Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
ULAR BERBISA


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 22


Oleh Sept


Rate 18 +


"Alexa ..." Austin terkejut, mengapa Alexa ada di sana. Ia merutuk dalam hati. Bagaimana bisa Alexa masih ada di sana. Ke mana gerangan sang sekretaris, Gerry yang ia tugasakan mengantar Alexa ke villa. Kalau sudah begini, ia yang kerepotan mengurus dua wanita sekaligus.


"Gerry bilang kamu lagi meeting, apa dia klien kamu?" sindir Alexa sembari berjalan dengan menawan dan langsung duduk di kursi sebelah Austin.


Tidak mau perang dingin di meja yang sama, Austin langsung menarik tangan Alexa. Ia membawa Alexa menjauh dari sana.


"Lepasin! Lepaskan, Tin!!!" sentak Alexa yang terlanjur kecewa dengan pria seperti Austin.


Sedangkan Aurora, wanita itu menatap tak suka saat melihat Austin menarik paksa Alexa. Hatinya panas, melihat keduanya pergi begitu saja. Niatnya mau memanas-manasi Alexa, tapi apa yang terjadi. Kini Austin membawa pergi Alexa, misi Aurora gagal membuat Alexa sakit hati dan cemburu.


Di sudut taman rumah sakit Harapan.


"Lepasin!" Alexa mendorong tubuh pria itu hingga menjauh. Ia menatap benci. Alexa merasa sudah cukup bersabar dan bertahan menghadapi Austin selama ini. Rasanya ia sudah lelah. Alexa pun mulai muak dan ingin mengakhiri luka hatinya mulai sekarang.

__ADS_1


"Xa! Jaga sikap kamu!" sentak Austin yang mendapati Alexa mulai berani. Selama ini Alexa begitu penurut, jarang sekali mengeluarkan ekpresi atau tindakan kasar.


"Kamu yang jaga sikap kamu ... tapi tidak apa-apa. Lanjutkan! Lanjutkan saja apa seperti maumu. Aku nyerah!"


Alexa berbalik, ia berniat mengakhiri semua kegilaan ini.


"Xa!!! Alexa!" teriak Austin ketika melihat wanita itu pergi menjauh darinya.


Alexa pergi dengan hati yang terluka, sedangkan Austin. Pria itu sama sekali tidak ada niatan untuk mengejarnya


***


"Hemm!" jawab Austin tanpa ekpresi. Ternyata, bukannya mengejar Alexa, pria itu justru kembali menemani Aurora.


Rainbow Gardens Villa


"Non, Non mau ke mana? Nanti tuan muda marah pada Bibi kalau Non Alexa pergi?"


Bi Wati panik saat melihat nona mudanya mengemasi beberapa barang dan memasukkan semua ke dalam koper.

__ADS_1


Alexa tidak peduli, ia terlanjur sakit hati. Selama ini ia bisa menahannya, berharap hati pria yang membatu itu bisa mencair seiring berjalannya waktu. Ternyata Alexa salah, semakin bertahan semakin banyak luka yang ia dapat.


"Dia nggak akan marah!" Alexa menatap Bibi kemudian meraih tas slempang yang ada di atas ranjang.


"Terima kasih, Bi. Alexa pergi!" Ia menyentuh pundak asisten yang selama ini baik padanya. Meskipun orang lain, sejujurnya wanita itu jauh lebih baik dari pada keluarganya sendiri.


Tidak punya pekerjaan, dan ia meninggalkan semua fasilitas yang semula diberikan Austin pada dirinya. Tak punya pilihan, Alexa memutuskan pergi ke rumah papanya. Meski seperti neraka, setidaknya ia butuh tempat tinggal untuk sementara waktu.


Kediaman Hutama.


Sebuah taksi berhenti di depan rumah lantai lima. Dari luar terlihat seperti bukan rumah biasa. Ya, Alexa merupakan anak konglomerat. Keluarga papanya merupakan orang yang terpandang di negeri ini. Tapi, Alexa bagai noda dalam keluarga tersebut.


Gadis itu sengaja tidak terekspose karena terlalu banyak skandal sejak muda yang menyeretnya dalam jejak hitam di media. Kini, Alexa akan kembali ke rumah itu. Bagaimana pun juga, ia tetap anak pria pemilik bagunan megah yang kini berdiri kokoh di depannya.


Saat Alexa datang, penjaga langsung membuka lebar pintu pagar otomatis tersebut. Mereka semua menundukkan wajah saat Alexa berjalan melewati para bodyguard sang papa.


Bruakkkkk


Terdengar suara pintu dibanting dengan kasar.

__ADS_1


"Astaga! Kenapa kau ke sini? Mau mengemis uang Papa?" cetus Dinda. Baru datang, ia menyambut kakaknya dengan sindiran yang menohok. Bersambung.


__ADS_2