Zuhra

Zuhra
Eps 50


__ADS_3

Cahaya matahari tampak menyeruak masuk di celah-celah jendela kamar seorang gadis. Di dalam kamar itu, terdapat seorang gadis yang tampak tertidur di atas sajadah, lengkap dengan mukenah yang masih menempel di tubuhnya.


Nampaknya setelah menyelesaikan sholat dia tertidur. Perlahan dia mengangkat kepalanya, membuka mata dan mengerjap pelan. "Astaghfirullah aku ketiduran" pekik Zuhra.


Bangun dari sajadahnya, dan segera melepas mukena yang dia kenakan. Berjalan menuju kamar mandi, untuk bersiap-siap pergi kuliah.


.


Di sisi lain. Terlihat sepasang suami istri sedang menunggu kedatangan putra mereka di meja makan. Tak lain dan tak bukan adalah Abraham dan Linda.


Rafael menuruni anak tangga dengan tangannya yang masih bergelut memakai dasi di kerah kemejanya. "Pagi ma, pa" ucapnya pada Linda dan Abraham.


"Pagi Rafa. Wah anak mama sangat tampan memakai setelan formal seperti itu. Loh itu gimana, kok dasinya miring sih? Sini mama benerin...!"


"Ya, tadi Rafa buru-buru turun. Takut papa nunggu lama soalnya" jawab Rafael.


"Nah gini kan enak. Makanya, cepet-cepet nikah sama Zuhra. Biar ada yang makein dasinya. Udah sini sarapan dulu" oceh Linda.


"Hmm"


Setelah selesai dengan sarapannya. Rafael dan Abraham langsung menuju ke kantornya. Mereka menggunakan satu mobil.


"Kamu sudah menghubungi Rifki, Rafael?" tanya Abraham.


"Sudah pa, Rifki juga sedang dalam perjalanan menuju ke kantor"


Sesampainya mereka di gedung yang menjulang tinggi. Mobil Rafael memasuki area kantor. Setelah berhenti, ada seorang satpam yang datang menghampiri mereka. "Pagi pak Abraham, biar saya yang parkirkan mobilnya pak" ucapnya sopan.


"Pagi" jawab Abraham.


Rafael pun menyerahlan kunci mobil tersebut kepada satpam itu.


Rafael dan Abraham berjalan ber-iringan menuju ke dalam kantor. Saat memasuki kantor, para karyawan yang melihat kedatangan Abraham pun menunduk sopan. Ternyata di sana, para karyawan sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi semuanya" ucap Abraham dengan Rafael yang berada di sampingnya.


"Tentunya kalian sudah tidak asing lagi dengan orang yang berada di sebelah saya bukan...? Ya dia putra saya. Mulai besok dia akan mulai ikut mengurus kantor ini. Untuk hari ini, saya kasih kalian bonus waktu. Di mana nantinya kalian akan pulang tiga jam lebih cepat dari hari-hari biasanya. Sekian dari saya, terimakasih atas perhatiannya."


"Hallo semuanya, saya Rafael. Seperti yang sudah papa saya bilang tadi, saya akan ikut andil di perusahaan ini. Saya mohon kerja samanya." ucap Rafael singkat.


Abraham dan Rafael berjalan meninggalkan kerumunan para karyawan.


"Duh meleleh hati saya"

__ADS_1


"Tampan sekali anak pak Abraham itu" ucap para karyawan wanita. Matanya gemerlap seperti menunjukan bentuk love yang terus melihat ke arah Rafael.


"Maaf om saya terlambat" ucap Rifki.


"Tidak apa. Sekarang kamu antar Rafael ke ruangannya ya. Om masih ada meeting. Rafael, untuk hari ini, kamu bisa melihat-lihat atau bersantai santai saja dulu di ruangan kamu." Abraham menepuk pelan bahu Rafael.


"Mari pak saya antar ke ruangan anda" ucap Rifki dengan gaya bicaranya yang formal.


Rafael mengangguk. Setelah sampai di ruangan yang agak besar dominan berwarna putih dan hitam. "Gak usah se formal itu kali" ucap Rafael.


"Ya-ya."


