Zuhra

Zuhra
Eps 56


__ADS_3

...


"Iya tante. InsyaAllah besok Zuhra dan kak Rafa ke butik itu."


"Iya nak. Kalo udah sampai butik, kamu langsung aja cari bu Yona ya, pemilik butik itu. Yona itu temen tante." ucap Linda. Zuhra pun mengangguk lagi.


Saat ini Zuhra sedang ada di rumah Rafael. Untuk mengambil undangan pernikahan yang sudah jadi.


"Nak Zuhra. Ini undangannya, kamu mau undang berapa orang terserah. Nanti tinggal ambil saja ya. Om langsung ke kantor dulu. Pekerjaan numpuk" ucap Abraham membawa sebuah kotak besar yang sepertinya berisi Kartu undangan pernikahan antara dirinya dan Rafael.


"Iya om. Terimakasih"


"Tante, Zuhra liat undangannya dulu ya."


Saat Zuhra mengambil salah satu undangannya, dia kaget bukan main saat melihat di undangannya ada foto dirinya dan Rafael yang saling berdampingan.


"I-ini kok ada foto Zuhra dan kak Rafa"


"Hah masa sih Ra" Rafael yang sedari tadi diam kini berdiri dan ikut melihat undangan tersebut.


"Lah iya ma. Kok bisa ada fo..."


"Itu mama yang minta. Waktu itu mama diem-diem foto kalian. Dan mama edit biar jadi kaya gitu hehe. Bagus kan" Linda tersenyum senang.


Zuhra hanya menampilkan senyum dan anggukannya. Sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan hal ini. Namun apalah daya, undangan sudah tercetak rapi, tinggal di bagikan saja..


"Oh ya, untuk para dosen di kampus kamu udah tante undang juga. Jadi kamu dan Zuhra tidak perlu khawatir. Karena pernikahan kalian akan di publikasikan. Lima hari menjelang hari-H, kamu udah gak usah berangkat kuliah lagi ya Zuhra. Tante udah izin. Terus nanti...tiga hari menjelang pernikahan kalian gak boleh ketemu. Hanya hari ini dan besok hari terakhir kalian bisa ketemu. Kamu paham Rafael!" ucap Linda panjang lebar.


"Loh kok gitu ma?" tanya Rafael heran.


"Iya...Nanti ketemunya lagi pas Hari-H. Itu namanya dipingit. Ya dipingit itu sebenarnya adat dari jawa. Dulu juga mama dan papa kamu gitu. Jadi kalian juga harus gitu hehe" jelas Linda.


"Makanya besok kalian harus ke butik bareng. Dan setelah itu terserah kalian mau jalan-jalan atau ke mana...terserah. Kan besoknya lagi udah gak boleh ketemu" lanjutnya menatap Zuhra dan Rafael.


"Hmm...Rafa anter Zuhra ke kantornya dulu ya ma" Rafael menyalimi tangan Linda. Begitupun Zuhra.


Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Zuhra. Tak lupa juga Zuhra mengambil undangan pernikahannya yang akan di bagikan kepada karyawan kantornya nanti.


"Kamu udah siap?" tanya Rafael.


"Maaf siap untuk apa?" Zuhra bertanya balik.


"Menjadi istri juga ibu dari anak-anaku nanti.." ucap Rafael.


Zuhra yang mendengar itu mendadak speechless...


"Kok diem?"

__ADS_1


"I-insyaAllah kak" jawab Zuhra pelan.


Rafael tersenyum. Dia menatap Zuhra yang membuang muka ke arah jendela.


.......


Sesampainya mereka di Abri corp. Rafael turun membukakan pintu mobil untuk Zuhra. Zuhra pun turun dari mobil itu dengan membawa paperbag yang berisi undangan pernikahannya.


"Aku tunggu ya"


"Gak usah kak. Aku sekalian mau ngecek beberapa berkas dan mungkin akan lama. Nanti kalo udah aku bisa pesen taxi kok" tolak Zuhra.


"Gak papa. Mau selama apa pun, tapi kalo nunggu calon istri, pasti akan terasa cepat."


Zuhra tersenyum mendengar gombalan Rafael. "Gak usah, mending kak Rafa pulang aja."


"Ya deh. Sekalian aku mau ke apartemen Rifki. Nanti kalo udah sampe rumah kabarin ya" Zuhra mengangguk. "Hati-hati" ucapnya pada Rafael.


