Zuhra

Zuhra
Eps 53


__ADS_3

Di sebuah ruangan. Kini terlihat seorang gadis cantik dengan gamis dan hijab panjangnya, tengah berjibaku dengan laptop dan setumpuk berkas-berkas di depannya. Ya dia adalah Zuhra. Kebetulan tidak ada mata kuliah di kampusnya, dia memanfaatkan waktu ini untuk pergi bekerja di kantornya. Pikirannya terkadang melayang memikirkan bahwa dua minggu lagi, dia sudah menyandang status 'seorang istri'. Seperti ada sebuah kupu-kupu terbang yang menggelitiki perutnya. Sebuah senyuman terbit di bibirnya. Seluruh persiapan pernikahan pun semuanya sudah di urus oleh Linda dan Abraham. Zuhra dan Rafael hanya perlu pergi untuk fitting baju.


...…...


Sedangkan di sebuah restoran yang tampak sedikit ramai. Terlihat dua orang perempuan. Yang satunya masih muda dan yang satunya sudah paruh baya. Itu adalah Citra dan Ranisa(mama Citra), mereka sedang menunggu seseorang.


"Ma, memangnya om Rik itu orangnya seperti apa...?" tanya Citra.


"Om Rik itu orangnya baik sayang. Udah nanti kamu liat sendiri aja yah?"


"He'em, tapi kalo nanti om itu nggak sesuai sama kriteria Citra, nanti Citra gak akan restuin mama sama dia ya" ucap Citra dengan wajah yang di buat seserius mungkin.


Tampak guratan wajah sedih di wajah Ranisa.


"Hehe maaf ma, Citra bercanda kok. Mama jangan sedih ya. InsyaAllah pasti nanti Citra restuin kok ma" Citra terkekeh pelan sambil mengusap lengan mamanya.


Ranisa tersenyum "Mama gak sedih kok Cit"


"Iya. Ma, Citra ke toilet dulu ya" ucap Citra yang mendapat persetujuan dari Ranisa.


Baru saja Citra pergi ke toilet, kini datanglah dua orang ke arah meja Ranisa.


"Mas" sapa Ranisa tersenyum manis.


"Hallo Rani" ucap orang itu. Ranisa tersenyum.


"Ini putri ku" lanjut orang itu.


"Oh ini putri kamu. Cantik sekali. Siapa nama kamu sayang...?" tanya Ranisa memandang seorang gadis.


"Hmm...Oke juga wanita pilihan papa. Cantik, em kelihatannya dia baik dan penyayang. Okelah" Batin gadis itu.


"Syela tante" ucap gadis itu. Ternyata...Dia adalah Syela. Tentu saja pria paruh baya itu adalah Hendrik.


"Nama yang bagus" ucap Rani. "Ayo mas, Syel duduk dulu" lanjutnya.

__ADS_1


"Oh ya Ran. Mana putri kamu?" tanya Hendrik.


"Loh tante..." ucapan Syela terpotong oleh perkataan Rani.


"Iya, tante juga punya seorang putri. Usianya juga sebaya dengan kamu. Dia lagi ke toilet" jelas Rani.


"Wah nanti Syela jadi ada temen Syoping dong" ucap Syela senang. Hendrik dan Ranisa hanya tersenyum. Rani memang sudah tau dengan sifat Syela. Hendrik lah yang menceritakannya.


Citra baru saja selesai dari toilet. Dia segera menuju ke arah meja yang dia duduki tadi. Dari kejauhan Citra melihat dua punggung seseorang laki-laki dan seorang perempuan berambut panjang. Dan di depannya terdapat mamanya yang terlihat tertawa.


Citra pun segera mempercepat langkahnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dua orang itu yang mungkin nantinya akan menjadi keluarganya.


"Mama, maaf ya lama" ucap Citra. Saat pandangan matanya bertemu dengan manik mata Syela dia kaget bukan main. Syela pun sama, dia lantas berdiri dari posisi duduknya.


"Lo!"


"Syela!"


Dua kalimat itu terucap bersamaan dari mulut yang berbeda.


"Dia ngampus di kampus yang sama dengan Citra. Dan kita satu jurusan juga satu kelas" jelas Citra.


"Wah bagus kalau begitu. Ini suatu kebetulan atau apa ya?" ucap Hendrik tersenyum hangat pada Citra.


"Papa" batin Citra saat melihat senyum hangat hendrik. Dia jadi teringat mendiang papanya. Sudah enam tahun lamanya, Citra tak melihat senyum itu. Senyum itu seperti senyum yang papanya tunjukan dulu...sewaktu usianya masih dua belas tahun.


"Sudah. Sekarang kita pesan makanan saja dulu ya" usul Ranisa, mereka pun memesan menu makanan.


"Om Rik" ucap Citra tiba-tiba.


"Iya Citra"


"Ah e-enggak" Citra menggeleng. Kemudian netranya memandang Syela yang juga sedang memandangya, dengan pandangan yang sedikit tidak bersahabat.


"Awalnya gue udah suka sama tante Ranisa. Tapi...kenapa harus dia yang jadi Saudari tiri gue. Gue harus gimana!." batin Syela.

__ADS_1


"Aku ngerasa, mama bakalan nyaman dan bahagia jika bersama om Rik. Tapi kenapa harus Syela yang menjadi saudari tiri ku?" Citra membatinkan hal yang sama.


"Ehm. Jadi bagaimana, apa kamu setuju dengan hubungan papa dan tante Rani, Syela?" tanya Hendrik.


"Ya Citra, apa kamu setuju jika mama sama om Rik?" Rani menanyakan hal yang sama kepada Citra.


Citra dan Syela saling pandang. Tatapan mata mereka menyiratkan suatu pandangan yang berbeda.


"Aku gak mungkin kan. Gak jadi restuin hubungan mama dan om Rik. Mama berhak bahagia" lagi Citra membatinkan hal itu.


"Syela setuju pa" ucap Syela yang mengagetkan Hendrik, Rani dan Citra.


"Ci-Citra juga setuju. Asalkan om Rik bisa membahagiakan mama" pada akhirnya...Citra pun menyetujuinya.


"Pasti nak. Pasti om akan bahagiakan mama kamu"


Seorang pelayan mengantarkan makanan menggunakan troli. Hingga menghentikan percakapan mereka.


Mereka pun makan dengan canda tawa. Lebih tepatnya hanya Hendrik dan Rani saja. Syela dan Citra lebih memilih diam. Sesekali pandangan mereka bertemu. Namun mereka segera memalingkan wajah satu sama lain.


"Baiklah. Pernikahan kami akan di adakan satu hari lagi. Lebih cepat lebih baik" ucap Hendrik yang membuat kaget Citra.


"Dan hanya ada akad saja. Karena mengingat usia kami yang tak lagi muda." lanjut Hendrik.


"Iya. Apa di antara kalian ada yang keberatan" tanya Ranisa memandang Citra dan Syela secara bergantian.


Syela dan Citra sama-sama menggeleng.


"Toh mau nikahannya satu hari lagi, bahkan malam ini pun gue gak peduli. Hanya perlu menyetujuinya dan selesai. Untuk si Citra ini, dia bakal jadi saudari tiri gue, dia teman dekat Zuhra kan? Hm gak tau lah...Sekarang gue harus segera pergi dari sini." Batin Syela setelah menghabiskan makanannya.


.


.


Thanks for reading

__ADS_1


__ADS_2