Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Stempel Hak Milik


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 59


Oleh Sept


Rate 18 +


"Maaf ... Aku pikir, hanya aku yang menderita." Alexa menundukkan wajahnya dengan dalam. Mana tahu Alexa selama ini jika suaminya itu sangat tersiksa. Alexa pikir, bila selama ini hanya dirinya yang menjadi korban. Ternyata, suaminya pun sama.


Tidak mau melihat sang istri tertunduk sedih, Austin pun meraih bahu Alexa. Memeluknya dengan hangat. Baginya, sekarang harus membuat Alexa bahagia adalah prioritas utamanya. Ia tidak akan membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali berteman dengan kesedihan. Cukup di masa lalu, mereka saling tersakiti tanpa kepastian.


"Ya ... kamu memang benar. Kamu yang paling menderita. Aku yang harusnya meminta maaf. Membuatmu melewati masa-masa sulit seorang diri. Maafkan aku, Alexa ... maafkan kebodohanku selama ini!"


Mendengar semua penyesalan Austin, wanita itu langsung menggeleng, dan mempererat pelukannya. Saling memaafkan dan memulai dari awal adalah jalan terbaik merelakan rasa sakit. Yang terpenting adalah sekarang, Alexa sudah sangat nyaman dan merasakan bahagia karena merasa dicintai oleh orang yang juga selama ini bersemayam jauh di lubuk hatinya yang terdalam.


Beberapa saat kemudian. Setelah melewati negosiasi yang alot dengan Emily, akhirnya Alexa bisa pulang dengan tenang. Bila anak itu merindukan dirinya, Emily bisa menginap di rumah Austin. Tentunya hanya Emily, tanpa bapaknya. Kalau sama papanya, jelas Austin langsung cemburu.


Keduanya meninggalkan kediaman David saat siang menjelang. Mereka dijemput oleh Willi. Seperti biasa, saat dalam perjalanan menuju mansion, Willi harus kembali lagi menjadi saksi bisu. Menyaksikan pemandangan yang mengusik Iman. Astaga!


Dasar Austin yang tidak peka atau malah sengaja, pria itu malah bermesra-mesraan di kursi belakang dengan Alexa. Hanya membuat ngilu saja.


"Ehem ... Tuan, kita sudah sampai."


Austin langsung membetulkan duduknya, tanpa melihat Willi, ia langsung turun dan memutari mobil. Membuka pintu untuk sang istri.


Alexa masih tertegun, sebenarnya setan apa yang merasuki suaminya itu. Sikapnya jadi lebih manis dan sangat perhatian, Austin jadi pribadi yang sangat hangat sekali, bener-bener dambaan para kaum hawa.


"Selamat datang di rumah kita!" ucap Austin sembari membuka pintu yang berukuran sangat lebar tersebut.


Alexa tersenyum saat melangkah masuk ke dalam mansion mewah itu. Austin bilang itu rumah kita. Kalau Austin terus-terusan bersikap manis begini, Alexa takut. Takut nanti lama-kelamaan kena diabetes.


KLEK


Ganti mereka masuk ruang utama. Ruangan yang sempat seperti kapal pecah terkena tsunami dan badai Katrina itu kini terlihat rapi, bersih dan wangi. Siapa dulu pelakunya? Berkat Willi, semua bisa dilakukan oleh sekretarisnya itu.


Mansion yang semula sepi, kini sudah disiapkan satu tim asisten rumah tangga yang akan siap melayani keduanya. Mengingat Alexa yang sedang hamil, hal-hal kecil seperti itu sudah dipikirkan oleh Austin. Melalui sekretarisnya, Austin sudah terima beres.


Malam harinya


Suasana sudah mulai sepi, para ART sudah beristirahat di kamar masing-masing. Begitu pula Willi. Austin sudah mengusirnya, kali ini tidak boleh menginap. Lain cerita saat dulu sebelum Alexa pulang. Sekarang pokoknya dilarang keras pria lain menginap di mansion miliknya tersebut.


Kini keduanya sudah berbaring di atas kasur yang empuk, dengan kain seprai yang selembut sutra. Austin lalu mengambil remote, ketika ia pencet benda pipih itu, tiba-tiba atap di atasnya berganti.

