Zuhra

Zuhra
Eps 39


__ADS_3

Pukul 12:30 Zuhra sudah menuju kantor dengan menaiki taxi online.


.


"Terimakasih pak, Ini uangnya ya, kalo gitu saya permisi"


"Eh tunggu mbak, ini kembaliannya" supir taxi online itu hendak menyerahkan uang kembalian sebesar 50 ribu, kepada Zuhra.


"Kembaliannya untuk bapak saja"


"Makasih mbak"


Zuhra mengangguk dan memasuki kantornya.


Zuhra menyapa mbak Fitri yang sedang duduk di meja resepsionist. "Mbak Fitri" ucapnya tersenyum, mbak Fitri pun mengangguk dan tersenyum manis.


.


Dia bertemu Alin dikoridor kantor.


"Assalamialaikum bu Zuhra" Sapa Alin.


"Waalaikum salam mbak Alin, aku kan sudah bilang jangan panggil aku ibu dong, kita kan teman, umurku juga lebih muda darimu kan?" Zuhra berkata.


"Habisnya gimana ya bu, wong saya nggak enak, emm atau begini saja, kalau kita lagi diluar kantor, aku panggil kamu Zuhra. Tapi kalo dikantor aku panggil kamu bu Zuhra saja ya, soalnya nggak enak sama yang lain" ucapnya.


"Hmm yasudah, mbak Alin mau kemana?"


"Aku mau ke ruang divisi"


"Oh gitu, kalau gitu aku ke ruanganku dulu ya mbak, dah!" Zuhra tersenyum pada Alin.


"Oke"


.


Zuhra masuk kedalam ruangannya, dia segera mempersiapkan apa saja yang harus dia bawa untuk meeting di cafe x, dengan pak Hendrik nantinya.


Sebelum pergi, dia menelfon pak Putra dulu untuk datang ke ruangannya.


Tok tok tok!

__ADS_1


"Masuk saja pak Putra"


"Ada apa ya bu Zuhra memanggil saya?"


"Begini pak, saya akan keluar untuk meeting dengan pak Hendrik. Saya minta tolong pak Putra untuk mengecek berkas-berkas ini, apa bisa?"


"Bisa bu"


"Terimakasih ya"


"Baik, kalo gitu saya permisi dulu" pak Putra pergi dengan membawa berkas-berkas yang harus dia koreksi.


Tepat pukul 13:45 Zuhra sudah sampai di cafe x, namun nampaknya, pak Hendrik belum datang. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Oh ternyata aku datang lebih cepat, masih kurang lima belas menit lagi"


Zuhra memilih meja yang dekat dengan jendela yang transparan, sehingga kelihatan pemandangan cafe dari dalam.


Tiba-tiba dering ponselnya terdengar nyaring, ternyata yang menelfonnya adalah pak Hendrik.


'Hallo, saya sudah sampai di cafe x, apa anda sudah sampai?'


'Sudah pak, saya ada di meja nomor 14, dekat jendela sebelah kanan'



"Permisi bu Zuhra" ucap pak Hendrik.


"Iya pak, silahkan duduk dulu pak" Zuhra mempersilahkan pak Hendrik untuk duduk.


"Ya, sebentar, perkenalkan ini anak saya" pak Hendrik menoleh kebelakang, namun di sana tidak ada siapa siapa.


"Pa, maaf tadi Syela habis dari toilet" Ternyata...Syela adalah anak pak Hendrik!


"Hm, perkenalkan ini anak saya bu Zuhra" pak Hendrik tersenyum.


Syela melangkah maju untuk bisa berjabat tangan dengan Zuhra.


"Kamu" ucap Zuhra dan Syela berbarengan, mereka saling menunjuk satu sama lain.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya pak Hendrik.

__ADS_1


"Syela ini adalah mahasiswi baru dikampus saya pak, bahkan kita satu kelas dan satu jurusan" Zuhra tersenyum menjelaskan. Lain halnya dengan Syela, dia menatap Zuhra sinis, namun Zuhra tidak menyadarinya.


"Wah kebetulan sekali ya, yasudah apa bisa kita mulai Meetingnya?"


"Bisa pak, mari"


Syela dan pak Hendrik duduk beriringan, dan berhadapan dengan Zuhra.


"Syela, kamu harus memperhatikan apa saja yang papa bahas, biar kamu bisa"


Syela mendengus sebal "Iya!"


"Ternyata rekan bisnis papa cewek ini?, hebat juga dia, baru kuliah udah bisa megang perusahaan, kalo papa dan dia bekerjasama, berarti mereka bakal saling ketemu dong, huh pasti papa bakal banding-bandingin gue sama dia" batin Syela.


"Selamat bergabung di P.T Abri corp" uap Zuhra berjabat tangan dengan pak Hendra.


"Terimakasih, semoga kedepannya kita bisa membangun kerja sama yang lebih baik lagi ya"


"Iya"


Syela berdiri dan berucap, "Udah selesai kan? kalo udah, Syela pergi. Oh ya mana uang yang papa janjiin untuk beli tas"


"Syela, sopanlah sedikit" pak Hendrik mendelik marah kearah Syela. "Maaf atas ketidaksopanan anak saya bu Zuhra" ucapnya, tak enak hati.


"Iya pak"


"Halah, udah tinggal transfer aja apa susahnya sih? " Syela kesal, bukannya menyadari kesalahannya, dia malah semakin menjadi.


Nampak pak hendrik mengetikan sesuatu di gawainya, "Eh uangnya udah masuk pa, makasih ya, Syela pergi" pamitnya, dia memandang sekilas kearah Zuhra. Pak hendrik menatap kepergian Syela dengan pandangan sendu.


"Runa, syela tumbuh persis seperti kamu, dia sangat suka dengan uang." batin pak Hendra. Ya, Syela tumbuh tanpa kasih sayang dari ibunya, karena ibunya sudah meninggal saat melahirkannya.


"Kenapa Syela berperilaku seperti itu kepada ayahnya sendiri?, ah sudahlah" batin Zuhra


"Sekali lagi saya minta maaf atas perlakuan Syela tadi, I'am sory"


"Ya, tidak apa-apa pak Hendrik."



#

__ADS_1


See you next chapter


__ADS_2