Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Sesi Pembuka


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 54


Oleh Sept


Rate 18 +


Area skip ya, bukan bacaan pelajar, jomblo dan sejenisnya. Bacaan untuk yang sudah menikah. Semoga makin lengket kaya perangko.


Sangrilla Heaven Resorts


Di dalam sebuah mobil warna hitam di sebuah parkiran resort ternama. Sebelum turun dari mobil, Austin membetulkan jas dan kemejanya yang sedikit kusut, sedangkan Alexa juga melakukan hal yang sama. Ia merapikan rambutnya dengan jari-jarinya yang lentik. Sementara itu, di balik kemudi, Willi terlihat tersenyum kecut.


Ini semua lantaran di sepanjang perjalanan, ia harus menahan mata, telinga dan hati. Austin benar-benar Keterlaluan. Sudah tahu ada dirinya di dalam mobil yang sama, pria itu seolah menganggap dirinya tidak ada. Dengan bebas bosnya itu bergelirya dan membuai Alexa.


Suara-suara kecupan dan desisan cukup menguji nyali Willi untuk bisa tetap konsentarsi pada jalanan. Untung saja ia masih bisa fokus. Karena ketebalan iman yang kuat, Willi bisa bertahan.


KLEK


Sekretaris Austin itu memutuskan turun lebih dulu, bukannya ikut turun Austin malah memanfaatkan kesempatan. Austin mengunci pintu mobil dari dalam, dah Willi yang menyadari akan hal itu, ia lantas pergi sembari mengumpat.


"Benar-benar, ish!" rutuk Willi. Tidak mau makan hati atau iri, pria itu akhirnya menepi sendiri. Mau mencari udara segar, satu oksigen dengan pasangan itu, cukup membuatnya sesak. Sepertinya ia juga butuh pasangan. Sibuk mengurus Austin selama ini, ia sampai tidak sempat mencari gandengan.

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Ayo keluar, ngapai di sini?"


"Iya, bentar aja!" Austin menatap Alexa dengan tatapan ingin.


Tangan Austin pun sudah mulai masuk dan menjalar dengan lancar di balik dress motif bunga-bunga yang Alexa kenakan.


"Austin! Di dalam sana saja!" pekik Alexa yang merasakan tangan nakal suaminya.


Cup


Alexa terlalu saja berisik, pria itu pun langsung membungkam dengan bibirnya.


Alexa mendorong tubuh Austin saat pria itu mengigit bibirnya kecil.


"Ayolah!"


"Iya ... iya!" ucap Austin yang wajahnya sudah terasa panas dingin. Habisnya ia sudah menunggu lama moment seperti ini. Baginya, Alexa seperti oase di gurun Sahara. Sudah terlalu lama ia merasa kekeringan dan gersang. Begitu dekat dengan Alexa, ia ingin menebus semua rasa dahaga yang lama ia tahan-tahan.


Sedangkan Alexa, ia melihat kesal. Austin tidak pernah berubah. Untuk satu hal itu, pria itu selalu bersemangat. Seperti memiliki energi lebih, tidak pernah puas dan cukup. Maunya lagi dan lagi.

__ADS_1


Kini, setelah mendapat kunci kamar. Austin memberikan satu untuk Willi dan satu lagi untuk dirinya. Dengan semangat 45, ia menggandeng tangan Alexa menuju kamar mereka berdua. Di belakang, nampak Willi yang hanya bisa menggeleng kepala dan sedikit iri.


Keromantisan keduanya terlalu terpampang jelas tanpa pembatas, membuat nalurinya sebagai seorang pria juga ikut terkoyak. Ketika sampai di kamarnya, Willi langsung memeriksa kontak di dalam ponselnya.


"Ish!" Ia mendesis kesal, banyak nomor di sana tapi hanya nomor klien dan rekan bisnis dan karyawan saja. Ia benar-benar tidak punya nomor teman wanita yang bisa ia aja hanya sekedar bicara. Dengan masam, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian menatap langit-langit kamarnya. Sepertinya ia harus tidur saja!


Kamar sebalah.


Bila Willi harus menelan pil pahit karena baru menyadari bahwa ia jomblo akut, lain cerita dengan sang atasan. Baru masuk kamar, Austin sudah membuang kemejanya.


Seperti diburu waktu, ia bergerak begitu cepat. Membuat Alexa tidak banyak bicara. Karena ia juga sama saja ternyata. Begitu masuk, ia melempar sepatu yang semula ia kenakan.


Setttttt


Austin merengkuh pingang Alexa. Sebuah kecupan singkat menjadi pembuka untuk kegiatan berikutnya.


"Geli!"


Alexa mundur karena Austin membuatnya kegelian, pria itu terus saja mendesak. Hingga Alexa terduduk di tepi ranjang, sedangkan Austin, pria itu kemudian berjongkok di depannya. Bersambung.


Hehehe

__ADS_1


Terima kasih sudah skip. Wkwkwk


__ADS_2