Zuhra

Zuhra
Eps 57


__ADS_3

Ini adalah hari ke dua Zuhra berdiam diri di rumah. Tanpa bertemu dengan Rafael. Untuk pekerjaannya yang ada di kantor pun, di antar oleh Putra, sekertarisnya ke rumah. Di rumah, zuhra di temani oleh Citra.


Sekarang pun dia tengah berjibaku dengan laptop nya.


"Udah kali Ra. Santai-santai aja, urusan kerjaan mah bisa nanti" celetuk Citra duduk di samping Zuhra.


"Iya Cit. Ini nanggung tinggal dikit lagi" jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dari laptop.


Hanya tinggal mengetik enter kemudian mengetik beberapa kata lagi, dan klik kirim...semuanya pun selesai.


"Alhamdulillah" gumamnya senang, menutup laptopnya.


"Gak nyangka asli...Sahabat aku bentar lagi nikah, dua hari lagi lo...Tapi, kamu yakin undang Syela ke acara pernikahan kamu?" tanya Citra.


"Em, undangannya juga udah kamu kasih ke dia kan?" Zuhra bertanya balik. Karena memang kartu undangan pernikahannya dia titipkan ke Citra. Mengingat Citra dan Syela sudah menjadi saudari, ya walaupun tiri.


"Udah sih. Tapi waktu aku kasih undangannya ke dia. Ekspresinya aneh banget..."


"Aneh gimana...?"


"Yaaa aneh aja. Masa setelah aku kasih undangannya ke dia, dia langsung buru-buru pergi gitu. Waspada aja, siapa tau nanti dia ba..."


"Sshtt gak boleh berfikir negatif gitu Cit" Zuhra menjeda perkataan Citra.


"Iya-iya. Gimana udah berkabar sama kak Rafael belum?" tanya Citra.


Ya, walaupun Zuhra dan Rafael tidak bisa bertemu. Namun mereka tetap memberi kabar masing lewat chat, tidak lebih.


"Hehe"


"Yee di tanya malah cengengesan"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tidak terasa, hari akan berganti begitu cepat.


Di sebuah gedung yang sudah di dekor sedemikian rupa. Dengan interior di setiap dinding berisi bunga, itu menambah kesan mewah nan elegan. Terdapat sebuah meja dengan di kelilingi oleh empat kursi. Tentu saja itu untu acara akad nanti. Juga sebuah pelaminan yang sudah di hias mewah untuk acara resepsi yang akan di adakan langsung setelah akad di laksanakan. Gedung itu pun sudah di isi kursi-kursi yang berjejer rapi, sesuai undangan yang akan hadir untuk menyaksikan acara sakral itu. Sebagian besar tamu undangan berasal dari karyawan juga kolega bisnis Abraham (papa Rafael) dan juga sebagian para karyawan yang ada di kantor Zuhra, juga beberapa teman kampusnya. Para dosen pun turut hadir.


Zuhra sudah ada di sebuah ruangan untuk di rias. Hanya ada satu MUA saja. Dengan di temani oleh Citra dan Ranisa.


"Jangan gugup sayang. Rilex aja ya" ucap seorang MUA.


"I-iya mbak. Riasannya jangan terlalu menor ya, tipis-tipis aja" jawab Zuhra. Karena ini pertama kalinya dia akan di rias wajahnya.


"Jangan tegang nak" timpal Ranisa.


"Iya Ra. Fighting! tiga jam kedepan menuju akad. Hehehe" celetuk Citra.


Sedangkan di ruangan lain.


"Gimana lo. Udah hafal belum ijab kabulnya" tanya Rifki.


"Hmm. Tanpa menghafal pun gue udah hafal kali" jawab Rafael.


