Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Pria Itu Adalah


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 45


Oleh Sept


Rate 18 +


"Kalian itu dokter! Mengapa tidak tahu sakitnya apa?" sentak Austin di depan sebuah bangsal rumah sakit.


Pria itu menuntut tenaga medis karena istrinya belum sadar juga setelah beberapa jam yang lalu. Hingga sekretarisnya harus menenangkan Austin. Karena Austin terlihat hilang kendali. Emosinya tidak terkontrol saat itu.


Baginya cukup sekali kehilangan Alexa, ia tidak mau wanita tersebut hilang dari sisinya.


"Lakukan apapun! Telpon dokter terbaik, Will! Lakukan apa saja! Buat dia bangun!" ujar Austin yang nampak depresi.


Sedangkan di dalam bangsal rumah sakit, Alexa masih memejamkan mata. Dahinya dipenuhi bulir keringat dingin. Dan dahinya berkerut, sepertinya ia sedang mimpi buruk.


Austin yang kebetulan baru masuk ke dalam ruangan itu, bergegas menghampiri Alexa yang terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Lexa ... bangun Lexa! Jangan bertingkah seperti ini. Kau tahu bukan? Aku tidak suka main-main! Lexa ... Lexaaa!"


Austin mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa tidak berdaya jika sesuatu yang buruk menimpa istrinya.


"Jangan ... jangan sentuh aku ... ku mohon. Jangan!"


Alexa mengigau, dan ketika ia membuka mata, Austin sudah memeluk tubuhnya.


"Sebesar itulah kamu membenciku, Alexa? Bahkan dalam tidur pun kau mendorongku jauh!" bisik Austin.


Alexa yang tidak tahu apa-apa, mencoba mendorong tubuh Austin. Rasanya begitu sesak dan teramat sakit.


"Jangan menyentuhku!" Alexa menjerit.


Melihat betapa besar rasa benci Alexa di matanya. Austin mundur dengan hati yang sama sakitnya.


Mengapa ketika Alexa bangun, wanita itu mengusirnya. Mana Alexa yang dulu, Alexa yang mengelayut manja pada dirinya. Alexa yang selalu menghangat malam-malamnya.


Sesaat kemudian dokter datang bersama perawat. Karena kondisi pasien kurang stabil, apalagi dokter melihat sang pasien tidak nyaman dan merasa terganggu dengan kehadiran Austin. Maka, dokter meminta Austin menjaga jarak. Makin hancurlah hati pria tersebut. Sudah ketemu istrinya yang lama hilang, kini malah disuruh jaga jarak.


"Dia istri saya!" protesnya.

__ADS_1


"Pak Austin, ini demi psikologis istri Pak Austin."


"Omong kosong!" Austin tidak peduli. Ia masih berdiri di tepi ranjang.


"Suster, tolong antarkan Pak Austin ke luar."


Dokter laki-laki itu melirik pada suster yang sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka.


"Baik, Dok! Mari Pak Austin."


Akhirnya dengan langkah berat, Austin ikut keluar. Namun, ia masih tetap di sekitar sana. Duduk di depan kamar Alexa.


Beberapa saat kemudian


"Siapa kalian?"


Austin menghadang seorang dokter wanita yang akan masuk bangsal Alexa. Di belakangnya juga ada seorang suster dengan membawa beberapa alat.


"Maaf, Pak. Silahkan tunggu di luar."


KLEK


Hampir satu jam lebih, barulah seorang dokter muncul dan keluar dari ruangan Alexa.


"Istri saya kenapa?"


Baru keluar langsung diberondong pertanyaan oleh Austin.


"Mari, Pak. Ikut kami." Dokter itu pun berjalan terlebih dahulu melewati Austin.


Ruangan dokter Arumi.


Austin mengamati dengan saksama dokter yang sedang duduk di hadapannya. Raut wajahnya nampak jengkel karena dokter itu terkesan lamban, berbelit-belit. Tidak bicara langsung sejak tadi. Terlalu banyak basa-basi. Sedangkan Austin sudah tidak sabar sejak tadi menunggu penjelasan dokter tersebut. Mengapa istrinya harus ditangani oleh dokter yang berbeda.


