
Matahari sudah mulai naik dan terus naik sampai ke barat. Gadis berhijab lilac itu membereskan laptop dan barang-barangnya yang ada di atas meja kerja. "Alhamdulillah semuanya selesai" ucapnya tersenyum senang.
Zuhra akan pulang diantar oleh pak Putra. Kebetulan juga, tadi Citra menelfonnya ada yang ingin Citra bicarakan kepada Zuhra. Dan rencananya setelah waktu ashar selesai, Citra akan ke rumah Zuhra.
Sesampainya dia di rumah, dia langsung membuka gembok gerbang rumahnya. Tak lupa juga Zuhra mengucapkan terimakasih kepada pak Putra yang telah mengantarnya.
Zuhra langsung membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Sambil menunggu kedatangan Citra. Zuhra keluar melihat-lihat sekeliling rumahnya. Saat dia sedang melihat ke arah balkon kamarnya. Dia heran.
"Kok bisa ada tangga lipat" tanyanya pada diri sendiri. Pasalnya, di luar balkon kamar Zuhra, terdapat tangga lipat yang menggantung di tembok.
Saat sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Zuhra mendengar suara klakson motor dari depan rumahnya. Gadis berhijab grey itu langsung melihat ke arah gerbang. Di sana terlihat Citra yang sedang melepas helm, dan kemudian Citra menyerahkan helm itu pada tukang ojol.
"Assalamualaikum Ra." ucapnya.
"Waalaikum salam. Yuk masuk"
"Gak ah. Kita duduk di luar aja ya, lagian aku juga gak lama" ucap Citra.
"Ada apa Cit."
"Aku udah setuju mama nikah lagi. Bahkan aku udah ketemu sama orangnya. Tapi..." ucap Citra menggantung.
"Kenapa...?"
"Calon papa baru aku adalah...Papa Syela" ucap Citra yang langsung mengagetkan Zuhra.
"P-pak Hendrik" Zuhra masih tidak percaya.
Citra mengangguk mengiyakan. "Kok kamu bisa tau namanya?"
"Pak Hendrik adalah clienku di kantor, Cit. Tapi kok bisa kebetulan ya" Zuhra tersenyum.
__ADS_1
"Iya sih. Aku juga awalnya gak nyangka, kalo aku dan Syela bakal sodaraan!"
"Tapi menurut aku. Pak Hendrik orangnya baik deh. Penyayang juga."
"Iya sih Ra. Aku rasa juga gitu. Tapi Syela...em udahlah. Oh ya, besok aku minta tolong ya. Izinin ke dosen yang ngajar. Aku gak masuk. Untuk alasannya ada kepentingan keluarga." ucap Citra.
"Memangnya, kenapa Cit?"
"Nih dengerin baik-baik ya Ra. Besok, Besoknya lagi, itu acara pernikahan mamaku dan om Hendrik."
"Eh, secepat itu Cit?" tanya Zuhra.
"Iya. Jangan lupa dateng ya. Acaranya si cuma akad. Kamu jangan lupa undang kak Rafael ya. Terus nanti kak Rafa suruh ajak kak Lugan juga"
"Iya. InsyaAllah. Oh ya, perlu bantuan gak?"
Citra menggeleng. "Acaranya juga di rumahku kok. Tamu undangannya juga gak banyak. Dari temanku yang aku undang hanya tiga orang dan, ah pokoknya gak lebih dari 10 orang deh"
"Semoga semuanya lancar ya Cit"
"Oh ya. Aku boleh numpang ke kamar mandi gak" lanjutnya.
"Bolehlah. Ha ha yaudah sana"
...…...
Setelah kepergian Citra tadi. Zuhra berniat menghubungi Rafael. Namun siapa sangka. Rafael malah menelfonnya. Zuhra pun mengangkatnya.
'Hallo. Assalamualaikum kak'
'Waalaikum salam. Gimana...udah pulang atau masih di kantor?'
'Udah di rumah kok. Kak Rafa pasti masih dikntor ya...?'
__ADS_1
'Iya. Bentar lagi juga pulang.'
'Emm gitu'
Percakapan dalam telefon antara Rafael dan Zuhra pun selesai di akhiri dengan canda dan tawa. Tak lupa juga, Zuhra memberitahu Rafael agar bisa datang di acara akad orang tua Citra.
.
Rafael dan Abraham telah sampai di rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam rumah. di sofa ruang tengah, mereka langsung di sambut oleh Linda yang sedang memegang telefon, dengan mulutnya yang terus berbicara.
"Iya. Pokoknya kamu siapkan aja tiga gaun Syar'i yang bagus dan cantik ya jeng. Jangan lupa beberapa setelan jasnya juga. Oh, iya jeng. Nanti anak saya akan ke sana beberapa hari lagi. Oh oke. Iya terimakasih ya jeng" ketika Linda membalikan badan. di belakangnya sudah ada Abraham dan Rafael.
"Eh pa. Rafael. Kalian Sudah pulang" ucap Linda yang langsung menyalimi punggung tangan kanan Abraham, begitu pun dengan Rafael. Dia menyalimi punggung tangan kanan Linda.
"Ma, Rafa ke atas dulu" ucap Rafael langsung melenggang pergi tanpa menunggu jawaban sang mama.
"Heh kebiasaan anak itu"
19:18 WIB.
Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Tepatnya hanya Abraham dan Linda. Karena setelah makan malam selesai. Rafael langsung pergi ke kamarnya.
"Bagaimana dengan semua persiapannya ma" ucap Abraham.
Seakan mengerti arah pembicaraan Abraham. Linda pun menjawabnya. "Alhamdulillah pa. Sudah selesai. Tinggal mencetak undangan saja. Dan Fitting baju pengantin, mungkin nanti jika sudah agak dekat dengan hari-H" jawab Linda.
"Syukur lah kalau begitu"
"Iya pa. Tapi mama sih pengennya mereka foto prewedding dulu, tapi kayaknya Zuhra dan Rafael gak akan mau deh pa"
"Yasudah ma. Tidak perlu. Yang penting semuanya sudah beres. Kita tinggal menunggu hari nya saja. " ucap Abraham.
"Tapi mama khawatir pa. Takut nanti setelah menikah Zuhra jadi kecapean karna harus melakukan segala hal. Maksud mama Zuhra kan masih harus kuliah. Bekerja di kantornya dan juga harus mengurus Rafael. Apa nanti dia bisa.."
__ADS_1
"Percaya saja sama Zuhra ma. InsyaAllah dia anak yang kuat. Zuhra kan juga sudah meminta izin kepada kita. Walaupun dia sudah menikah, dia akan tetap mengurus kantor Alm ayahnya itu. Yang terpenting adalah mereka harus bisa menjaga komitmen" jelas Abraham. Linda pun mengangguk.
Rafael yang akan turun untuk mengambil air minum. Dia urungkan niatnya kala dia tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Zuhra...Dia..."