.......


Zuhra yang sudah sampai di kampusnya pun langsung memarkirkan motor miliknya.


Baru saja dia akan melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Handponenya berbunyi. menandakan ada seseorang yang menelfonnya.


Zuhra pun mengangkat telfon tersebut. Ternyata dari Linda.


'Hallo. Assalamualaikum tante'


'Waalaikum salam nak. Kamu pasti lagi di kampus ya sekarang...?'


'Bisa nggak nanti sore kamu ke rumah tante?'


'InsyaAllah tante. Emm tante, Zuhra tutup telfonnya ya. Soalnya Zuhra harus ke perpustakaan dan sebentar lagi kelasnya akan di mulai'


'Oh, iya-iya. Nanti sore tante tunggu ya sayang'


Selesai dengan perbincangan itu. Zuhra langsung menuju perpustakaan untuk mengambil beberapa buku yang harus dia pelajari.


.......


Dua mata kuliah sudah Zuhra ikuti. Kini dia sedang ada di kantornya untuk mengambil beberapa berkas yang akan dia selesaikan di rumah. Karena sore ini dia akan pergi ke rumah Rafael.


Kini dia sudah sampai di sebuah rumah besar berlantai tiga. Dia dikagetkan oleh suara seseorang.


"Non, ayo masuk bareng bibi. Tadi sudah ditunggu ibu lho" ucap bi ida selaku Asisten Rumah Tangga.


"I-iya bi, mari" mereka berdua pun masuk.


"Ibu, non Zuhra teh udah dateng. Saya pamit ke dapur dulu ya bu, non"

__ADS_1


"Assalamualaikum tante"


"Waalaikum salam nak. Sini duduk samping tante." ucap Linda. Zuhra pun menurutinya.


"Kita tunggu Rafael pulang ya sayang"


Zuhra pun mengangguk sebagai jawaban.


"Sebenarnya apa yang ingin di bicarakan tante Linda. Kenapa harus menunggu kak Rafa...?" batin Zuhra. Karena tadi malam Rafael memberitahunya jika hari ini dia akan pergi ke kantor.


Hampir setengah jam Zuhra dan Linda menunggu kedatangan Rafael. Akhirnya suara dentuman mobil pun terdengar memasuki garasi. Mungkin itu Rafael pikir Zuhra.


Dan benar saja, terlihat Rafael yang berjalan ber iringan dengan Abraham.


"Assalamualaikum." ucap mereka berdua.


"Waalaikum salam" jawab Linda dan Zuhra.


"Lho nak Zuhra. Sudah lama?" tanya Abraham.


"Baru setengah jam yang lalu om"


"Kamu dateng kok gak ngabarin aku?" tanya Rafael.


Baru Zuhra ingin menjawab. Linda sudah terlebih dahulu menjawab. "Mama yang suruh Zuhra ke sini. Udah ayo duduk. Pa kamu juga, ada yang mau mama bicarakan" ucap Linda.


"Zuhra, berapa usia kamu nak?" tanya Linda saat mereka semua sudah duduk di sofa.


"Muhun bu, ini pak, aden minumnya." ucap bi ida menjeda obrolan mereka.


"Zuhra, berapa usia kamu nak?" tanya Linda mengulang pertanyaannya.


"Delapan belas tante" jawabnya bingung.


"Rafael, berapa usia kamu" kini Rafael yang dirundung pertanyaan yang sama oleh Linda.


"Dua puluh satu" jawab Rafael.


Linda yang mendengar itu. Lantas bangun dari duduknya dan menghampiri Rafael. Linda menggepluk bahu Rafael menggunakan bantal sofa. "Ternyata kamu sudah tua Rafael" ucap Linda. Sedangkan Abraham, dia masih menjadi pendengar setia.


"Astaghfirullah ma. Rafa baru aja umur Dua puluh satu, udah di bilang tua? Lantas bagaimana dengan mama yang sudah berkepala empat?" ucap Rafael yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Linda.


Sungguh dalam hati, Zuhra ingin sekali tertawa melihat kelakuan ibu dan anak yang ada di depannya ini.

__ADS_1


__ADS_2