
Pukul 13:11 WIB
Zuhra sudah pulang dari kampusnya. Setelah kepergian Rafael tadi, dia memutuskan untuk di rumah saja. Dia juga sudah menghubungi pak Putra, jika dia tidak akan pergi ke kantor.
Mungkin momen libur satu minggu setelah Ujian, akan dia gunakan untuk bekerja di kantor.
.
Berdiri di balkon kamar. Dengan menatap Langit yang akan mulai menangis. Dan benar saja, rintik-rintik hujan pun mulai berjatuhan.
"Jika bisa dijabarkan, kehidupan itu akan terlihat seperti hujan. Hujan tak kenal lelah, dia terus jatuh membasahi Bumi ini. Begitu juga dengan kehidupan, kehidupan bak seperti roda yang terus berputar, mengikuti alur takdir yang sudah di tentukan.
Setetes air hujan yang jatuh dari Langit, seperti rinduku yang terus mengalir kepada kalian ayah bunda. Aku akan berziarah ke makam mereka insyaallah besok aku akan kesana." Buliran Kristal yang siap jatuh kapan saja, terlihat seperti embun yang sudah terkumpul di kedua mata indahnya.
Menjalani kehidupan sendiri tanpa adanya orang tua, tentu saja membuatnya merasa kesepian. Namun di balik semua ini dia masih tetap kuat dan teguh. Di titipi satu perusahaan yang harus dia kelola, memang bukanlah keinginannya. Namun siapa lagi jika bukan dia yang mengurus semua itu.
Sedang kalut dengan pikirannya sendiri, sampai dia tidak mendengar beberapa panggilan telepon dan beberapa chat yang masuk ke handponenya.
Berjalan melangkah menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, menelusupkan kepalanya di bantal, agar air mata yang keluar dari matanya bisa terserap langsung oleh bantal tersebut. Dia memutuskan untuk tidur siang dalam keadaan yang masih terisak dan menangis.
Sedangkan di sisi lain ada seseorang yang sedang khawatir karena dia tak kunjung membalas pesannya.
.......
Di sisi lain
"Rifki, om minta nanti kamu dampingi Rafael saat dia sudah menjadi wadirut. Ah maksud om, posisi kamu sekarang menjadi Asisten Pribadi Rafael. Apa kamu mau.? Tanya Abraham.
"Siap om" ucap Rifki membentuk gerakan hormat. "Lo siap kan Raf, mulai ngantor setelah acara wisuda nanti?" lanjutnya.
"Pastinya"
"Ayo-ayo ini udah mama buatin teh, ada kue-kue juga. Ayo diminum dulu" Linda datang dari arah dapur.
"Wah Rifki jadi enak nih tant, pas banget di luar lagi hujan, minum yang anget-anget,hehe"
"Haha iya-iya.
__ADS_1
Rafael bagaimana dengan hubungan kamu dan Zuhra, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Linda.
"Ya ma, semuanya baik."
"Syukur lah"
"Kamu kenapa Rafael. Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Abraham yang melihat anaknya itu nampak pendiam dari biasanya.
Rafael hanya menggeleng sebagai jawaban, bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal perasaannya tidak enak memikirkan Zuhra. Biasanya, jika dia menge-chat Zuhra selalu di balas sekalipun itu chat yang tidak penting. Namun sampai sekarang Zuhra tak kunjung membalas pesannya.
"Kamu nginep di sini aja ki. Libur juga kan. Oh ya, kamu kapan kenalin calonmu ke tante hm?" tanya Linda.
"Ah tante...ngledek Rifki yha?"
"Enggak kok. Maksud tante, kamu jangan sampe ketinggalan sama Rafael dong. Cari gandengan yang menurut kamu itu baik buat kamu, terus kalo udah bawa sini menghadap ke tante."
"E-om tant, Rifki ke kamar mandi dulu yha" Rifki kabur.
