
Zuhra kini sedang mengendarai motor maticnya menuju ke arah pulang. Saat dia hampir sampai di rumahnya. Dari kejauhan, dia melihat seseorang sedang duduk bersandar di gerbang rumahnya. Tangannya menutupi wajahnya. Semakin dekat, Zuhra semakin tau orang itu siapa. Orang itu adalah Citra, sahabatnya.
Dia segera mempercepat laju kendaraaannya. Setelah sampai. Dia memarkirkan motor miliknya tepat di depan gerbang rumahnya. Merasa ada yang datang. Citra mengangkat kepalanya. Saaat tahu siapa yang datang, dia langsung berhambur memeluk Zuhra. Meluapkan tangisannya di sana. Dapat Zuhra rasakan. Hijab yang saat ini dia kenakan sudah sedikit basah.
"Kamu kenapa Cit?. Emm bentar ya, aku buka gerbang dulu. Kita masuk, ngobrolnya di dalem aja" ucapnya mengurai pelukannya dengan Citra.
Zuhra pun membuka gembok gerbangnya. Dan memasukan motor maticnya ke garasi.
Kini mereka sudah masuk ke dalam rumah Zuhra. Tepatnya mereka sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Kamu tenang dulu yha. Bentar aku ambil air minum dulu" ucap Zuhra, sedangkan Citra dia masih bungkam dengan air mata yang masih mengalir.
Zuhra kembali dari arah dapur dengan membawa segelas air putih. Di minumkan air putih itu kepada Citra. Citra hanya meminumnya sedikit.
Zuhra mengusap pelan bahu Citra. "Sekarang. pelan-pelan kamu cerita ya? ada apa sebenarnya...?"
"Mama Ra. Mama aku" ucap Citra pelan.
"Tante Ranisa kenapa Cit?" Zuhra mulai panik.
"Di-dia mau nikah lagi" ucap Citra pelan.
Zuhra yang mendengar itu lantas tersenyum.
"Kok kamu malah senyum-senyum gitu sih?"
"Em, gini ya Cit. Mama kamu udah sendiri tanpa pendamping udah lama kan?"
__ADS_1
"Iya, udah enam tahun yang lalu papaku meninggal"
"Bukan maksud apa-apa. Tapi coba deh kamu pikirkan masalah ini baik-baik. Mungkin saat ini mama kamu udah menemukan seseorang yang cocok. Karena mama kamu juga berhak bahagia. Dia juga mungkin butuh seseorang yang bisa di ajak berbagi. Karena bagaimanapun juga, mama kamu membutuhkan pendamping hidup. Membutuhkan seseorang yang bisa membahagiakannya. Memberikan perlindungan dan kasih sayangnya pada Tante Ranisa." Zuhra berusaha memberi nasihat untuk Citra.
Citra di buat bungkam dengan semua perkataan Zuhra. "Kamu benar Ra. Mungkin ini udah saatnya aku memberi restu agar mama bahagia.." ucap Citra.
Zuhra pun tersenyum. "Itu kamu tau. Terus kenapa tadi sampe nangis-nangis gitu. Yaudah ini udah mau maghrib, aku tinggal mandi dulu ya. kamu kalo mau mandi, di kamar mandi bawah aja. Terus nanti ke kamarku untuk ambil baju ganti." ucap Zuhra yang di angguki oleh Citra.
Setelah membersihkan diri. Zuhra pun memutuskan untuk Sholat, begitu juga dengan Citra. Kini mereka sedang duduk di depan Televisi sambil memakan kue kering.
Tiba-tiba, dering suara telfon Zuhra pun terdengar. Bertuliskan Tante Ranisa. "Mama kamu telfon Cit. Aku angkat dulu ya"
"Ra, loud speaker ya" ucap Citra, Zuhra pun menyetujuinya.
'Assalamualaikum tante'
'Citra ada di rumah Zuhra tan. Ini dia lagi nonton TV'
'Syukur deh, yasudah tante titip Citra ya, mungkin sekarang Citra masih marah sama tante. Dan dia belum siap untuk berbicara kepada tante'
'Iya tan'
Panggilan pun berakhir. Citra yang mendengar nada sedih mamanya, jadi merasa tambah bersalah.
"Aku...mungkin aku harus merestui mama untuk menikah lagi. Mama juga berhak bahagia" ucap Citra.
"Iya Cit."
__ADS_1
"Oh ya Ra. Besok kita gak ada jadwal kuliah kan ya...?" tanya Citra.
"Iya. gak ada, kenapa?" jawab Zuhra sambil memasukan satu kue ke dalam mulutnya.
"Besok aku mau dinner sama calon papa baru." jawab Citra tersenyum tipis.
"Oh gitu"
Sedangkan di sisi lain. Tepatnya di rumah Hendrik. Kini dia sedang bersitegang dengan purinya, siapa lagi jika bukan Syela.
"Tapi Syela gak mau pa. Syela udah terbiasa hidup tanpa mama." ucapnya Marah.
"Tapi...kamu mau kan, besok ketemu sama orangnya...?" tanya Hendrik. Syela tampak berpikir sejenak. "Nanti kalo kamu udah ketemu sama orangnya, pasti kamu suka." lanjut Hendrik.
"Oke. Besok ya?" tanya Syela yang di angguki oleh Hendrik.
"Yaudah. Syela ke kamar dulu" ucap Syela dengan mimik wajah yang masih terlihat kesal.
Hendrik hanya bisa menatap sendu punggung Syela. "Semoga kamu bisa merestui papa Syela." Batin Hendrik.
Setelah sampai di kamarnya, Syela langsung berhambur di tempat tidurnya. Pikirannya melayang.
"Gue pusing dengan urusan gue. Sekarang jadi tambah pusing gara-gara papa. Oh tuhan lancarkanlah otakku agar bisa memikirkan suatu rencana yang baik." batin Syela.
.
.
__ADS_1
Thanks for reading