
Syela mengikuti Rafael dan Zuhra, setelah sampai di rumah rafael, mereka turun dari mobil. Ternyata mama Linda sedang ada di halaman rumah, dia sedang menyirami tanaman bunga kesayangannya, yaitu bunga Tulip.
Mama Linda yang melihat kedatangan Zuhra, dia langsung berjalan mendekat kearah Zuhra.
"Assalamualaikum tante" Zuhra mencium punggung tangan kanan mama Linda.
"Waalaikum salam" jawabnya.
Mama Linda memeluk Zuhra erat.
Tante kangen sama kamu nak, sering-sering main ke sini ya." ujar mama Linda.
"InsyaAllah tante" Zuhra tersenyum manis.
"Anak sendiri dilupain ya...?" cibir Rafael.
"Mama kan liat kamu setiap hari, udah bosen. Tapi beda kalo sama Zuhra, wajahnya aja enak dipandang, bawaannya ngangenin. Yaudah sekarang kita masuk dulu yuk" ajak mama linda menarik lengan tangan Zuhra untuk masuk kedalam rumah.
Rafael pun mengikutinya dari belakang.
Mereka tidak tau, jika sejak tadi ada yang melihat dan mendengar Interaksi mereka, itu adalah Syela.
"Ada hubungan apa cewek itu sama Rafael? itu kan mamanya, kok kihatannya dia seneng banget sama cewek itu. Apa jangan-jangan cewek itu calon istri yang dimaksud mamanya waktu itu!!?, Nggak bisa dibiarin nih" batin Syela menggerutu dengan hati yang dongkol. Dia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.
.
"Oh iya, sebentar lagi kan waktunya makan siang ya. Mama lupa belum masak raf, soalnya bi Ida mama suruh ke butik buat ngambil sesuatu"
"Tante, Gimana kalo aku aja yang masak?" usul Zuhra. "Emang nggak ngerepotin kamu?"
Zuhra menggeleng"boleh nggak tan?" ucapnya bertanya.
"Boleh, kita masak bareng aja ya Zuhra." Zuhra mengangguk tanda dia menyetujui, mereka pun melangkah kearah dapur untuk memasak.
"Bener-bener dilupain gue" batin rafael. Namun sedetik kemudian dia jadi tersenyum-senyum sendiri saat melihat Zuhra dan mamanya itu sangat kompak dalam hal memasak.
"Iya tante, nanti cabenya dipotong panjang aja"
"Oke, biar lebih kerasa pedesnya ya"
__ADS_1
Tidak terasa, semua masakan pun selesai di masak, dari sayur-mayur hingga makanan lainnya.
"Mmm, baunya enak banget" Rafael mengendus.
Zuhra dan mama Linda saling pandang dan melempar senyum.
"Zuhra pamit untuk membersihkan dapur dulu ya"
"Biar aku bantu" Rafael bangun dari duduknya, dia membantu membersihkan dapur yang berantakan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Lho papa kok udah pulang?" tanya mama Linda ketika melihat papa Abraham.
"Iya ma, tadinya papa mau ambil dokumen penting yang ketinggalan, eh malah papa nyium bau masakan yang bikin perut pada nyanyi"
Papa abraham tidak tau jika ada Zuhra, karena Zuhra dan Rafael masih berada di dapur.
Papa Abraham dan Mama Linda sudah duduk di meja makan.
"Rafael, Zuhra sini nak, ayo makan dulu, nanti makanannya keburu dingin loh, biar bi Ida aja nanti yang beresin" ucap mama Linda agak keras agar Zuhra dan Rafael mendengarnya.
"Iya pa, itu lagi di..." perkataannya terpotong saat melihat Zuhra dan Rafael datang dari arah dapur.
"Udah selesai kok tan."
"Om Abraham"
Zuhra menyalimi tangan papa Abraham.
"Sudah lama disini nak Zuhra?"
"Zuhra belum lama di sini pa, tadi bi Ida mama suruh ke butik untuk ngambil sesuatu, jadi nggak ada yang masak, akhirnya Zuhra dan mama yang masak deh" tukas mama Linda.
"Oh gitu, yaudah sekarang kita makan ya, papa udah laper nih hehe"
.
Zuhra berada di rumah Rafael hingga sore hari, dia pulang diantar oleh Rafael.
__ADS_1
"Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut" pesan mama Linda. Rafael mengangguk.
Sesampainya dirumah Zuhra, Rafael memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Zuhra.
"Makasih kak, kalo gitu aku turun dulu ya, assalamualaikum"
"Waalaikum salam, baik-baik diri dirumah" Rafael tersenyum manis kearah Zuhra, senyuman yang mampu membuatnya salah tingkah.
"Ee ya, aku turun dulu ya, permisi"
.
Zuhra turun dari dalam mobil Rafael, dia memersihkan diri dan duduk di sofa ruang tamu, dia tidak sholat karena sedang berhalangan.
Baru saja Zuhra akan menyalakan televisi, namun ponselnya berbunyi, dia pun mengangkatnya.
Ternyata yang menelponnya adalah pak Hendrik, rekan bisnis barunya.
'Hallo, bu Zuhra'
'Ya pak Hendrik, ada apa ya?'
'Apa bisa besok kita bertemu di cafe X untuk membahas bisnis?'
'Bisa pak'
'Oke, sekitar pukul 02 siang bagaimana?'
'Baik pak'
#
Malam hari, setelah menggosok gigi dikamar mandi, Zuhra segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menatap jari tangannya yang sudah dipasangi cincin, yang diberikan oleh Rafael waktu melamarnya.
Terlihat sederhana, namun sangat pas dijari manisnya.
♡
__ADS_1
Rafael adalah namanya, entah karena apa aku bisa menerima lamarannya, tapi yang jelas, seiring berjalannya waktu, perasaanku ini mulai tumbuh dan berkembang di dalam hatiku, Sebut saja 'cinta', bagiku cinta adalah perasaan yang tulus dan suci, perasaan yang tidak bisa ditebak kapan datangnya, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu_Zuhra Ghaniya Abrisyam.