Setelah Rafael pergi, Zuhra masuk ke dalam kantornya. Seperti biasa, banyak karyawan yang menyapanya. Saat di lobi. Zuhra tak sengaja bertemu dengan Alin. Zuhra pun sempat berbincang-bincang dengan Alin. Setelah itu dia memberikan undangan pernikahannya kepada Alin. Dia memberikan undangan itu secara khusus pada Alin. Sedangkan undangan untuk para karyawan lainnya akan dia serahkan kepada pak Putra. Tentu saja Alin kaget.


"Saya gak nyangka. Bu Zuhra akan menikah secepat ini. Wah calonnya sangat tampan. Ups!" ucap Alin saat dia sudah membuka undangan tersebut dan melihat foto zuhra dan Rafael. "Kalian sangat serasi" lanjutnya.


"Mbak Alin bisa saja."


.......


"Andai saja pak Abrisyam masih ada. Pasti beliau akan sangat senang melihat putri kesayangannya akan menikah." batin Putra.


"Nanti saya akan menyuruh orang untuk memberikan undangan ini kepada para karyawan."


"Baik pak. Terimakasih ya. Anda sudah banyak membantu saya"


"Sudah tugas saya bu. Yasudah saya permisi"


Setelah kepergian Putra. Zuhra segera melihat beberapa berkas yang harus di cek dan di tandatangani.


Sedangkan di kantor Abraham (papa Rafael) kini para karyawan wanita sedang patah hati berjamaah. Anak dari pemilik perusahaan yang selama semingguan ini sudah bersemayam di hati mereka, ternyata sudah mempunyai calon dan akan segera menikah.


...°°°°°°...


Ke esokan harinya.


Zuhra sudah ada di salah satu butik terkenal yang ada di Jakarta. Tentu saja dia bersama Rafael.


"Dengan nona Zuhra dan tuan Rafael?" tanya salah satu pegawai butik.


"Iya mbak" jawab Zuhra ramah.

__ADS_1


"Sebentar saya hubungi bu Yona dulu, selaku pemilik butik ini" pegawai itu mengambil Handponenya dan menelfon orang yang bernama Yona.


"Baik. Silahkan nona dan tuan langsung ke lantai dua. Bu Yona sudah menunggu di sana." lanjut pegawai itu lagi.


"Baik. Terimakasih mbak" sedangkan Rafael hanya tersenyum tipis kearah pegawai itu.


Sesampainya mereka di lantai dua. Mereka langsung di sambut oleh seorang wanita setengah baya.


"Hallo...Rafael dan Zuhra" ucap Yona tersenyum lebar.


"Hai tante Yon" sapa Rafael cengengesan.


"Sudah lama tidak bertemu. Kamu masih saja memanggil tante seperti itu. Heh.." Yona menggelengkan kepalanya. "Kamu cantik sekali sayang...Beruntung sekali dia bisa mendapatkanmu" ucap Yona menatap Zuhra.


Zuhra hanya tersenyum. Sebelum mereka datang ke butik ini, Zuhra sudah di beritahu jika Yona adalah sahabat Linda.


"Yasudah. Mari tante sudah menyiapkan tiga gaun syar'i yang mungkin cocok dan pas di kamu"


"Iya tante. Kak aku ke sana dulu ya" ucap Zuhra.


"Iya Ra"


"Dan untuk kamu si bocah tengil. Kamu coba beberapa setelan tuxedo, yang menggantung di sana" tunjuk Yona pada sebuah lemari kaca.


Rafael mengangguk.


"Nah menurut tante ini yang paling cocok untuk kamu sayang. Udah kamu coba satu-satu aja dulu ya" Yona mengambil salah satu gaun berwarna biru laut Dan menyerahkannya pada Zuhra. Zuhra pun mengambilnya lalu masuk ke ruang ganti.


Setelah selesai dia keluar. Dia merasa tidak nyaman mengenakan gaun biru laut itu.


"Nah kan bagus" ucap Yona.


"Maaf tante...Tapi Zuhra gak nyaman pake gaun ini"


"Loh kenapa?" tanya Yona.


"Bahan di bagian punggungnya terlalu tipis dan agak nerawang" jawab Zuhra.


"Eh. Oh iya ya, yasudah kamu coba yang lain ya" Zuhra mengangguk.


Setelah mencoba beberapa gaun. Zuhra memutuskan pilihannya kepada gaun syar'i berwarna putih tulang.


Setelah selesai fitting baju pengantin. Rafael dan Zuhra memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar. Mengingat tiga hari kedepan mereka tidak akan bertemu. Dan akan bertemu lagi nanti saat acara pernikahan.


.......


'Hallo. Ya mereka sekarang sudah pergi dari butik. Ya. Jika kau mau aku bisa menunggumu di butik ini'

__ADS_1


'Gak perlu. Lo pergi aja ikutin mereka.'


__ADS_2