"Woy kamar mandi bukan di situ ki" teriak Rafael saat melihat Rifki malah berlari menuju gazebo di samping rumah.
"Ma pa, Rafa ke atas dulu yha" ucap Rafael.
.
"Dih enggak...enggak...enggak. Ngapain sih gue malah jadi kepikiran si curut" Rifki berusaha menepis bayang-bayang wajah Citra yang terus berkelebat di otaknya. Citra yang sedang tersenyum, Citra yang kesal, Citra yang selalu berdebat dan beradu mulut dengannya.
"Hiiih, gak mungkin. Dahlah mending gue masuk aja" Rifki akhirnya memilih masuk dan menuju ke dalam kamar Rafael.
"Raf lo kenapa sih? gue perhatiin dari tadi, lo diem aja. Terus ngapain lo mandangin Hape terus?"
"Bisa diem gak ki" Rafael masih memandang beberapa pesan yang dia kirim belum terjawab sama sekali. Baru centang dua.
"Lo mikirin si Zuhra ya? Udah deh biar gue tanya si curut, Zuhra ada ngabarin dia atau enggak." pikiran untuk bertanya kepada Citra tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Gue udah tanya nih, katanya dia juga telpon Zuhra, tapi gak diangkat sama sekali. Dia mau ke rumah Zuhra juga di luar lagi hujan kan, jadi yaa gitu" kata Rifki setelah dia mengirim pesan kepada Citra.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu kemana Ra, apa setelah aku anter kamu ke rumah, kamu pergi lagi? atau ada sesuatu yang terjadi sama kamu.? Nggak-nggak...lo harus berpikir positif Rafael. Jangan over thinking" batin Rafael.
.......
Ke esokan paginya.
"Emh jam berapa ini" Ucapnya terbangun dan melihat jam weeker yang ada di atas nakas. ternyata sudah menunjukan puku 04:39. Dia langsung bergegas pergi ke kamar mandi, untuk Mandi dan berwudhu. Setelah itu dia melaksanakan Sholat.
Zuhra turun ke lantai bawah dan menuju ke arah dapur untuk membuat sarapan. Kali ini dia akan membuat mie goreng dengan satu telur dan beberapa sayuran, juga susu hangat sebagai minumannya. Sudah lama sekali dia tidak memakan mie goreng pasti akan terasa enak sekali pikirnya.
Selesai dengan sarapannya dia langsung mencuci mangkuk dan gelas kotor itu.
Hari ini dia akan berangkat ke kantor seperti pekerja kantoran pada umumnya. Yaitu berangkat pukul 07:00 pagi. Sebelum berangkat ke kantornya dia sempatkan untuk membersihkan rumah, tak lupa juga dia menyiram tanaman bunga Tulip kesukaan bundanya dulu sewaktu masih ada.
Ah ya.! Dia ingat jika hari ini dia berniat untuk berziarah ke makam ayah dan bundanya.
"Apa sekarang aja ya aku ke sana." batin Zuhra.
Zuhra masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil tas dan satu buku Tahlil.
Dia mengeluarkan motor maticnya dari garasi, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di sana. Dia langsung mendatangi penjual bunga yang ada di depan gerbang pintu masuk makam.
Setelah itu, dia langsung menuju kearah makam kedua orang tuanya. Ternyata di sana ada seorang penjaga makam yang sedang membersihkan makam kedua orang tuanya.
"Assaalmualaikum pak"
"Waalaikum salam, mbaknya mau berziarah ya?"
"Iya pak"
"Yasudah saya permisi dulu ya, mau membersihkan makam-makam yang lainnya."
"Terimakasih pak" Zuhra tersenyum.
Tak lupa juga Zuhra memberikan beberapa lembar uang kepada penjaga makam itu.
__ADS_1
Penjaga makam itu sempat menolak, karena merasa itu adalah pekerjaan mulia. dan dia tidak menginginkan sebuah imbalan.