Linda yang memperhatikan putranya sedari tadi hanya tersenyum. Putranya sekarang akan menikah. Dia sangat senang. Dia pun mendekat ke arah Rafael. " Rafa. Nanti jika kamu sudah sah menjadi suami Zuhra. Kamu harus menjadi suami yang bertanggung jawab ya, jangan sakiti dia. Zuhra perempuan yang baik. Sayangi dia dengan sepenuh hati ya!" ucap Linda menepuk bahu Rafael.


"Pasti ma" jawab Rafael.


"Yasudah, jika begitu mama keluar dulu ya. Mau liat Zuhra" Linda keluar dari ruangan Rafael dan beralih menuju ruangan Zuhra berada.


Linda berpapasan dengan Citra dan Ranisa yang memang datang lebih awal untuk menemani Zuhra.


"Tante, mau lihat Zuhra ya" tanya Citra.


"Iya nak. Tante masuk dulu ya" Linda memasuki ruangan tetsebut, dia melihat Zuhra yang sedang di pasangi hijab ala pengantin.


"Wah kamu cantiik sekali sayang...Rafael pasti melongo nih! Hehe" celetuk Linda yang melihat riasan Zuhra hampir selesai. Zuhra pun hanya tersenyum, karena dia merasakan kepalanya sakit saat terkena tusukan jarum. Namun dia hanya diam, agar cepat selesai.

__ADS_1


Setelah itu. Linda keluar dari ruangan Zuhra. Karena sudah ada beberapa tamu yang datang. Linda pun menyambutnya.


"Nah sudah selesai sayang. Coba lihat...Kamu tampak sangat cantik. Seperti bidadari" ucap MUA itu.


"Terimakasih" jawab Zuhra sekenanya.


"Ya sudah. Saya pamit ke kamar mandi dulu ya, mungkin agak lama. Kamu tunggu di sini ya. Nanti saya kembali lagi untuk memberikan beberapa hiasan lagi di hijab kamu" ucap MUA itu lagi.


Zuhra hanya mengangguk. Zuhra sendirian di ruangan itu. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan Zuhra.


"Hai Zuhra. Aku datang lebih awal loh" ucap orang itu, ya dia adalah Syela.


Namun dandanan Syela tak seperti biasanya. Syela menggunakan hijab yang sama persis yang saat ini dia gunakan. Dengan baju bawahannya yang di tutupi selembar kain.


"Kamu pasti haus kan. Dari tadi belum minum, ini aku bawakan Teh hijau hangat untuk mengurangi ke gugupan kamu" ucap Syela menyodorkan satu gelas berisi teh hijau kepada Zuhra.


Zuhra sempat menaruh curiga kepada Syela. Namun dia tepis kecurigaan itu. Dia juga sedang haus. Dia mengambil minuman itu. "Terimakasih Syela" jawab Zuhra. Syela hanya mengangguk.


Zuhra pun meminum teh itu sampai setengah gelas. Setelah itu...Kepalanya terasa berat dan pusing. Samar-samar dia melihat dua orang bertopeng yang entah itu siapa. Lalu Syela menyuruh orang itu untuk membawa dirinya. Setelah itu, pandangannya mulai gelap.


"Cepat bawa dia pergi" titah Syela pada dua orang itu.


"Ti-tidak apa y-yang kal...ian laku...kan" ucap Zuhra sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.


Zuhra dibawa pergi lewat pintu belakang yang ada di gedung itu. Entah di bawa kemana dia pergi.


Sedangkan Syela. Dia duduk di kursi yang tadi Zuhra duduki. Lalu dia segera memakai cadar. Ya Syela memakai kebaya pengantin syar'i yang sama persis seperti yang Zuhra kenakan tadi.


MUA tadi masuk ke ruangan itu.


"Loh kok pake cadar sih? Oh biar surprise ya" ucap MUA itu. Syela yang sudah menjelma menjadi Zuhra pun mengangguk.


"Yasudah sekarang cadarnya di buka dulu ya. Mau saya tambahkan sedikit aksesoris."

__ADS_1


Syela pun menggeleng. "Begini saja, cukup" ucapnya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Hmm. Yasudah."


__ADS_2