
Linda yang mendapatkan pernyataan seperti itu langsung menjewer keras telinga anaknya. sedangkan Abraham, dia hanya tersenyum melihat istri dan putranya.
"Gini-gini mama juga mama kamu Rafael. Iiih"
"Tante cantik kok" Zuhra bersuara.
Linda yang mendengar ucapan Zuhra. Langsung menatap calon menantunya itu "Kamu benar sayang. Eh tapi, masa sih"
Zuhra tersenyum menatap Linda. dia serius memuji Linda. Wanita yang sudah berkepala empat itu, tetap cantik meski usianya sudah tak muda lagi.
"Sudah-sudah. Sebenarnya memang ada yang ingin kami sampaikan kepada kalian." ucap Abraham mulai serius. Rupanya sepasang suami istri itu, sudah berencana untuk membicarakan suatu hal kepada Rafael dan Zuhra.
"Ya. Mama dan papa...Ehm apa kalian sudah siap menikah?" tanya Linda to the point.
Zuhra terkesiap mendengar ungkapan Linda.
"Papa rasa, kalian sudah cocok untuk membina sebuah rumah tangga. Kamu juga sudah mulai bekerja Rafael. Jadi kamu bisa mencukupi kebutuhan Zuhra dan anak-anak kalian kelak." jelas Abraham.
"A-anak?" Batin Zuhra kaget. Saat ini, wajahnya sedang Blushing pastinya.
"A-anak?!?" ternyata Rafael membatinkan hal yang sama.
"Pa. Jujur Rafael juga memikirkan hal yang sama. Tapi apakah Zuhra sudah siap untuk hal ini...?" tanya Rafael memandang Zuhra yang sedari tadi diam.
Merasa namanya di sebut. Zuhra pun mulai ikut berbicara kepada mereka.
"Zu-zuhra...InsyaAllah siap tante, om. Karena pernikahan adalah sebuah hal sakral. Dan jika itu hal baik, kenapa tidak di segerakan saja." jawab Zuhra seadanya.
__ADS_1
Linda dan Abraham saling memandang dan tersenyum. "Baiklah. Sekarang kita tentukan kapan hari-H nya akan di laksanakan." ucap Abraham.
"Bagaimana jika dua minggu lagi, lebih cepat lebih baik" seru Linda.
Yang ada di fikiran Zuhra sekarang hanyalah, siapa yang akan menjadi wali nikahnya nanti...? Paman...Bahkan dia tidak tahu dia mempunyai paman atau tidak. Atau saudara laki-laki dari pihak ayahnya? dia tidak punya.
Matanya berkaca-kaca saat mengingat masa-masa dulu, ayahnya sedang menggodanya.
Flash back
"Putri ayah kan cantik. Pasti juga akan mendapat imam yang tampan. Putri ayah kan sholehah, pasti juga akan mendapat imam yang sholeh. Ayah jadi membayangkan, bagaimana ya jika suatu saat nanti, ayah akan menikahkan kamu.
Menjadi wali nikah kamu dan melepaskan tanggung jawab ayah sebagai pelindung bagi kamu. Karena nanti, jika kamu sudah menikah. Kamu sudah menjadi tanggung jawab suami kamu." ucap Abrisyam panjang lebar, (ayah Zuhra.)
"Ayah. Zuhra kan masih SMA. jangan bahas masalah pernikahan ah. Bunda ayah, Zuhra ke atas dulu ya. Mau mandi." ucap Zuhra yang masih berbalut seragam putih abunya.
Flash back off
"Sayang kamu kenapa. Apa ada yang salah dengan perkataan tante...?"
Zuhra terkesip "Ti-tidak apa-apa tante. Hanya saja, siapa yang akan menjadi wali nikah Zuhra nanti. Apakah harus wali Hakim...?" ucap Zuhra pelan.
Linda, Rafael dan Abraham baru sadar akan hal itu. "Apakah kamu mempunyai paman atau saudara laki-laki dari pihak ayah kamu nak?" tanya Abraham.
Zuhra menggeleng pelan. Rafael yang sudah tahu akan hal itu langsung angkat bicara. "Zuhra. Apa kamu mau jika menggunakan wali Hakim?" tanya Rafael seraya menatap lembut Zuhra.
"Jalan satu-satunya adalah itu" jawabnya tersenyum tipis.
__ADS_1
Linda mengusap pelan bahu Zuhra.
"Yasudah. Untuk hari pernikahannya dua minggu lagi. apa kalian berdua setuju...? Untuk mengurus berkas-berkasnya di KUA, nanti papa bantu. Kebetulan papa punya salah satu kenalan yang bekerja di KUA." ucap Abraham.
"Iya nak, nanti biar mama yang urus masalah gedung dan lain sebagainya. Untuk lebih detailnya, nanti kita bicarakan lagi ya." Linda berkata seraya melihat Handponenya yang sudah menunjukan pukul 16:11 WIB.
"Ka-kalau begitu Zuhra pamit ya tante, om, kak Rafa" ucap Zuhra seraya pamit.
"Rafael, kamu antar Zuhra ya"
"Gak di suruh pun, Rafa bakal anter ma"
"Gak usah kak, aku bawa motor kok" tolak Zuhra.
"Motornya tinggal di sini aja nak. Nanti tante suruh pak Abdul anter ke rumah kamu"
"Zuhra gak mau ngerepotin kak Rafa. Lagian kak Rafael kan juga baru pulang dari kantor, pasti capek. Zuhra pamit ya." pamitnya mencium punggung tangan kanan Linda dan Abraham secara bergantian.
"Aku anter sampe depan komleks ya" ucap Rafael. Zuhra pun menyetujuinya.
.......
Sedangkan di sisi lain.
"Apaaaaa. Jadi mereka udah mau nikah...? Gue kira masih ada celah buat gue. Eeeegh kenapa? Gue udah suka sama lo Rafael. Gue akan lakukan segala cara untuk bisa ngedapetin lo. Bagaimanapun caranya.
Terus awasi dia" Mematikan telfonnya dan berhambur ke tempat tidur, memikirkan suatu rencana.
__ADS_1