Zuhra

Zuhra
Eps 59


__ADS_3

Setelah menampar Syela di depan umum. Hendrik langsung menghampiri Abraham dan Linda. Sedangkan yang lain masih kalut dalam pikiranya masing-masing. Tak terkecuali para tamu undangan.


Dapat dilihat sekarang. Abraham dengan wajah yang memerah dan rahangnya pun mengeras. Karena marah...mungkin.


"Pak Abraham...Bu Linda...Saya benar-benar minta maaf atas semua kejadian ini...Saya juga tidak tahu...Zuhra om juga minta maaf ya"


"Saya akan membawa Syela keluar gedung ini, dan akan membicarakan semuanya di sana. Untuk pernikahan kamu Zuhra dan Rafael...Bisa di lanjut" ucap Hendrik.


"Tidak bisa om. Saya adalah polisi lalu lintas dan kebetulan saya memiliki teman yang bekerja di polsek...Saya akan membawa kejadian ini ke hukum...Karena ini termasuk kriminal...Apa lagi Zuhra...Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri!" Sergah Doni. "Dan saya juga tidak rela.Orang yang saya cintai menderita" lanjutnya, namun kalimat itu hanya tertelan di dalam hati.


"Ya-ya gimana baiknya saja. Sekali lagi maaf pak, bu, Zuhra. Saya akan selesaikan semua ini. Silahkan pernikahannya di lanjutkan." ucap Hendrik lagi. Kali ini dia mendapat anggukan kepala dari Abraham.


Syela pun di bawa oleh Hendrik dan Ranisa keluar gedung.


"Aku gak nyangka. Ternyata dugaan buruk ku kepada Syela semuanya benar. Namun sekarang...Hmm semoga berjalan lancar" batin Citra. Yang melihat Zuhra masih diam. Di samping Zuhra juga ada Alin dan Putra tentunya, sebagai orang terdekat di kantornya.


Sebagai kepala keluarga Abraham angkat bicara. Dia naik ke atas podium yang sudah di sediakan. "Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada para tamu undangan yang sudah datang. Kalian harus melihat pemandangan yang tak seharunya kalian lihat. Namun sekarang masalah sudah teratasi. Kita bisa melanjutkan acaranya. Terimakasih atas perhatianya." Abraham turun dari podium.


Sedangkan Zuhra sudah di benarkan make upnya oleh seorang MUA. Sekarang dia duduk tak jauh dari Rafael yang sedang duduk di hadapan wali hakim, penghulu, Abraham dan para saksi. Ya pernikahan mereka akan tetap di lanjutkan.


Di samping Zuhra ada Alin dan Citra yang setia menemaninya. Juga Linda. Dia merasa gugup, namun kegugupannya pudar saat melihat Doni yang berdiri di sudut ruangan dengan senyum tulusnya. Juga suara penghulu yang menggema karena menggunakan mike.


"Bagaimana. Sudah siap"


Rafael mengangguk mantap. Dia menjabat tangan wali hakim dengan intruksi dari penghulu.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Rafael Azzam Abraham bin Abraham dengan Zuhra Ghaniya Abrisyam binti Abrisyam almarhum. Dengan maskawin dan seperangkat alat sholat. Tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Zuhra Ghaniya Abrisyam binti Abrisyam almarhum. Di atas tunai"


"Sah?"


"Sah!!" Jawab para saksi.


Seketika saat itu juga. Buliran krstal sudah tak bisa di bendung lagi. Zuhra dan Linda sama-sama terisak. Citra dan Alin yang ada di sana pun ikut menitihkan air mata karena suasana haru ini.


"Alhamdulillahirabbil'alamiin" Lega semua tamu undangan yang hadir.


"Barakallahu laka wabaraka alayka wajamaa baynakuma fii khayri"


"Semoga Allah memberkahi kalian. Dalam keadaan susah maupun senang. Aamiin" Acara di tutup dengan seorang ustadz yang memang di undang untuk membacakan do'a.


Sedangkan Doni memilih keluar dari gedung itu. Di satu sisi dia senang Zuhra bahagia, namun di sisi lain, hatinya pedih... Dia memilih menghampiri Hendrik yang sedang menghakimi Syela.


"Baik silahkan mempelai wanita, bisa mendekat ke sini." ucap penghulu.

__ADS_1


Zuhra pun di tuntun oleh Citra dan Alin. Dia duduk tepat di sebelah Rafael.


Rafael memasangkan cincin ke jari Zuhra secara langsung-tanpa perantara-Begitu juga sebaliknya.


Rafael menyodorkan tangannya ke arah Zuhra. Ketika Zuhra sudah akan menyambutnya, dia turunkan tangannya kebawah. Lalu naik lagi dan menjabat tangan itu, lalu di ci um punggung tangannya. Zuhra gerogi karena belum pernah menyentuh kulit laki-laki selain ayahnya sendiri.


Di lanjutkan dengam Rafael yang mencium keningnya atas interuksi dari Linda. Jantungnya saat ini sudah akan bergeser dari atas ke bawah.


Setelah itu, mereka menandatangani buku kecil berwarna merah dan hijau.


Setelah selesai. Penghulu segera pergi akibat jadwal yang padat.


Sedangkan di luar gedung.


