Zuhra

Zuhra
Eps 60


__ADS_3

...Hari ke hari terus maju...Meninggalkan setiap inci masalah dan kejadian yang ada di belakang....


...Waktu demi waktu terus berganti...


...Bulan ke bulan terus berhilir...


...Tahun ke tahun pun terus berjalan......


***


"Bunda...Ayah udah pulang, ayok kita lihat ayah di depan" Teriak seorang anak laki-laki.


"Iya nak. Arsen jangan lari-lari ya!"


Bocah laki-laki itu lari menuruni anak tangga untuk menyambut ayahnya di depan pintu...Dia sangat senang sekali menyambut kedatangan ayahnya. Ayah yang selalu dia anggap sebagai pahlawan..


"Ayaaaah...."


BRUUUK


Arsen langsung berhambur memeluk pria yang dia sebut ayah.


"Mau ayah gendong atau mau jalan sendiri?" tanya Rafael dengan menaik turunkan alisnya.


"Arsen mau jalan sendiri lah" jawab Arsen. Ya begitulah anak-anak di usia empat tahun. Terkadang ada yang belum bisa menyebutkan huruf R. Berbeda dengan Arsen. Dia sangat lihai dan lancar saat menyebutkannya.


Rafael mengusap kepala putranya gemas. "Yaudah yuk"


"Ayah" Zuhra yang baru datang langsung menyalimi punggung tangan Rafael.


"Bunda" Balas Rafael men cium kening Zuhra.


"Iiih ayah gak boleh gitu dong...Ada Arsen juga" protes Zuhra, namun Rafael hanya mengedikan bahu dan tersenyum.


"Yaudah, ayah mau langsung mandi atau bunda bikinin minum dulu nih?"


"Minum dulu deh"

__ADS_1


"Oke...Mau teh atau kopi?"


"Teh aja bun. Makasih ya" Zuhra mengangguk-angguk. Lalu dia beranjak menuju dapur.


Setelah semuanya selesai dia kembali ke ruang tengah. Dimana ada Arsen dan Rafael.


"Nih teh nya..."


"Terimakasih bunda cantik"


"Terimakasih bunda cantik" Rafael dan Arsen kompak mengucapkan kata yang sama. Kemudian mereka sama-sama tertawa.


"Arsen, ayah mau tanya nih...Boleh gak?"


"Boleh dong, yah"


"Arsen kalau besar mau jadi apa?" tanya Rafael.


"Emmm Arsen mau jadi polisi, kaya om Doni. Eh tapi bukan polisi yang panas-panasan (Polisi lalu lintas) di jalan ayah!"


"Hmm terus?"


"Ahah hahaha....," Zuhra dan Rafael langsung tertawa karena ulah Arsen.


"Kenapa?" tanya Arsen dengan bola mata yang membulat.


"Gak papa sayang" jawab Zuhra.


"Hu'um oke. Tapi Arsen mau main boleh? Sama ayah? Tapi bunda jangan ikut, kasihan bunda, nanti capek" Zuhra tersenyum manis mendengar penuturan putranya.


"Emangnya Arsen mau main apa?" tanya Rafael.


"Polisi-polisian ayah mau kan? Tapiii Arsen yang jadi polisi, ayah penjahatnya ya?"


"Emm oke deh"


"Ayooo ada penjahat! Tangkap-tangkap...Hayooo ayah mau kemana...Arsen udah mau tangkep ayah niiih" Seketika itu juga. Arsen dan Rafael berkejar-kejaran memutari sofa. Zuhra hanya melihatnya saja.

__ADS_1


"Ahaha...Aduuuh ayah harus bisa kabur nih! Ada pak polisiii hehe"


"HAP! Yeay ayah ketangkep...Berarti Arsen hebat dong bisa tangkep penjahat!" Seloroh Arsen dengan memeluk Rafael.


"Iya-iya...Arsen hebat deh" Rafael mengacungkan dua jempolnya kearah anaknya yang langsung di sambut dengan Arsen yang mencium pipinya.


Bocah kecil itu mendekat ke tempat di mana Zuhra berada. Bundanya itu sedang tersenyum manis kearahnya.


"Bundaaa, tadi lihat Arsen kan?"


"Iya, bunda lihat kok...Arsen hebat"


"He'em. Terimakasih bundaaa.." Arsen memeluk erat Zuhra. Lalu dia menengok kearah Rafael yang sedang melihatnya. "Ayaah sinii Arsen peluk juga!"


Rafael pun mendekat. Menyambut pelukan keluarga kecilnya. Arsen yang ada di sebelah kiri Zuhra, sedangkan Rafael ada di sebelah kanan Zuhra.


"Arsen sayaaaang bunda ayah"


"Ayah bunda juga sayaaang sama Arsen...Banget malah"


"Hahahahaha......," mereka tertawa bersama.


Tak terasa sudah empat tahun pernikahannya dengan Rafael. Rifki dan Citra pun menikah tak lama setelah acara pernikahan Zuhra dan Rafael. Doni yang menjadi sad boy, sudah menikah dua bulan yang lalu dengan Alin. Sedangkan Syela...dia sudah sembuh dari gangguan kejiwaannya, dia menetap di negara tetangga.



..."Saat ada kesedihan pasti ada kebahagiaan. Inilah yang aku rasakan....Hidup bersama keluarga kecil yang bahagia....


Aman, damai dan tentram itulah yang aku rasakan. Hidup bersama kak Rafael juga malaikat kecil kami...Arsen. Semoga semuanya akan tetap seperti ini...Kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan.


Percayalah...Takdir sebenarnya tidak mempermainkan kita...Mungkin kita yang mempermainkan takdir...Entahlah, sebenarnya jika kita bisa menerima takdir yang sudah ditentukan, semuanya akan berjalan dengan semestinya. Namun akan berbeda jika kita melawan takdir. Mungkin kehancuran yang akan kita terima...


Ayah dan bunda yang sudah tenang di alam sana...Kalian melihat kan, Zuhra sangat bahagia...Seperti yang ayah dan bunda bilang.


Definisi bahagia itu mudah, bisa di mulai dari hal-hal kecil sampai besar. Dulu...Bunda bilang, bisa berkumpul dengan keluarga saja rasanya sudah sangaaat bahagia. Itu juga yang Zuhra rasakan Bun....."


Karena kehidupan yang tidak teruji bukanlah kehidupan yang bernilai-Socrates

__ADS_1


*Zuhra Ghaniya Abrisyam


......END......


__ADS_2