
Tak terasa Xiao xia sudah beberapa tahun hidup di dunia kuno itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun pun berganti.
Dan saat ini seorang gadis cantik sedang berada di gunung es untuk mengambil sebuah bunga kehidupan yang berada di sebuah danau yang terletak disana.
"Uh...dinginnya." ucap Xiao xia membekap tubuhnya sendiri. "Apakah masih lama?" tanya Xiao xia kepada Phoenix.
"Sebentar lagi kita sampai Xia, bersabarlah," ucap Phoenix.
"Baiklah," ucap Xiao xia.
Beberapa jam mereka terbang, akhirnya mereka berdua melihat sebuah danau yang begitu jernih dan tenang.
"Nah kita sudah sampai. Semoga apa yang kita cari benar benar ada di sana," ucap kakek Lingxi.
"Ya," jawab Xiao xia.
Phoenix mendaratkan tubuhnya di dekat danau. Mereka bertiga berjalan mendekati danau itu, tiba tiba Xiao xia merasa ada aura yang mendekat ke arahnya.
"Sepertinya ada yang ingin bermain main dengan mu Xia," ucap kakek Lingxi.
"Ya, kau benar," jawab Xiao xia
"Siapa disana?" tanya Xiao xia berteriak.
"Hahahaha...Ternyata kamu menyadari kedatangan kami gadis manis," ucap dari ketua kelompok itu.
"Mau apa kalian?" tanya Xiao xia.
"Tentu saja menginginkan diri mu gadis manis," ucap ketua itu.
"Cih, menjijikkan. Siapa juga yang mau dengan mu," ucap Xiao xia kesal.
"Hahahahaha......Jangan sok jual mahal gadis manis. Oh ya, lagian juga tidak baik seorang gadis sendirian di tempat sedingin ini sendirian. Bagaimana kalau kami menemani mu dan memberikan mu kenyamanan dan kehangatan di tempat ini," ucap ketua itu.
"Siapa yang ingin mendapatkan kehangatan dari orang jelek seperti kalian. Apakah kalian tidak nyadar diri bahwa kalian itu seperti ikan buntal." ucap Xiao xia.
"Cih sungguh menjijikkan, melihat bentuk tubuh kalian saja sudah membuat ku mual. Lebih baik aku menghabiskan kehangatan ku dengan lelaki ku. Ahhh aku jadi merindukannya," ucap Xiao xia teringat akan kaisar
"Brengsek! Dasar Gadis jala*g tak tahu diri, berani nya kau menghinaku. Serang dia, jangan biarkan dia lepas. Kita akan menikmati tubuhnya nanti," perintah ketua itu kepada anak buahnya.
Beberapa anak buah ketua itu menyerang Xiao xia bersamaan. Xiao xia menarik pedang api nya dan melesat ke arah mereka, menebaskan pedangnya.
__ADS_1
Sreet.....Sreet....Sreet....
Akh....
Teriak para bawahan itu kesakitan dan terluka.
"Kurang ajar. Beraninya kau melukai anak buah ku," ucap ketua itu
"Itu akibat karena telah membuat ku kesal," ucap Xiao xia santai sambil mengelus pedang nya.
Ketua kelompok itu merasa geram karena Xiao xia telah melukai bawahan nya. Ia maju dan menyerang Xiao xia menggunakan pedang nya.
Trang.... Trang... Trang....
Suara pedang saling beradu.
"Akan ku bunuh kau gadis jala*g," ucap ketua itu marah.
"Jika kau bisa," ucap Xiao xia santai sambil terus menghindari pedang ketua itu. Xiao xia juga terus melayangkan pedangnya ke arah ketua yang tubuhnya berbentuk buntal itu.
Sreeet....Sreeet....Sreeet ...
Akh....
Teriak ketua itu kesakitan
Karena sangat malas dan ingin segera menyelesaikan tugasnya, Xiao xia mengeluarkan auranya dan itu berhasil membuat ketua kelompok itu tertekan.
Uhukk... Uhukk
"S-siapa kau?" tanya ketua itu.
"Kau tak perlu tahu siapa aku," ucap Xiao Xia menatap tajam.
"Tolong ampuni kami, maafkan kami karena telah berani mengganggu anda," ucap ketua itu takut.
"*S*iapa wanita ini? Kenapa auranya nya sangat membuat ku tertekan. Tapi kenapa tadi dia seperti tidak memiliki kultivasi?" ucap ketua dalam hati.
Xiao xia memang menyembunyikan tingkatan kultivasi nya, karena dia tidak ingin membuat banyak orang orang mengincarnya.
"Mengampuni mu? Enak saja. Setelah berani mengganggu ku, kalian meminta pengampunan ku. Tapi jika di pikir pikir memberi penganpunan tidak ada salah nya. Baiklah, aku akan berbelas kasih kepada mu." ucap Xiao xia
__ADS_1
"Terimakasih, terimakasih karena telah mengampuni kami. Kami akan pergi dan tidak akan menganggu anda lagi Nona." ucap Ketua dan di angguki sebagian dari anak buahnya yang masih hidup.
Mereka semua berdiri ingin cepat cepat pergi dari tempat itu. Namun sebelum mereka melangkah kan kakinya, suara manis dan lembut terdengar di telinga mereka semua.
"Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" tanya Xiao xia bersedekap dada.
"Bukan kah Nona sudah mengampuni kami?" tanya ketua itu.
"Emm..." ucap Xiao xia mengangguk santai. "Maksud ku berbelas kasih dengan cara membunuh," sambungnya sambil melayangkan pedang nya ke arah mereka semua.
Sekali tebas berhasil membuat mereka semua mati seketika.
"Sungguh merepotkan," ucap Xiao xia menyimpan kembali pedangnya dan berjalan mendekati danau itu.
.
.
.
ππππππ
Selamat membacaπ€π€π€
Jangan lupa ...
**Like
Komen
Vote
Tap Love
Dan hadiah nya**.
..
..
..
__ADS_1