Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Akhirnya


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 56


Oleh Sept


Rate 18 +


Mohon bijak dalam membaca, demi kebaikan bersama. Remaja dan di bawah umur, mohon untuk tidak membaca. Terima kasih.


"Jangan di situ! Aku gak kuat. Geli!"


Alexa menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Seolah melindungi diri dari serangan Austin yang bertubi-tubi.


"Ish ... belum juga masuk!"


"Tapi aman, kan?"


"Aman ... kata dokter nggak apa-apa. Cuma harus hati-hati, jangan kuatir. Aku pelan-pelan nanti."


Mendengar penjelasan Austin, pipi Alexa malah semakin merona. Ia kok jadi merasa malu sendiri.


Tapi ..."


"Tapi apa?"


Austin lalu menurunkan wajahnya, memakai siku sebagai tumpuan. Pria itu menatap dalam mata Alexa. Perlahan wajahnya mulai mendekat, pelan tapi pasti. Akhirnya bibir keduanya pun bertautan.


Tanpa penolakan, dan Austin merasa Alexa benar-benar sudah membuka semuanya pada dirinya. Terasa saat tautan mereka saling menarik, saling menyesap dan menuntut. Meski di sana sangat dingin, nyatanya dua insan itu sudah sama-sama merasa kepanasan. Jiwa mereka berkobar, bergejolak. Menuntut untuk segera dipuaskan.


Sepertinya bulan madu sekaligus babymoon mereka akan berhasil tanpa hambatan apapun. Terlihat dari ranjang mereka yang mula mengeluarkan suara. Entah suara dari ranjang atau suara-suara tak asing dari para penghuninya.


Beberapa saat kemudian.


Bila mereka tadi ada di atas ranjang, sekarang ranjang yang seperti kapal keruk itu sudah tidak ada penghuninya. Dua sejolii yang sedang beradu kasih, mereka sudah pindah posisi.


Austi dan Alexa sedang membersihkan diri, mereka sedang berada di dalam kamar mandi. Apa bisa disebut membersihkan diri? Bila keduanya melanjutkan ronde berikutnya? Ya, pengantin baru. Satu kali pasti kurang. Minta lebih dan lebih.


"Capek, nggak?" tanya Austin sambil membantu membasuh punggung Alexa.


"Sedikit!"


"Oh, kita lanjut nanti. Sekarang mandi dulu. Jangan capek-capek, nanti baby-nya kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Hemm."


"Hadap sini, yang depan belum!"


Alex langsung cemberut, ia sudah capek dikerjain oleh Austin sejak tadi.


"Nggak, aku bisa sendiri!"


Melihat itu, Austin tidak bisa menyembunyikan raut kepuasan pada wajahnya.


"Maaf ya, Sayang!"


Cupppp


Sebuah kecupan mendarat di kening Alexa, Austin merasa tidak enak karena membuat Alexa kelelahan karena melayani dirinya.


"Gak apa-apa! Lagian enak kok!" jawab Alexa dengan senyum usil.


"Astaga!"


Austin tersenyum sambil membuang muka.


"Kenapa? Kamu mau aku jual mahal?"


"Benarkah?"


"Hem ...!"


"Kenapa kamu jadi manis begini?"


"Mungkin karena ini!"


"Ish!!!"


Alexa langsung beringsut ketika Austin merangsek padanya.


"Jangan jauh-jauh!" Austin merengkuh tubuh Alexa, membiarkan derasnya air dari shower menghujani hati mereka yang sedang kasmaran.


***


Terlihat Austin dan Alexa sudah bersih dan rapi, setelah dua ronde mereka memutuskan menikmati suasana di resorts. Austin mengajak Alexa berkeliling, katanya pemandangan di sana cukup bagus dan spektakuler.

__ADS_1


"Willi mana?"


"Tadi aku telpon katanya makan, mungkin dia lapar," jawab Austin sambil menggandeng tangan Alexa. Sesekali ia mengangkat tangan itu. Mengecupnya dengan sayang.


"Oh ... Kita makan ya, aku lapar."


"Lapar rupanya anak Papi, oke. Let's go, kita cari makanan di sana!" Austin menunjuk salah satu cafe dekat kolam renang.


Ketika mereka sedang berjalan melewati tepian kolam renang, mata Austin malah fokus pada tempat duduk paling ujung.


"Sayang, itu Willi, kan?" tanya Austin meyakinkan dirinya sendiri.


"Mana?"


"Itu, di pojok sana!" Austin menunjuk lagi di mana Willi berada.


"Atsaga! Aku kira di tidak punya hati!" tambah Austin.


"Ternyata dia sama saja dengan bosnya!" celetuk Alexa.


"Eh ... !" Austin langsung berhenti berjalan.


"Sama apanya?" sambung Austin yang protes. Tidak mau disamakan dengan Willi. Karena sekarang Willi bahkan satu meja dengan tiga wanita. Secasanova dirinya tidak pernah lebih dari tiga.


"Jangan marah kalau tidak merasa!" celetuk Alexa. Sebenarnya ia menyindir suaminya.


"Kalau aku marah, nanti kamu yang susah!"


Alexa langsung mundur, Austin menyeringai bagai srigala.


"Ish!"


"Karena sudah menuduh yang bukan-bukan, nanti malam hukumannya tripel, ya?"


Bukkkk


Alexa langsung memukul lengan suaminya. Pipinya langsung memerah seperti buah tomat.


Dari jauh, Willi memperhatikan keduanya.


"Ya ampun!" batinnya iri. Ia mendadak baper. Tanpa pikir panjang ia berceloteh pada gadis-gadis di depannya.

__ADS_1


"Will you marry me?"


Seketika, tiga gadis cantik-cantik itu langsung pergi. Mereka pikir Willi sudah gila. Bersambung.


__ADS_2