
"Siapa orang itu...? Apa mungkin dia sedang mengawasi rumahku? dan apa tujuannya...? Atau aku yang salah lihat. Ya Allah lindungilah aku dari segala marabahaya" Pikiran-pikiran negatif mulai bersarang di otaknya.
Dia mencoba menepis pikiran negatifnya dan berusaha untuk berpikir positif "Le-lebih baik aku melihatnya lagi. Apakah orang itu masih ada atau tidak...!" Dia mendekat kearah jendela, dan membuka gordennya sedikit.
"Tidak ada orang. A-apa mungkin tadi hanya imajinasiku saja?" Dia melihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 22:00 WIB.
Dia melangkah kearah ranjangnya. Dan memutuskan untuk tidur. tangannya terangkat untuk menggapai boneka panda. "Hei Fafa, kamu mengingatkanku dengannya." Dia pun tertidur dengan memeluk Fafa si boneka panda.
Di sisi lain, Rafael pun tertidur dengan memeluk Rara si boneka panda berpita.
.
Di lain tempat dan diwaktu yang sama.
Seorang gadis berjalan mondar-mandir didalam kamarnya.
"Duh gue harus minta uang ke papa nih. Kalo nggak minta ke papa. Uang dari mana lagi coba!" Itu adalah Syela. Dia melangkahkan kakinya menunuju kamar sang papa.
Tok Tok Tok "Pa Syela masuk ya" ucapnya.
Ceklek (Syela membuka pintu)
Ternyata sang papa tidak ada di sana, ah mungkin papa ada diruang kerja, pikirnya.
Dan benar saja, papanya itu sedang berkutat dengan laptop dan beberapa berkas.
"Papa" Syela memegang lengan sang papa.
"Ada apa. Uang lagi...?" pak Hendrik sudah terbiasa dengan tingkah laku anaknya. Ya, Syela akan mencari pak Hendrik ketika dia sedang membutuhkan uang.
"Haha. Papa tau aja" Syela cengengesan.
"Berapa" tanya Hendrik." Syela tampak diam dan memikirkan sesuatu.
"Gue sebenernya butuh uang banyak. untuk ini dan itu. Ya! untuk melanjutkan rencana-rencana yang akan gue buat kedepannya, gue memerlukan banyak uang. Apa papa akan memberikannya" batin Syela
"Emm enggak banyak kok pa. Cuma 50 puluh juta. Papa ada kan?" Syela menggigit bibir bawahnya, Dia takut kalau-kalau papanya tidak mau memberikan uang kepadanya.
"Apa! Cuma, cuma kamu bilang! Itu nominal yang cukup banyak Syela! Untuk apa uang itu...!?"
__ADS_1
"Em un-untuk Syela simpen. Ya Jadi kalo Syela lagi butuh sesuatu, kan udah ada uang itu. Jadi Syela nggak perlu minta ke papa lagi y-ya gitu pa"
"Oh apa benar begitu? papa tau gimana kamu Syela. Yasudah papa minta, ini terakhir kalinya kamu meminta uang.
Ingat Syela. Kebutuhan kamu sudah terpenuhi disini, kamu memiliki semuanya. Kamu hanya perlu kuliah dan belajar dengan giat, agar kamu bisa belajar untuk memegang kendali perusahaan papa. Itu saja yang papa minta!.
Syela memutar bola matanya. "Huh ya-ya. Udah ditransfer belum uangnya?"
"Sudah" jawab Hendrik.
"Oke pa, kalo gitu Syela pergi ya" baru saja dia membalikan tubuhya. Tiba-tiba papanya memanggil.
"Tunggu Syela. Ada yang ingin papa bicarakan" Raut wajah Hendrik tampak serius.
"Ada apa lagi sih pa?" dengan kesal, dia menunggu Hendrik untuk berbicara.
"Apa, apa kamu menginginkan sosok seorang ibu?" tanya Hendrik.
"A-apa papa bilang? Sosok seorang ibu?. Ahaha, lucu sekali papa bertanya seperti itu. Sudahlah Syela kesini itu hanya ingin meminta uang, bukan untuk membicarakan hal yang lain. Apa lagi yang dibicarakan adalah... Ah sudahlah" Syela pergi dari ruang kerja Hendrik.
.
07:00 WIB
Dia pergi ke kampusnya menggunakan pingki si motor maticnya.
.
Sesampainya di Kampus, dia langsung memarkirkan motornya. Tujuannya hanya satu, yaitu kelasnya, karena sebentar lagi kelas akan di mulai.
Saat Zuhra akan memasuki kelas, dia melihat Citra dan Rifki yang tampak sedang berbicara berdua tak jauh darinya. Zuhra pun berniat menghampiri mereka.
"Heh harusnya lo tuh berterimakasih sama gue, kalo nggak, mungkin lo masih ada di jalan dan belum sampe sini"
"Enak aja. Kan aku bisa pesen taxi atau ojek online. Kebetulan kak Rifki lewat jadi aku nebeng."
Terdengar keributan diantara keduanya.
"Assalamualaikum" ucap Zuhra.
__ADS_1
"Waalaikum salam" jawab Citra dan Rifki serempak.
"Kamu enggak masuk kelas Cit? Sebentar lagi, kelasnya udah mau mulai lho." Zuhra bertanya.
"Iya Ra, ini juga udah mau masuk, tapi kak Lugan gangguin aku nih"
"Eh enak aja, udahlah gue mau masuk kelas. Bay" Rifki berlalu dengan kesal.
"Huh ngeselin" Citra marah bersungut sungut.
.
"Ra, gimana kalo aku ikut ke kantor kamu. Ya hitung-hitung buat nemenin kamu"
Zuhra mengangguk setuju.
Mereka pergi dengan menaiki motor matic Zuhra. Dengan Citra sebagai pengemudi.
Sesampainya disana.
"Selamat datang bu Zuhra" sapa Fitri selaku resepsionist dikantor Zuhra. Zuhra mengangguk dan tersenyum.
"Wah, temanku udah jadi bos ya sekarang hehe" celetuk Citra.
"Ihs apa sih Cit" mereka menaiki lift menuju lantai paling atas.
"Dih berkasnya banyak banget. Ini mau kamu apain Ra?" tanya Citra heboh saat melihat tumpukan berkas di meja kerja Zuhra.
"Ini berkas yang harus aku cek dan aku tandatangani Cit" jawab Zuhra.
"Oh gitu"
Tok Tok Tok.
"Masuk" jawab Zuhra. Ternyata itu adalah pak Putra.
"Permisi bu Zuhra"
"Ya pak Putra, ada apa?"
__ADS_1
Pak Putra melirik Citra. "Dia Citra, sahabat saya" jawab Zuhra seolah mengerti dengan
pak Putra.