah banyak belajar dari bagaimana cara Austin memperlakukan Alexa, ia pun kini sudah lihai membuat Pevita tidak berkutik.


Dengan pelukan dari belakang, ia menahan langkah gadis tersebut.


"Tetap begini sebentar!" bisik Willi lembut di telinga sang istri. Membuat Pevita tambah ketar-ketir.


"Nanti keburu malam, Mas Willi mandi saja duluan."


"Sudah menikah, untuk apa mandi sendiri?"


"Astaga!" batin Pevita melonjak. Dia benar-benar ketemu sugar daddy betulan. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, kepala Pevita mendadak langsung menggeleng keras.


"Malu sama siapa? Sama suami sendiri malu."


"Itu ... emm!" Tiba-tiba Pevita merasa sangat kikuk dan canggung.


"Rileks, Vita ... jangan tengang!" celetuk Willi. Padahal sejak tadi jantungnya juga mau meledak. Melihat Pevita yang hanya mengenakan handuk kimono, rasanya ia sudah ingin membuang kain tebal yang menghalangi pemandangan tersebut.


"Tapi ...!"


Setttttt


Tidak mau mendengar kata tapi, Willi lantas memutar tubuh istrinya.


"Eh!" Pevita terhenyak.


Katanya mau mandi, tapi Willi malah langsung menempelkan bibirnya. Ini bukan mandi, tapi pemanasan. Sebuah kecupann singkat menjadi awal pembuka yang manis untuk malam pengantin mereka.


Hanya sebentar, karena Willi langsung melepaskan Pevita. Detik berikutnya, gemricik air dari atas langsung membasahi tubuh Willi.


"Kita mandi dulu!" seru Willi sambil mengusap wajahnya yang sudah terasa hangat.


Sedangkan Pevita, gadis itu menatapnya heran. Ada apa dengan suaminya itu. Mengapa mendadak membasahi seluruh tubuhnya. Vita tidak sadar, bahwa itu semua dilakukan Willi untuk meredam gejolak panas tubuhnya. Rasanya harus mandi, sebelum mereka melakukan kegiatan inti.


Ketika Willi sedang mandi, Vita hanya bengong di pojokan.

__ADS_1


"Ayo sini!"


"Mas Willi saja duluan. Vita keluar dulu ya."


"Ish ... ya sudah."


***


Setengah jam kemudian


Willi sedang menyemprot parfum paling wangi, sembari melirik ke arah kamar mandi. Kenapa Pevita belum muncul juga?


"Vit ... Vita!"


Willi yang sudah siap, mulai tidak sabar. Ia menunggu sambil bersandar di dinding.


KLEK


Pevita keluar kamar mandi dengan menguatkan organ jantung dan hati. Sejak sah menjadi istri seorang pria seperti Willi. Ia jadi spots jantung sendiri. Bawaanya berdegup tak jelas. Apalagi tatapan pria itu, ah ... rasanya tidak kuat.


"Sudah siap?"


"Hah?"


"Ayo!"


Pevita malah kelihatan begitu gelisah. Mungkin karena masih 17 tahun, ia takut mau dibelah. Padahal, Willi menatapnya dengan lembut.


"Vita baca di artikel, katanya sakit."


"Jangan percaya, kan belom ngerasain sendiri?"


Anak baru gede itu semakin panik dan gelisah tak berkesudahan.


"Kita pelan-pelan saja!"


Bukkkk


"Duduk sini!"


Willi menepuk kasur di sampingnya. Dengan canggung Pevita mulai merambat dan duduk di sebelah Willi. Tanpa basa-basi, karena sudah menunggu sejak tadi. Willi langsung saja mendekatkan wajahnya.


Cup


Dimulai dari bibir, ia mengecupnya lembut. Kemudian menyesapnya secara perlahan. Semakin lama, berubah makin dalam dan menuntut.


Tidak tahan, Willi langsung menyibak handuk kimono miliknya sendiri. Sehingga memperlihatkan barisan roti sobek yang merusak mata.


Dan ketika giliran kimono Pevita yang dilepas secara perlahan, degup jantung keduanya saling berkejaran. Malu, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Tapi, dengan lembut Willi menyingkirkan lengan Pevita yang menutupi pemandangan yang memanjakan mata. Bersambung.


Skip! Wkwkwkw

__ADS_1


__ADS_2