"Apa kamu tahu! Pernikahan itu bukan untuk main-main. Kenapa kamu bisa melakukan semua itu kepada Zuhra! Dia anak yang baik." Bentak Hendrik.


"Mas udah mas" lerai Ranisa.


"Tidak bisa dibiarkan. Semakin besar dia semakin kurang ajar! Dulu juga kamu melakukan hal seperti ini Syela! Jodoh itu di tangan yang maha kuasa! Bukan kita sendiri yang menentukan!"


"Tapi Syela suka sama Rafael!!" Bentak Syela pada Hendrik.


"Cukup pak! Mari kita bicarakan gimana baiknya. Bila perlu lewat hukum. Karena ini termasuk penculikan. Dan itu kriminal" ucap Doni yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.


"Itu harus! Karena kamu sudah menculik seseorang" ucap Doni menunjuk Syela.


...


"Ra sebenarnya tadi apa yang terjadi?" tanya Citra yang lupa akan sikon.


"Ssstt lihat kondisi dong kalo mau tanya" bisik Alin.


"Hehe iya mbak. Maaf"


"Alhamdulillah sekarang kamu sudah jadi mantu mama sayang." Linda memeluk erat Zuhra.


"Iya ma-mama"


"Yasudah sekarang kita ke sesi foto ya." ucap Linda. Zuhra dan Rafael berfoto ria. Mereka foto bersama keluarga, teman-teman dari kampusnya. Juga para dosen yang meminta foto. Di lanjut foto berdua sambil memegang buku nikah dan Menunjukan cincin.


"Maaf mas, mbak. Bisa lebih dekat lagi" ucap sang fotografer. Zuhra dan Rafael saling pandang. Mereka bergandengan tangan.


"Kurang dekat" ucap fotografer itu lagi. Linda yang geram. Langsung turun tangan. Dia menarik tangan Rafael kemudian menaruhnya di pinggang Zuhra. "Nah gini baru bagus" ujarnya puas.


"Maaf Ra" Rafael tak enak Hati. Zuhra hanya tersenyum gerogi.

__ADS_1


Setelah sesi foto selesai. Mereka menyambut para tamu undangan yang mengantri sepanjang rel kereta api menunggu giliran untuk menyapa Raja dan Ratu.


Mereka bahkan sama sekali tak menyinggung masalah penculikan Zuhra. Biarkan mereka menikmati hari bahagianya dulu. Untuk masalah itu...Abraham sudah menyerahkan kepada Doni yang mengaku sudah seperti seorang kakak bagi Zuhra.


"Salam Raja dan Ratu" seloroh Rifki membungkukan badan.


"Apa sih Ki" Rafael tertawa.


"Hmmm selamat sahabatku...Semoga samawa ya" Citra memeluk erat Zuhra. "Makasih ya, Cit"


"Eits jangan lupa doakan kami biar cepet nyusul ya" lanjut Citra.


"Kalian..." Rafael dan Zuhra berbicara bersamaan.


"Iya...Kak Rifki menyatakan cintanya padaku, hehe. Nih" Citra menunjukan sebuah gelang bermotif huruf RC.


"Aamiin. Semoga sampai ke jenjang pernikahan ya"


"Aamiin"


.......


Syela tidak di bawa ke kantor polisi. Karena gangguan mentalnya down. Dia akan di kirim Hendrik ke negara paman Sam. Syela akan menjalani terapi karena gangguan jiwanya kambuh. Sedangkan pihak keluarga Abraham selaku mertua Zuhra menyerahkan masalah ini ke Zuhra.


Zuhra dan Rafael akhirnya menemui Hendrik dan Syela.


"Hai...Hehe...Kamu tahu nggak. Aku batal nikah loh. Dulu juga aku gitu...Batal nikah...Hehe" gumam Syela dengan pandangan mata kosong.


"Astaghfirullah...Syela" Zuhra menutup mulutnya tak percaya melihat keadaan Syela yang berbeda dari beberapa jam sebelumnya.


"Om minta maaf yang sebesar-besarnya pada kamu Zuhra. Kamu sampai terperangkap oleh Syela. Syela memang mempunyai gangguan jiwa karena masa lalunya. Dan baru sembuh sekitar empat bulan yang lalu dan langsung balik ke sini untuk melanjutkan kuliah"


"Eh om gak nyangka, dia malah melakukan hal yang sama seperti dulu" Hendrik menyusut sudut matanya yang berair. Ranisa mengusap lengannya menguatkan.


"Iya om. Zuhra gak papa kok. Zuhra udah maafin semuanya. Yang udah berlalu biarlah berlalu." Zuhra mendekat kearah Syela.


"Syela. Kamu baik-baik di sana ya. Jaga kesehatan biar cepat sembuh" Zuhra memeluk Syela. Sedangkan yang dipeluk hanya diam dengan pandangan kosong.


"Terbuat dari apa hatimu, nak"


Hendrik, Ranisa, Rafael, Citra dan Rifki. Doni juga tentunya. Menyaksikan semua itu. Abraham dan Linda masih menemani tamu undangan yang masih ada.


"Ini yang membuat hatiku menetap di kamu, Zuhra" batin Doni.


"Aku sangat beruntung bisa memiliki kamu." batin Rafael.

__ADS_1


__ADS_2