Xiao Xia Putri Jendral Perang

Xiao Xia Putri Jendral Perang
BAB 116. CALON RATU KERAJAAN BINTANG


__ADS_3

Karena sudah merasa geram Xiao xia akhirnya memarahi mereka berdua.


"Diam! Kalian berdua sungguh berisik," bentak Xiao xia dengan keras. Ajaib nya mereka berdua langsung diam tidak ada yang berbicara sepatah katapun lagi.


"Nah, bukan kah seperti ini kalian lebih manis. Dan oh ya, aku belum tahu siapa diri mu dan apa maksud mu seenaknya saja memanggilku sayang dan memeluk ku?" tanya Xiao-xia yang tidak mengenal.


"Tuan putri, beliau adalah pangeran Xue yi, putra dari Selir Yin ye. Selir Yin ye adalah istri dari anak pangeran ke dua, Pangeran Zhun," Jelas Tetua Liu.


"Jadi bisa di katakan kau adalah Jie-jie ku," sambung Xue yi hendak memeluk Xiao xia kembali.


"Berhenti! Jangan memeluknya," cegah Kaisar Zhao cemburu, tidak ikhlas jika wanita ya di peluk laki-laki lain di depan matanya.


"Aku belum mengerti. Kalian jelaskan nanti saja," jelas Xiao Xia dan di angguki Tetua Liu.


"Baik putri."


Xiao Xia menatap Xue Yi, "Setelah ini kita kemana?" tanyanya


"Bagaimana kalau kita ke istana?" jawab Xue yi.


"Apakah itu akan baik baik saja?" tanya Xiao xia mengerut kan kening.


"Tentu saja, aku akan membawa mu Jie-jie. Jadi kamu tenang saja, " jelas Xue yi manja.


Sungguh Kaisar Zhao yang melihat ingin sekali menghajar Xue yi yang begitu berani bermanja di depan nya, dan itu sungguh sangat menyebalkan.


"Baiklah ayo kita berangkat," ucap Xiao xia.


Namun sebelum itu Tetua Liu menahan nya, "Tunggu tuan putri."


"Ada apa?" tanya nya bingung.


Tetua Liu berdiri di depan semua prajurit dan pangeran beserta jenderal yang terluka parah.


"Semua nya dengarkan perintah ini. Yang mulia Putri Xiao yun cucu dari Ratu Huanran telah kembali, dan saat ini beliau ada di depan kita. Bagi yang membelot atau memberontak maka akan mendapatkan hukuman mati bersama keluarga," teriak Tetua Liu dengan suara lantang.

__ADS_1


Sedangkan Xiao xia yang mendengar melotot tidak percaya. Pikirnya kapan ia berbicara seperti itu? Aneh sekali.


"Kenapa dia bicara seperti itu? Aku kan sama sekali tidak mengatakan itu," gerutu Xiao xia kesal.


Kaisar Zhao yang ada di sampingnya memeluk pinggang Xiao xia, "Biarkan saja sayang, itu agar mereka semua tidak memberontak," jelas Kaisar Zhao mencoba mencium Xiao xia.


Namun sebelum bibir itu mendarat suara seseorang menghentikan niat nya.


Ehem...Ehem...


Suara Jenderal Choe mengganggu niat Kaisar Zhao.


Kaisar Zhao yang meliaht siapa itu mendengus kesal. "Hah...selalu saja," Gerutu nya dalam hati.


Xiao Xia yang melihat wajah di tekuk itu, tersenyum. "Sabar lah, apakah kamu tidak bisa sabar sedikit saja sayang?"


"Baiklah aku akan bersabar saat ini


Tapi tidak nanti malam, aku akan menghukum mu," ucap Kaisar Zhao berbisik.


"Tetap saja, dan tidak akan pernah lupa," Kaisar Zhao menggigit sedikit telinga Xiao xia, membuat sang empu merona.


"Bersiap siaplah nanti malam, aku akan membuat mu tidak tidur semalaman," bisik nya menggoda.


..


..


Kini mereka semua pergi dari tempat itu, termasuk kedua pangeran yang terluka parah menuju Kerajaan Bintang.


Xiao xia dan Kaisar Zhao naik kereta milik Raja Zhaen. Sedangkan yang lainnya menunggangi kuda termasuk Xue yi.


Setelah sampai di depan gerbang kerajaan. Prajurit yang berjaga membuka pintu gerbang dan mereka semua masuk ke dalam istana. Sedangkan para prajurit kembali ke tempatnya masing masing.


.

__ADS_1


.


Keesokan malam.


Xiao xia di temani oleh seorang dayang pribadinya membersihkan diri. Xiao xia sangat ingin berendam, mengingat beberapa hari ini ia begitu sangat lelah dan letih karena harus bertarung melawan musuh-musuhnya.


"Yang mulia putri air nya sudah siap," ucap Wenwen sopan.


Semua dayang dan prajurit atau pun petinggi kerajaan dan masyarakat telah mengetahui bahwa Xiao xia adalah calon ratu kerajaan bintang.


Antusias masyarakat menyambut penuh bahagia karena Xiao xia akan menjadi ratu di kerajaan bintang. Semua nya berharap dengan ada nya ratu baru ini akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi penduduk kerajaan bintang.


"Baiklah siap kan pakaian untuk ku setelah itu keluarlah."


"Tapi yang mulia, saya harus melayani anda mandi hingga selesai," jawab Wenwen.


"Tidak usah. Aku tidak terbiasa di layani saat mandi. Jadi pergilah setelah menyiapkan pakaian ku," tolak Xiao xia.


Wenwen bingung, apakah ia harus menuruti permintaan calon ratu nya atau tetap melayaninya.


"Pergilah," perintahnya lagi.


Karena Xiao xia terus menerus menyuruhnya untuk pergi, akhirnya Wenwen pun pergi meninggalkan kamar itu setelah menyiapkan pakaian yang akan di kenakan calon ratunya.


.


.


.


Bersambung.


Selamat membaca.


Jangan lupa like and komen.

__ADS_1


__ADS_2