Zuhra

Zuhra
Eps 40


__ADS_3

"Ya, tidak apa-apa pak Hendrik."


"Syela memang seperti itu, dia sangat suka sekali dengan uang, menurutnya uang adalah segalanya" Entah kenapa pak Hendrik malah Curhat. Zuhra pun mendengarkanya.


"Kalo saya boleh tahu, memang ibunya tidak melarangnya?" tanya Zuhra.


"Ibunya sudah meninggal saat melahirkan Syela, dan jika ibunya masih ada, entah apa jadinya, jika dua orang yang mempunyai kebiasaan yang sama, akan bersatu. Dulu ibunya Syela juga suka berfoya-foya (menghambur-hamburkan uang).


Dari dia kecil, saya yang mengurusnya seorang diri, dibantu oleh asisten rumah tangga, namun saya juga sibuk bekerja, jadi saya tidak terlalu memperhatikannya. Apapun yang dia minta, saya selalu kasih. Saya menyesal sekali" ucap pak Hendrik dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Eh maaf-maaf, saya jadi Curhat begini"


Zuhra mengangguk dan tersenyum. "Kasian juga pak Hendrik" batin Zuhra.


"Semoga, suatu saat Syela bisa berubah ya pak"


"Aamiin, terimakasih bu Zuhra." Zuhra mengangguk.


"Lho Zuhra" ucap seseorang.


"Eh tante Rani" Zuhra berdiri dan mencium punggung tangan kanan Rani, Rani adalah mama Citra.


"Kamu lagi ngapain disini sayang" tanyanya.


"Zuhra habis meeting tan, ini baru selesai, tante sendiri?"


"Iya, tadi tante ada janji sama temen tante" ucapnya sambil melirik pak Hendrik.


Pak Hendrik hanya mendengarkan Zuhra dan Rani berbicara.


"Yasudah, tante pergi dulu ya nak, kamu hati-hati pulangnya" pesannya melangkahkan kaki meninggalkan Zuhra.


"Maaf pak, anda malah jadi mendengarkan obrolan saya yang tidak penting"


"Tidak apa-apa, hm bu Zuhra, sepertinya saya harus pergi" ucapnya melihat jam tangan berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh, ya silahkan" Zuhra mengangguk sopan.


Setelah kepergian pak Hendrik, Zuhra pun pergi kembali kekantornya, menggunakan taxi.


Sesampainya di kantor, dia langsung dihadapkan dengan setumpuk berkas.


.


Tepat pukul 16:15, semua pekerjaan Zuhra sudah selesai. Baru saja dia akan memesan taxi online, namun hand ponenya kehabisan daya.

__ADS_1


"Fyuh, semoga di depan ada taxi" gumamnya berharap.


Sudah sekitar dua puluh menitan Zuhra menunggu taxi, namun tidak ada satu taxi atau ojek pun yang lewat. Para karyawan pun sudah pada pulang, hanya ada beberapa saja.


"Bu Zuhra" ucap seseorang sambil menepuk bahu Zuhra agak kencang.


"Astaghfirullah" Zuhra menoleh kebelakang ternyata itu adalah Alin. "Mbak Alin ngagetin aja deh."


"Hehe, abisnya bu Zuhra bengong, aku panggil aja ndak denger" ucapnya.


"Iya mbak Alin, aku lagi nunggu taxi, tapi nggak ada yang lewat"


"Emm gitu, gimana kalo kita bareng aja, itu taxi online pesananku udah dateng"


"Emang nggak papa ya?" tanya Zuhra.


"Yo ndak papa lah. Ayo" Alin menggandeng tangan Zuhra untuk masuk kedalam taxi.


Di dalam taxi.


"Rumah mbak Alin dimana?"


"Aku ngekost bu" jawab Alin. "Ini kan udah diluar kantor mbak, jangan panggil bu lagi ah"


"oh iya ya, Alamatmu dimana Zu-Zuhra?" tanya Alin agak gerogi memanggil Zuhra dengan nama saja.


Taxi berhenti tepat di depan gerbang rumah Zuhra.


"Aku turun dulu mbak Alin, biar aku aja yang bayar taxinya ya"


"Eh enggak usah, biar aku aja"


"hmm gimana kalo mbak Alin nginep aja dirumahku?" tanya Zuhra.


"E-eh jangan ah, aku nggak enak sama kamu"


"Nggak apa-apa, yuk" Zuhra menarik tangan Alin keluar dari taxi, tak lupa juga dia membayar ongkos taxi tersebut.


Zuhra membuka gembok gerbang, dan mengajak Alin masuk. "Ayo" ajaknya. "Ta-tapi aku nggak bawa baju ganti" ucap Alin.


"Pake bajuku aja nanti"


"Oke deh"


Mereka masuk kedalam rumah, tak lupa juga Zuhra mengucap salam dan dijawab sendiri salamnya.

__ADS_1


"Rumahnya besar ya, kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" tanya Alin.


"Iya, oh ya mbak, kamu mau mandi?


"Iya, udah lengket nih badan, hehe" Jawab Alin.


"Yaudah, mbak mandi dikamarku aja"


"Ya Allah, Zuhra baik sekali, padahal aku ini kan, hanya karyawannya saja, masa karyawan dan bos... ah sudahlah" batin Alin.


...


Alin dan Zuhra sedang duduk disofa ruang keluarga, sambil memakan beberapa bungkus snack.


"Mbak Alin, berarti anak pertama?"


"Aku anak kedua, aku mempunyai seorang kakak perempuan, dia sudah menikah dan ikut suaminya, sampai sekarang aku nggak tau gimana kabarnya" jawab Alin.


"Oh gitu ya" Alin mengangguk.


Drrt drtt


Bunyi ponsel Zuhra, tanda ada seseorang yang menelfonnya.


"Kak Rafa" gumam Zuhra.


"Bentar ya, aku angkat telfon dulu" ucapnya pada Alin.


'Hallo, assalamualaikum'


'Waalaikum salam, udah malem belum tidur'


'Belum kak, ini lagi nonton Tv'


'Oh gitu, jangan malem-malem tidurnya, nanti jadi panda lho, matanya item haha'


'Haha iya-iya, bentar lagi juga tidur kok'


'Aku tutup dulu telfonnya. See you'


Panggilan telfon pun berakhir.


.


Zuhra tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapan Rafael, yang selalu menyangkutkan panda, saat dia belum tidur.

__ADS_1


"Telfonan sama siapa?"


__ADS_2