"Maaf, Pak sebelumnya ... em ... apa istri Pak Austin pernah mengalami kekerasan atau pelecehan dan sejenisnya?" pancing dokter tersebut.


"Maksud, Dokter?"


Meskipun bibirnya bertanya. Tapi, otak Austin langsung kepikiran tentang apa yang ia lakukan pada Alexa semalam.

__ADS_1


"Trauma, sepertinya istri Pak Austin memiliki trauma yang mendalam."


Austin langsung menelan ludah. Jangan-jangan ini gara-gara semalam, pikirnya.


"Tidak! Tidak pernah!" jawab Austin sembari memutar kedua bola matanya.


Dokter di depannya tersenyum tipis, sepertinya ia tahu kalau Austin menyembunyikan sesuatu.


"Begini Pak Austin, sebagai dokter, saya hanya menyarankan yang terbaik. Bila Pak Austin berkenan untuk kerja samanya, maka lebih cepat akan lebih baik."


"Dok, anda bicara apa? Istri saya baik-baik saja!" ujar Austin kesal.


"Istri Pak Austin tidak baik-baik saja. Traumanya saat ia remaja kembali muncul. Seperti yang saya tanyakan sebelumnya, entah Pak Austin tahu atau tidak. Sepertinya istri Pak Austin mengalami pelecehan atau semacamnya ketika ia masih remaja. Apa Pak Austin tahu?"


Austin terlihat berpikir keras, apa itu Eric? Apa itu Eric yang merengut kesucian Alexa? Austin kembali menerka-nerka. Tanpa permisi, Austin langsung pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut. Padahal dokter belum selesai bicara.


***


"Cari semua berita tentang keluarga Hutama beberapa tahun silam. Cari semua tentang seluk beluk dan kasus dari keluarga itu!"


"Baik, Tuan." Willi menundukkan kepala kemudian pergi untuk melaksanakan perintah.


Cukup lama Austin menunggu hasil kerja anak buahnya. Sementara sembari menunggu, ia hanya bisa duduk di depan ruangan Alexa. Istrinya sama sekali tidak mau bertemu dengannya. Sekali ia nekat masuk, Alexa malah menjerit dan histeris. Melempar apa saja ke arahnya. Benar-benar apes.


Sampai malam menjelang, Willi datang dengan banyak berkas di tangannya. Pria itu juga membawa sebuah tas, entah isinya apa saja. Yang jelas, seharian ini ia dan para tim lainnya bersusah payah mengumpulkan banyak berbagai sumber data yang diminta oleh Austin.


"Sebanyak ini?" mata Austin melotot, betapa banyak sekali skandal keluarga Hutama tersebut.


Austin lantas memilih yang berhubungan dengan Alexa saja. Sementara skandal orang tuan dan keluarga besar wanita tersebut, Austin sama sekali tidak tertarik.


Pria itu membuka lembar demi lembar, matanya tajam bagai elang ketika membaca informasi demi informasi yang ia baca. Kebanyakan tentang berita tentang kemunculan Alexa yang disinyalir sebagai anak haram dalam keluarga Hutama. Dan Austin sama sekali tidak tertarik.


Kemudian ia sampai pada lembar tragedi memalukan putri pertama keluarga Hutama yang bergaya hidup bebas. Gadis 17 tahun itu harus menahan malu, ketika wajahnya terpampang di semua media masa.


Latar hotel membuat Alexa dicap sebagai gadis tidak baik. Apalagi para wartawan mengemas berita itu seolah-olah Alexa habis bersenang-senang dengan seorang pria. Dari gambar yang didapat, penampilan Alexa memang sangat mempengaruhi pandangan publik. Hingga semua orang menatap miring padanya.


"Kau sudah ambil rekaman CCTV-nya? Siapa pria brengsekkk yang bersamanya saat itu?" tanya Austin dengan tatapan benci.


Willi seketika menelan ludah. Sepertinya ia sudah melihat rekaman itu sebelumnya. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2