__ADS_1


Kini langit-langit kamar mereka berubah menjadi kaca transparan. Bisa langsung melihat bintang dan bulan dari posisi mereka sekarang.


"Cantik sekali langitnya," puji Alexa sambil bersandar pada bagian yang bidang tersebut.


"Cantikan kamu ke mana-mana!" Austin modus.


"Ish ... gombal!"


"Kamu kan emang cantik Alexa, cantik sekali. Sekali kamu goda aku langsung terpikat!" tutur Austin dengan jujur.


"Benarkah? Tapi ... dulu bukannya kamunya marah-marah. Menatap dengan benci sekali ke arahku!"


"Kamu kan gak tahu hati seorang laki-laki, Sayang. Bisa saja ia bilang benci atau tidak suka, tapi hatinya lain. Terbentur gensi dan ego yang tinggi."


Alexa mengerucutkan bibir dan Austin langsung merapatkan barisan, ia mendekap Alexa hingga wanita itu tidak bisa lepas.


"Jangan dekat-dekat, lama-lama jadi gerah. Turunin AC-nya dikit ya," pinta Alexa.


"Ngapain nyalahin AC, sengaja tadi aku matiin."


"Loh kok?"


"Biar tambah gerah!" bisik Austin penuh misteri.


"Sayang! Kamu yakin ini gak masalah? Aku lagi hamil!" Alexa kok jadi gelisah sendiri, trimester pertama ia mendapat banyak serangan dari suaminya. Ia takut bila janin mereka kenapa-kenapa.


"Kan aku bikinnya kalem banget, Sayang!"


"Kalem apa! Kalau udah di atas kamunya udah hilang kendali!" cibir Alexa dengan nada mengejek.


"Oh!" Austin tidak bisa menahan untuk tak tersenyum. "Itu karena ... ah sudahlah!" Seperti anak gadis, Austin nampak malu-malu kucing.


"Tuh, Kan!"


"Habisnya ... nyandu banget!" bisik Austin sembari mengigit kecil telinga Alexa.


"Nah ... nah! Geli."


Bukannya berhenti, Austin malah menciptakan banyak jejak di area leher jenjang tersebut. Entah berapa stempel yang ia buat di sekitar sana.


***

__ADS_1


Esok harinya


"Sayangggg!" pekik Alexa saat di kamar mandi.


Austin yang masih tidur langsung terbangun, ia mencari ke sumber suara.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Austin panik.


Rambutnya masih acak-acakn dan CEO yang biasanya rapi dan berwibawa itu kini hanya memakai celana kolor pendek di atas lutut.


Alexa yang mau marah, kini malah tidak bisa menahan senyumnya. Penampilan Austin benar-benar mengelikan.


"Hey! Kok malah tersenyum? Kenapa tadi teriak-teriak?"


"Tidak ... tidak ada apa-apa!"


KLEK


Alexa menutup pintu kamar mandi, ia meneruskan tawanya di dalam sana. Melihat Austin bangun tidur dan langsung bergegas menemui dirinya, terlihat sangat konyol. Seperti bukan suaminya, Austin pagi ini nampak mengelikan di mata Alexa.


Beberapa saat kemudian


Willi sudah datang untuk menjemput Austin.


"Ikut sarapan bersama kami ya, Will!" pinta Alexa.


"Tidak Nona, terima kasih." Willi menolak, meskipun ia juga belum makan pagi.


"Duduk, makan saja bersama kami," sela Austin yang kala itu sedang fokus pada layar tabnya.


Mau tidak mau, Willi pun duduk. Sekretaris Austin yang paling setia itu kebetulan duduk berhadapan dengan Alexa. Ketika makanan sudah datang, tanpa sengaja Willi melihat ke arah Alexa yang memang mengajaknya berbicara.


"Silahkan dimakan," ucap Alexa.


"Terima kasih, tapi ... Nona Alexa ... em ... apa Nona memiliki alergi?"


"Hah?" Alexa mengeryitkan kening.


Austin lalu ikut melihat ke arah istrinya, bibirnya seketika tersenyum saat melihat Willi serta Alexa.


"Bukan! Itu bukan alergi! Menikahlah ... nanti kamu bakal mengerti!" cetus Austin sombong.

__ADS_1


"Siallll!" gerutu Willi dalam hati. Bersambung.


__ADS_2