Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 65


Oleh Sept


Rate 18 +


Will tersenyum remeh, kemudian memilih pergi meninggalkan Pevita yang ia pikir hanya bocah.


Tap tap tap


Dengan sepatu kets yang ia kenakan, sangat muda bagi Vita mengejar langkah kaki Willi yang panjang itu.


"Satu minggu! Kalau tidak mau satu bulan, satu minggu saja!" tawar Pevita yang terus mengikuti Willi sampai lahan parkir di kawasan cafe tersebut.


Willi membuang napas dengan berat.


"Aku katakan padamu, di usiaku yang sekarang. Aku tidak butuh main-main! Dan sepertinya kamu gadis cerdas. Pasti paham apa maksudnya!"


"Kau sedang mencari pendamping hidup, bukan?"


Bruakkk


Willi membuka pintu dan membantingnya lagi. Sorot matanya tajam, membuat Vita sedikit ngeri.


"Apapun itu, itu urusanku. Dan kita baru kenal. Jangan ikut campur."


Willi terlihat sebal dan akan masuk mobil, tapi kata-kata Pevita membuatnya terpaku.


"Kamu pikir aku senang melakukan hal gila ini? Oke! Sepertinya aku harus mengatakan sejujurnya. Dari pada aku menjual diri pada pria hidung belang untuk menutup biaya kuliahku."


Willi tertegun sejenak.


"Cari pekerjaan yang benar, kamu cerdas. Pasti banyak lowongan."


"Sudah! Tapi belum cukup!"


"Sudahlah, itu bukan urusanku!"

__ADS_1


Willi langsung masuk mobil, dan Pevita mengetuk kaca jendela mobil berkali-kali.


"Apa lagi?"


"Numpang sampai ujung jalan!"


"Ish!" Willi mendesis kesal. Namun, tetap ia beri tumpangan.


***


"Di sini?" tanya Willi yang menghentikan mobil dengan ragu.


Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat papan besar bertulisan nama sebuah hotel.


"Terima kasih!" ucap Pevita saat melepas sabuk pengaman.


Sebenarnya maunya tidak peduli, tapi dalam hati ia penasaran. Dengan terpaksa Willi pun bertanya.


"Untuk apa ke sini?"


"Bertemu klien ke 2," jawab Pevita dengan senyum.


"Kau benar mau menjual tubuhmu?" tatap Willi tidak percaya.


"Sudah kubilang! Aku butuh banyak uang!"


KLEK


Pintu dikunci otomatis oleh Willi.


Mbremmmm


Wushhhh


Mobil itu langsung melaju meninggalkan hotel tersebut.


"Hey! Apa yang Mas lakukan? Aku mau turun!" pekik Pevita yang merasa aneh dengan sikap pria di sampingnya.

__ADS_1


Chitttt


setelah beberapa kilo meter, akhirnya mobil itu berhenti. Willi langsung meraih tas hitam di jok belakang.


"Berapa yang kamu butuhkan?"


Bukkk


Ia melempar amplop coklat yang cukup tebal ke pangkuan Pevita.


Pevita yang memang butuh biaya kuliah dan sebenarnya untuk operasi adiknya. Berbinar-binar saat melihat lembaran uang yang banyak itu.


"Ini untukku?"


"Hemm!"


"Terima kasih!" ucap Pevita dengan tulus.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" sambung Pevita kemudian.


"Keluar dari mobilku!" ujar Willi dingin.


"Ish!" Pevita langsung memperlihatkan senyumnya yang manis karena lesung pipinya itu.


Ia merasa menang jackpot, ditolong pria baik hati saat ia dalam kondisi terjepit. Sebagai ucapan terima kasih, karena saking senangnya, Pevita beranjak dan mendekati Willi dengan spontan.


Cup


Ia kecups bibir yang terasa hambar dan dingin tersebut.


"Makasih, ya!"


Willi tertegun, entah sudah berapa tahun ia tidak mendapat sentuhan dari kaum hawa. Satu tindakan spontan dari Pevita, membuat Willi ngeblank.


"Makasi banyak!"


Pevita pun bersiap mau turun tapi, tangan Willi malah langsung merengkuh pinggang gadis tersebut. Salah sendiri, Pevita sudah membangunkan beruang kutub yang sedang hibernasi.

__ADS_1


Gadis itu terbelalak saat Willi menempelkan bibir mereka lagi. Untuk sesaat ia terkejut, tapi kemudian menikmati dan terbawa suasana. Apalagi sesapan pria itu membuatnya merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya meremang. Bersambung.


__ADS_2